YOGYAKARTA — Pakar orthopedi Rumah Sakit Prof. DR. R. Soeharso Surakarta, Jawa Tengah, Dr. Anung Budi Satriadi, SpOT (K), menyatakan, bayi yang lahir prematur dan sakit kuning bisa berpotensi mengalami cerebral palsy (CP). Karenanya, Anung mengingatkan, agar bayi yang lahir prematur harus lebih diperhatikan perkembangannya, agar indikasi CP bisa terdeteksi sejak dini.
Secara prinsip, kata Anung, CP adalah gangguan pertumbuhan postur tubuh dan pergerakan anggota badan seperti kaki dan tangan yang disebabkan oleh adanya kelainan atau gangguan tidak progresif pada otak yang bisa menyerang anak sejak usia di bawah 2 tahun.
“Cerebral berarti otak dan palsy artinya lumpuh. Jadi, cerebral palsy ini secara prinsip adalah otak lumpuh yang menyebabkan gangguan motorik atau pergerakan”, jelas Anung, saat ditemui usai memberikan materi talk show dalam peringatan Hari Cerebral Palsy yang digelar oleh Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) di Yogyakarta, Minggu (23/10/2016).
Anung menjelaskan, gangguan pergerakan itu meliputi cara berjalan yang tidak normal, pergerakan tangan yang kaku atau sulit digerakkan sehingga menganggu atau menghambat penyandang CP dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
Menurut Anung, tidak selalu CP akan berdampak kepada penurunan kemampuan intelektualitas. Sebaliknya, ada sebagian dari penyandang CP yang memiliki kecerdasan seperti lainnya dan mampu menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan meraih gelar Sarjana 2.
Namun demikian, Anung mengingatkan, jika gangguan motorik yang disebabkan oleh CP tidak bisa disembuhkan atau dipulihkan, serta tidak bisa dicegah jika telah terserang gangguan tersebut. Terapi fisioterapi yang biasanya diberikan hanya mampu mencegah kekakuan gerak agar tidak lebih menjadi kaku, atau pergerakan kaki dan atau tangan bisa lebih luwes. Karenanya, Anung menekankan pentingnya deteksi dini, agar memudahkan proses fisioterapi.
Dikatakan Anung, dari 300 kelahiran bayi di seluruh dunia, terdapat 1 anak mengalami CP. Adapun penyebab CP, bisa karena lahir prematur, sakit kuning atau karena kesulitan pada saat proses melahirkan akibat kekurangan oksigen.
Dengan tidak adanya langkah yang bisa dilakukan untuk pencegahan CP, Anung mengatakan, agar orangtua memberikan perhatian lebih kepada bayi yang lahir prematur dan mengamati pertumbuhan anak.
Sementara itu, dalam hal penanganan penyandang CP, kata Anung, tidak selalu akan dilakukan pembedahan otak. Melainkan lebih kepada memberikan fisioterapi dengan memberinya alat bantu yang bisa mempermudah penyandang CP untuk melakukan aktifitas sehari-hari.
Pakar fisioterapi olahraga dan kesehatan, Dr. Bambang Trisnowiyanto, S.Pd., SKM., M.Or, menambahkan, fisioterapi dilakukan untuk mengembalikan fungsional gerak penyandang CP untuk memudahkannya menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, Bambang mengingatkan, agar upaya yang dilakukan tidak hanya sekedar pada aspek kinestetik, namun jauh lebih penting adalah mengembangkan kemampuan kognitif penyandang CP.
Meski memiliki keterbatasan gerak fisik, kata Bambang, penyandang CP juga memiliki kemampuan lain di bidang matematika, seni dan sebagainya, sehingga pendidikan tetap harus diberikan.
“Meski fisioterapi penting bagi penyandang CP, namun pendidikan dan pengembangan sosialnya juga harus dilakukan, karena penyandang CP ini juga bisa berkarya, berprestasi dan berkeluarga”, pungkasnya.
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko