

Pengalaman dan jiwa muda WR.Soepratman yang semakin tidak senang dengan keadaan bangsa yang terjajah membawanya pindah ke Jakarta. Hingga pada satu kesempatan ia membaca artikel majalah ‘Timboel’ terbitan Solo yang berisi tulisan : “Manakah komponis indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan indonesia yang dapat membangkitkan semangat rakyat?”.


Sejak menciptakan lagu “Indonesia Raya”, WR.Soepratman menjadi buronan nomor satu pemerintah kolonial belanda. Namun ditengah tekanan itu ia masih sempat menciptakan beberapa lagu gerakan perjuangan kemerdekaan lagi diantaranya berjudul : ‘Di Timur Matahari’, ‘Bendera Kita’, ‘Pandu Indonesia’, “Hai Ibuku’, ‘Bangunlah Hai Kawan’, ‘Mars Parindra’, ‘Mars Surjawirawan’, dan ‘Mars KBI’ (KBI adalah kumpulan perintis gerakan kepanduan/kepramukaan di indonesia).
WR.Soepratman, sang musisi jazz, seorang jurnalis, guru, dan salah satu pejuang muda yang ikut ambil bagian dalam Kongres Pemuda pertama maupun kedua, sang maestro pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, akhirnya jatuh sakit di penjara dan meninggal pada 17 Agustus 1938 dalam usia yang masih sangat muda, 35 tahun.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw