SUARA PEREMPUAN — Dominasi peran perempuan dalam kehidupan sehari sangat terlihat penting terutama di lingkungan pedesaan yang kental dengan dunia pertanian. Perempuan perempuan di desa yang akrab dengan dunia pertanian bahkan tak lagi mengenal dunia karier atau pekerjaan lain dam dunia pertanian sudah begitu melekat dalam kehidupan sehari hari. Kegiatan mengurus rumah tangga dilanjutkan dengan membantu sang suami di lahan pertanian menjadi pekerjaan harian lumrah yang dilakukan oleh sebagian besar wanita di salah satu kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan.
Dominasi pekerjaan perempuan dalam dunia pertanian di sekeliling Gunung Rajabasa tidak hanya terlihat dalam dunia pertanian sawah melainkan dunia perkebunan tanaman lain diantaranya tanaman kopi, lada, kakao yang sangat didominasi oleh kaum perempuan. Membantu memanen, mengolah dan melakukan proses penanganan paska panen merupakan pekerjaan harian yang lazim bagi kaum perempuan di pedesaan. Secara khusus dalam pertanian lahan sawah, peranan perempuan sudah terlihat dalam proses pengolahan lahan pertanian menggunakan cangkul hingga proses penanaman, perawatan dan penanaman. Peran perempuan di sejumlah desa di Lampung Selatan ini bahkan terlihat sangat jelas dalam upaya memajukan sektor pertanian penunjang ekonomi pedesaan.
“Perempuan di desa ini sudah umum ikut mengolah sawah dari mulai mencangkul terutama di lahan pertanian yang susah dikerjakan menggunakan alat dan mesin pertanian berupa traktor karena lahan penuh batu” ungkap Muntiah, salah satu wanita di kaki Gunung Rajabasa Lampung Selatan saat dijumpai media Cendana News, di Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa, Senin (1/8/2016)
Pasca melakukan pengolahan tanah, peranan dan fungsi perempuan belum berhenti cukup disitu melainkan masih memiliki perananan lain diantaranya memobilisasi dan mengerahkan sumber daya manusia yang ada dengan mencari tenaga tenaga kerja perempuan untuk ndaut (menyiapkan bibit padi dari persemaian), tandur (menanam bibit padi), matun (menyiangi rumput dan gulma). Setelah lahan pertanian sudah cukup siap untuk ditanami diantaranya petak petak yang telah digaris maka perempuan pemilik sawah masih bertugas mencari sekitar 4-5 orang perempuan sebagai tenaga upahan.
Tenaga upahan yang sebagian besar dikerjakan kaum perempuan tersebut juga merupakan sebuah pergeseran sistem pola kerja di wilayah Lampung yang masih menganut sistem gotong royong dengan sistem bagi hasil. Semula kaum perempuan dari masing masing keluarga yang bekerja di lahan pertanian pemilik sawah membawa misi mendapatkan bagian saat panen berupa bagi hasil saat padi di panen. Namun kebutuhan akan kecepatan dan kebutuhan hidup kaum perempuan yang semakin tinggi membuat pola upahan menjadi lebih dikenal di kalangan kaum perempuan petani pedesaan.
“Awalnya kaum perempuan melakukan penanaman padi beberapa petak yang akan dipanen dan hasilnya akan diperoleh saat panen tapi kini tidak menggunakan pola tersebut”ungkap Muntiah.
Pola yang umum dilakukan dan merupakan sistem kebijakan yang digaungkan oleh kaum perempuan tersebut bermula dari kondisi masa panen padi yang terkadang tidak menentu akibat serangan hama tanaman padi dan berimbas pada rusaknya lahan pertanian. Akibatnya saat masa panen terkadang kaum perempuan tidak memperoleh hasil maksimal meski sudah menunggu berbulan bulan apalagi kebutuhan hidup keluarga sangat banyak, kebutuhan sehari hari, anak sekolah,musim hajatan dan sumbangan.
Beberapa perempuan di Desa Kerinjing diantaranya menerapkan kebijakan “kerja terputus” dimana tidak ada keterikatan untuk memanen padi yang sudah ditanam, melainkan berdasarkan upah harian yang dibayarkan kepada kaum perempuan pekerja oleh pemilik lahan sawah. Sistem terputus tersebut secara ekonomis menguntungkan kaum perempuan pada sektor pertanian di Lampung dengan memperoleh sebesar Rp40-50ribu per hari berdasarkan luasan lahan sawah. Selama proses masa tanam pemilik sawah mempekerjakan sebanyak 5-6 pekerja perempuan sehingga pemilik sawah menyiapkan upah sebesar Rp200-300ribu belum termasuk memberi makanan dan minuman.
Upah serupa akan diberikan dalam proses masa “matun” dengan aktifitas membersihkan gulma yang masih dilakukan manual menggunakan tenaga perempuan. Upah sebesar Rp40ribu pun sudah menjadi patokan dan akan berlanjut saat masa panen padi yang bisa dikerjakan dengan sistem borongan dengan upah Rp100ribu hingga selesai atau lebih.
“Pengalaman, pembelajaran dan kebijakan tersebut rata rata didominasi oleh perempuan sebagai pengambil keputusan sementara kaum laki laki lebih banyak mengikuti karena kaum perempuan justru akan banyak berada di sawah” ungkap Salahudin salah satu pemilik sawah.
Bukan tanpa alasan sistem dan pola perempuan mengambil peranan dalam bidang pertanian, sebab kaum perempuan telah memiliki pekerjaan yang sudah dilakukan secara terus menerus. Jika pola tersebut diubah maka kaum perempuan di lingkungan pedesaan bahkan akan kehilangan mata pencaharian.
Selain bisa membantu suami, kaum perempuan yang sebagian besar tidak memiliki sawah sendiri juga pekerjaan tandur, matun menjadi pemasukan rutin harian dari beberapa pemilik sawah yang digunakan sebagai peningkatan kesejahteraan keluarga.
Perempuan di lingkungan lahan pertanian yang cukup besar jumlahnya menunjukkan daya tahan fisik yang hampir sama dengan kaum laki laki dan meski berperan sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pengatur rumah tangga, sebagai tenaga kerja sekaligus sebagai anggota masyarakat pedesaan yang menentukan kebijakan.
Meski demikian Salahudin mengakui, pergeseran kebutuhan pada bagian bagian tanaman padi pun menjadi faktor utama penggunaan tenaga kerja perempuan yang banyak dilakukan dengan sistem upahan. Saat ini banyak jerami yang sudah dijual untuk para pemilik ternak sehingga proses pemanenan lebih cepat karena jerami akan dimanfaatkan. Peranan kaum perempuan dalam mempercepat masa tanam,masa panen ikut juga mensukseskan swasembada pangan di pedesaan dalam bidang pertanian padi. Pergeseran penggunaan alat alat tradisional menjadi alat pertanian modern juga akhirnya belum mampu menggeser penggunaan tenaga kerja perempuan yang masih sangat kental dalam lingkungan masyarakat pertanian pedesaan.
Kondisi tersebut membuat kaum perempuan tak bisa dilepaskan dari peranan memajukan sektor pertanian di Lampung yang menjadi salah satu lumbung padi di Indonesia tersebut. Sambil tetap berharap pembangunan lebih menyasar kepada kaum perempuan selain bisa mencari mata pencaharian di sektor pertanian juga diberikan keterampilan khusus yang bisa meningkatkan ekonomi kaum perempuan di pedesaan berkaitan dengan sektor pertanian.(Henk Widi)