
Dari 82 kota IHK, 58 kota diantaranya tercatat mengalami Inflasi, sedangkan 24 kita lainnya tercatat mengalami Deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga tercatat sebesar 1,85 % dengan IHK sebesar 129,87, sedangkan Inflasi terendah terjadi di Purwokerto dan Banyuwangi masing-masing sebesar 0,02 % dengan IHK masing-masing sebesar 121,81 dan 121,84. Deflasi tertinggi terjadi di Pontianak tercatat sebesar 1,06 % dengan IHK 133,94, sedangkan Deflasi terendah terjadi di Kendari tercatat sebesar 0,01 % dengan IHK 121,65.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan beberapa indeks kelompok pengeluaran, antara lain kelompok bahan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,34 %, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,29 %, kelompok sandang sebesar 0,13 %, kelompok kesehatan 0,33 %, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,13 %, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,19 %. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami Deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,07 %.

“Tingkat Inflasi berdasarkan tahun kalender, antara bulan Januari hingga bulan September 2016 tercatat sebesar 1,97 %, sedangkan tingkat Inflasi dari tahun ke tahun atau secara Year on Year (YoY) antara bulan September 2016 terhadap bulan September 2015 tercatat sebesar 3,07 %” demikian dikatakan Suhariyanto, Kepala BPS Pusat saat jumpa pers di Kantor BPS Pusat di Jakarta, Senin (3/10/2016).
Sedangkan komponen inti pada bulan September 2016 mengalami Inflasi tercatat sebesar 0,33 %, sesangkan tingkat Inflasi komponen inti berdasarkan tahun kalender antara bulan Januari hingga bulan September 2016 tercatat sebesar 2,58 %, sedangkan tingkat inflasi komponen inti dari tahun ke tahun, antara bulan September 2016 hingga bulan September 2015 tercatat sebesar 3,21 %. (Eko Sulestyono)