PONOROGO — Setelah Ponorogo dihebohkan dengan meninggalnya seorang pelajar SMP Maarif bernama Miftahul Dwi Khasanah (13) yang ditabrak pelajar pengguna sepeda motor di Jalan Niken Gandini pada Senin (24/10/2016) lalu. Masyarakat pun kini beralih ke kondisi keluarga Mifta sapaan akrab Miftahul Dwi Khasanah yang tergolong tidak mampu.
Mifta tinggal di rumah petak beralaskan tanah dengan dinding anyaman bambu dan tanpa aliran listrik beserta dua kambing peliharaannya bersama ayahnya, Pujo dan adiknya Jopi. Tiap malam Mifta dan adiknya hanya tidur di ranjang bambu dan ayahnya tidur beralaskan tikar kusam di lantai. Ibu Mifta diketahui menjadi TKW di Malaysia sejak tahun 2008 namun tidak ada kabar hingga saat ini.
Usai tersiarnya kabar kondisi keluarga Mifta masyarakat pun bersama-sama mengumpulkan dana guna membantu penghidupan Pujo dan keluarga. Dana yang telah masuk tertanggal 31 Oktober 2016 baik secara langsung maupun melalui rekening Pujo totalnya mencapai Rp, 650. 121. 314, 00. dengan rincian yaitu dari pemasukan donasi langsung yang diterima keluarga saat takziah sejumlah Rp, 367 595 600, kemudian donasi via Rekening atas nama Pak Pujo (ayah Kandung Almarhumah) Rp 164 296 050, dari Jasa Raharja sejumlah Rp 25.000 000, 00, donasi dari komunitas ICWP Rp 63.727 664, dari Rumah Duafa Ponorogo Rp 26.500.000, dari PSFP sejumlah Rp 3.000.000,00.
“Total seluruhnya donasi yang masuk per-tanggal 31 Oktober 2016 adalah Rp, 650. 121. 314.,” jelas anggota komunitas Info Cegatan Wilayah Ponorogo (ICWP), Tomi Adi Kristanto kepada Cendana News, Rabu (2/11/2016).
Setelah semua dana terkumpul ternyata ada beberapa donatur yang memberikan sumbangan berupa bahan material bangunan. Seluruh sumbangan pun dikumpulkan dan baru hari ini pelaksanaan pembongkaran rumah milik Pujo dimulai.
“Hari ini baru pembongkaran, pembangunan baru besok dimulai karena kami menerima masukan dan permintaan pak Pujo ingin rumahnya seperti apa,” ujarnya.
Rencananya dana Rp 650 juta tersebut tidak serta merta digunakan untuk membangun rumah, namun juga untuk menopang biaya pendidikan adik Mifta, Jopi hingga perguruan tinggi dan biaya kehidupan sehari-hari.
Ditemui di rumah duka, Pujo mengaku antara senang dan sedih. Senang ternyata banyak masyarakat yang peduli terhadap dirinya, sedih karena kehilangan putri satu-satunya.
“Ya seneng dan sedih, sedih kehilangan anak perempuan, senang karena rumah saya dibangun,” tuturnya.
Pujo pun memiliki rencana uang tersebut tidak dihabiskan untuk membangun rumah tapi juga untuk menyumbang musholla dan masjid dekat rumahnya. Sekaligus menutup biaya pengajian Mifta anaknya.
“Kambing cuma dua itu saya juga ingin dibuatkan kandang, biar tidak jadi satu lagi, supaya kesehatan anak saya lebih baik,” imbuhnya.
Rumah keluarga Pujo berada di Jalan Batoro Katong, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan. Selain membantu membangun rumah, komunitas ICWP pun berjanji akan mendampingi keluarga Pujo untuk mendapatkan KTP dan KK Ponorogo. Karena selama ini keluarga Pujo mempunyai KK dan KTP Madiun sehingga tidak mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo.