MALANG — Dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kualitas serta kesejahteraan para peternak yang tak kunjung membaik, lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yakni Muhammad Hadi, Raka Kurnia N, Ardian Rifta Dhuha dan Ach Shofiuddin akhirnya sepakat untuk membuat sebuah Web Application atau Platform dengan nama ‘OFarm’.
Muhammad Hadi, CEO OFarm mengaku mendapat inspirasi saat melihat kehidupan para peternak di desanya yang berada di Banyuwangi. Disana kualitas hidup peternak tidak kunjung membaik, dari dulu hingga sekarang tidak ada peningkatan.
Menurutnya hal tersebut dikarenakan para peternak hanya beternak dalam skala kecil sedangkan permintaan pasar banyak, sehingga peternak tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar. Peternak yang ingin menambah kapasitas ternaknya juga terkendala tidak memiliki modal dan lahan yang cukup.
“Dari situ akhirnya kami mencoba membuat platform OFarm untuk membantu meningkatkan kesejahteraan peternak,”akunya.
Disebutkan, OFarm merupakan web application yang bergerak di bidang peternakan sebagai aplikasi ternak online di Indonesia dan merupakan Platform Network untuk menghubungkan investor, peternak lokal dan pemilik kandang dalam menciptakan proses bisnis baru dan modern untuk menghasilkan produk ternak yang berkualitas.
Lebih lanjut Hadi menjelaskan, dalam platformnya tersebut terdapat beberapa sistem yang dapat di pilih masyarakat yang ingin bergabung dengan OFarm, salah satunya yaitu sistem bagi hasil. Dalam sistem bagi hasil calon investor dapat memilih hewan ternak yang diinginkan dan pilihan paket yang disediakan dengan cara membuka website ofarm.co. Dari situ kemudian investor mengirimkan uang kepada pihak OFarm untuk dibelikan bibit hewan ternak, pakan dan sewa kandang.
“Paket untuk hewan ternak Ayam minimal 1,6 juta dan paling besar 16 juta Rupiah. Sedangkan untuk ternak Sapi mulai dari harga 15 juta Rupiah,”jelasnya.
Selanjutnya, bibit ternak yang telah dibeli kemudian dibesarkan oleh pihak OFarm melalui peternak yang ada di Banyuwangi dan Malang hingga beratnya sesuai dengan standar untuk dipanen.
“Para investor dapat mengontrol hewan ternaknya melalui akun secara online kapanpun dan dimanapun, karena update foto dan informasi akan dikirim secara berkala,” ujarnya.
Setelah berat ternak sesuai dengan standart untuk dipanen, kemudian ternak akan dijual ke partner OFarm maupun pasar.
“Uang dari hasil penjualan akan dibagikan kepada investor sebesar 30%, peternak 30%, pemilik kandang 30% dan 10% untuk Ofarm,”ungkapnya.
Sementara itu, Hadi mengatakan bahwa bagi calon investor yang ingin bergabung dengan OFarm tetapi tidak memiliki uang, mereka bisa memilih fitur rever all. Disini investor bisa membelinya dengan poin.
“Untuk mendapatkan poin yaitu dengan cara setelah calon investor ini mendaftar maka mereka akan mendapatkan link. Kemudian linknya tersebut bisa dibagikan melalui media sosial mereka. Jika ada orang lain yang mendaftar lewat linknya tersebut, maka investor ini akan mendapatkan poin. Dari poin yang sudah terkumpul tersebut kemudian bisa ditukarkan dengan paket investasi,” terangnya.
Ia menambahkan, OFarm sendiri sebenarnya didirikan bukan hanya untuk menyejahterakan peternak, tetapi juga untuk mengatasi berbagai macam permasalahan ketahanan pangan di Indonesia seperti harga daging yang fluktuatif serta memberadayakan peternak lokal.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq