Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid
KAMIS, 20 OKTOBER 2016
SOLO — Ratusan Warga di dusun Kendal, Desa/kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah menggelar tradisi Wahyu Kliyu. Tradisi dengan berebut ribuan kue apem ini sebagai wujud syukur warga terhadap semua nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Salah satu sesepuh Kampung, Rukino mengatakan, upacara adat tersebut rutin digelar setiap bulan Suro penanggalan Jawa, tepatnya pada tanggal 15 bulan Suro. “Tujuannya adalah untuk memohon ridho Allah agar mendapat anugerah, kekuatan, dan jauh dari bencana maupun mala petaka,” terangnya kepada awak media, Kamis dini hari (20/10.16).
Dikatakan Rukino, prosesi adat Wahyu Kliyu ini dilaksanakan tepat tengah malam. Yakni ratusan warga Dusun membawa apem hasil buatannya sendiri. Unikny, setiap kepala keluarga membawa 344 apem, tak boleh kurang atau lebih sedikitpun. “Apem-apem itu diletakkan di pelataran rumah untuk selanjutnya didoakan,” papar Rukino.
Setelah ribuan apem terkumpul, warga mengelilingi apem tersebut untuk memanjatkan doa bersama. Setelah didoakan, apem-apem tersebut dilemparkan ke arah warga. Selama melemparkan kue apem itu, warga juga mengucapkan kata ”Wahyu Kliyu” secara berulang.
“Ini sudah turun temurun dilakukan warga. Menurut cerita, wilayah Jatipuro dulu dilanda musim paceklik, kekeringan, dan muncul berbagai macam penyakit yang menyebabkan masyarakat meninggal. Kepala Desa setempat saat itu Ki Renggo Wijoyo kemudian mengajak warganya untuk menggelar selamatan. Masing-masing keluarga membuat 344 apem untuk dikumpulkan dan didoakan. Singkat cerita, setelah itu warga sehat dan terbebas dari musim sulit tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, istilah apem berasal dari bahasa Arab, yakni afuan atau afuwwun, yang berarti ampunan. Sedangkan jumlahnya harus 344 dalam pengucapan Jawa tigo patpat bermakna orang terkena musibah yang digotong empat orang saat menuju peristirahatan. Istilah Wahyu Kliyu sendiri juga diyakini berasal dari ucapan dzikir yakni Yaa Hayyu Ya Qayyuum, yang artinya permohonan keselamatan kepada Tuhan. ”Karena yang mengucapkan orang Jawa, ejaannya berubah jadi Wahyu Kliyu,” urainya.