WR.Soepratman, Nyala Api dalam Untaian Nada

KAMIS, 20 OKTOBER 2016

CATATAN JURNALIS — Penggemar musik Jazz tanah air pasti terkejut karena aliran musik ini merupakan salah satu yang menginspirasi kelahiran lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mengapa sampai musik jazz dikatakan sebagai aliran musik yang mengilhami penciptaan lagu Indonesia Raya, maka Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat memiliki rekam sejarah panjang kelahiran lagu berikut proses penciptaannya.
Tanggal 19 Maret 1903 lahir seorang bayi mungil di Desa Somongari Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dari pasangan Joemeno Kartodikromo dan Siti Senen yang diberi nama Wage Rudolf Soepratman (WR.Soepratman). Soepratman (nama panggilan WR.Soepratman) adalah anak ke-7 dari 9 (sembilan) bersaudara. 
Kakak tertua Soepratman bernama Roekijem dinikahi seorang pria Belanda sehingga pada tahun 1914 ia diboyong ke Makassar dan membawa serta Soepratman yang kala itu masih berusia 11 tahun. Di kota Makassar itulah WR.Soepratman menghabiskan masa remajanya dan mengenal aliran musik Jazz dengan biola sebagai alat musik andalannya. Bakat dan minat WR.Soepratman terhadap musik jazz saat bersekolah di Makassar dituangkan dengan membentuk sebuah grup musik jazz bernama Club Jazz Band Black and White.
Setelah menamatkan sekolah sambil terus memperdalam kemampuan bermusiknya, menginjak usia 20 tahun WR.Soepratman terpanggil untuk mengabdi sebagai seorang guru di salah satu sekolah di kota Makassar. Namun ketika merasa sudah cukup siap untuk merantau, maka WR.Soepratman berpamitan pindah ke kota Bandung dan bergabung menjadi seorang Jurnalis di sebuah surat kabar mingguan milik Abdul Moeis bernama Kaoem Kita. 
Surat kabar ini banyak mengangkat isu politik, kebijakan serta keadaan luar negeri, dan perjuangan kaum perempuan. WR.Soepratman sempat menulis sebuah buku berjudul ‘perawan desa’ yang disita sekaligus dilarang pemerintah Kolonial Belanda karena dianggap mengandung unsur pergerakan merintis kemerdekaan.

Pengalaman dan jiwa muda WR.Soepratman yang semakin tidak senang dengan keadaan bangsa yang terjajah membawanya pindah ke Jakarta. Hingga pada satu kesempatan ia membaca artikel majalah ‘Timboel’ terbitan Solo yang berisi tulisan : “Manakah komponis indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan indonesia yang dapat membangkitkan semangat rakyat?”. 

Hati Soepratman tergerak dan tertantang, hingga pada suatu malam, di tahun 1926, Soepratman menuliskan not-not lagu, lalu dengan menggunakan biola kesayangannya ia memainkan lagu yang ciptaannya tersebut.
Selama di Jakarta WR.Soepratman banyak ikut perkumpulan gerakan kepemudaan yang semuanya terpusat di gedung Indonesisch Clubgebouw atau sekarang dikenal sebagai Gedung Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya 106, Jakarta pusat. Soepratman juga hadir dan menjadi bagian dalam Kongres Pemuda pertama.
Pada 12 Agustus 1928, panitia Kongres Pemuda II terbentuk. WR.Soepratman segera menyurati panitia untuk meminta ijin menyumbangkan lagu yang disebut Soepratman sebagai lagu kebangsaan. Panitia Kongres Pemuda II menyetujui, sehingga pada malam penutupan Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928, di depan seluruh peserta kongres, WR.Soepratman membawakan lagu kebangsaan berjudul “Indonesia” dengan permainan biola setelah sebelumnya membagikan lirik lagu tersebut kepada seluruh peserta kongres. Pada November 1928, kata “Raya” ditambahkan Soepratman pada lagunya tersebut hingga akhirnya berjudul “Indonesia Raya”. 
Itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua hadirin Kongres Pemuda II terdiam karena rangkaian nada yang keluar melalui sayatan biola WR.Soepratman. Riuh dan gemuruh hadirin pecah dikala Soepratman selesai membawakan lagu ciptaannya. 
Setelah malam penuh kesan itu, maka lagu Indonesia Raya dengan cepat menjadi terkenal di kalangan pemuda pergerakan nasional. Bahkan, apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu melesat jadi simbol perwujudan rasa persatuan dan keinginan kuat untuk merdeka.
Pada tahun 1940-an, sebelum Jepang menduduki Indonesia, radio NHK hampir setiap hari mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Pemutaran lagu tersebut rupanya mendapat sambutan hangat dari seluruh rakyat sekaligus mendapatkan simpati yang begitu besar. Namun ketika Jepang mendarat dan menduduki Indonesia pada tahun 1942, lagu Indonesia Raya segera dilarang.
Setelah menderita kekalahan dimana-mana dan merasa keberadaannya sudah tidak lama lagi di Indonesia, maka Jepang membentuk panitia lagu kebangsaan yang diketuai oleh Ir.Soekarno. Panitia bekerja dengan sepenuh hati dan melakukan beberapa perubahan atas naskah asli lagu ciptaan WR.Soepratman tersebut.
Panitia menunjuk seorang konduktor internasional asal belanda bernama Jos Cleber untuk menggarap orkestra lagu Indonesia Raya. Namun Jos Cleber menyatakan sekaligus mengakui bahwa Ir.Soekarno atau akrab disapa Bung Karno banyak memberi masukan penting terhadap karya besar penulisan partitur orkestra lagu Indonesia Raya yang hingga kini terasa keagungannya.

Sejak menciptakan lagu “Indonesia Raya”, WR.Soepratman menjadi buronan nomor satu pemerintah kolonial belanda. Namun ditengah tekanan itu ia masih sempat menciptakan beberapa lagu gerakan perjuangan kemerdekaan lagi diantaranya berjudul : ‘Di Timur Matahari’, ‘Bendera Kita’, ‘Pandu Indonesia’, “Hai Ibuku’, ‘Bangunlah Hai Kawan’, ‘Mars Parindra’, ‘Mars Surjawirawan’, dan ‘Mars KBI’ (KBI adalah kumpulan perintis gerakan kepanduan/kepramukaan di indonesia).

Saat pelariannya, demi mengobarkan api semangat pergerakan kemerdekaan para pemuda pandu (pemuda pramuka) maka WR.Soepratman dengan gagah berani menghadiri acara Kepanduan di daerah Malang, Jawa timur untuk menyanyikan lagu ciptaan terakhirnya yang berjudul ‘Matahari Terbit’ pada tahun 1938. Saat itulah ia ditangkap oleh pemerintah Kolonial Belanda lalu dijebloskan ke penjara Kalisosok, Surabaya, Jawa timur. 

WR.Soepratman, sang musisi jazz, seorang jurnalis, guru, dan salah satu pejuang muda yang ikut ambil bagian dalam Kongres Pemuda pertama maupun kedua, sang maestro pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, akhirnya jatuh sakit di penjara dan meninggal pada 17 Agustus 1938 dalam usia yang masih sangat muda, 35 tahun.

WR.Soepratman belum sempat menikah maupun memiliki keturunan, namun generasi muda Indonesia baik itu musisi, jurnalis, guru, sampai seorang pramuka dapat merasakan warisan api semangat WR.Soepratman yang terus berkobar dalam untaian nada lagu Indonesia Raya hingga saat ini. Selain itu, Biola amatus 4/4 milik WR.Soepratman juga masih tersimpan dan terawat dengan baik di Museum Sumpah Pemuda Jakarta pusat. (Baca juga: Sebuah Biola Dan Fragmen Nada Yang Hilang)


Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...