UPGK Terus Lestarikan Uwi, Tanaman Umbi Lokal Pengganti Pangan

MINGGU, 31 JULI 2016

LAMPUNG — Kebutuhan akan bahan pangan alternatif lokal berbahan baku tanaman hasil pertanian yang masih terus dikembangkan di areal perkebunan dan pekarangan terus dilakukan oleh kelompok usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. 
Kebutuhan akan produk pangan asli yang masih bisa dikembangkan dengan tanaman lain tersebut dilakukan salah satunya oleh Suyatinah, warga Dusun Sumbersari yang masih melestarikan dan menanam tanaman merambat jenis umbi yang masuk dalam genus Dioscorea. 
Suyatinah mengungkapkan mudahnya menanam tanaman ini membuat ia menanam umbi uwi yang juga menghasilkan gembili untuk ditanam di pinggir pinggir kebun tepat di bawah pohon mangga, jambu dan pohon nangka yang sekaligus digunakan sebagai pohon rambatan.
Penanaman yang cukup banyak kembali dilakukan olehnya bersama beberapa ibu ibu yang tergabung dalam kelompok UPGK yang menanam tanaman jamu diantaranya kunyit, jahe, laos, serai serta berbagai tanaman umbi diantaranya talas, ubi jalar, singkong serta tanaman lain di lahan milik desa yang bisa dimanfaatkan. Ia mengaku saat musim kemarau jenis umbi yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti beras tersebut masih bisa diperoleh bahkan bisa digunakan saat warga kesulitan mencari bahan pangan.
“Kami mendapat penyuluhan tentang sumber karbohidrat non beras dan uwi menjadi tanaman kami yang terus dikembangkan di kebun desa sekaligus tanaman alternatif pangan lain yang bisa kami budidayakan,”ungkap Suyatinah salah satu penggerak upaya penanaman umbi jenis uwi di desanya saat dikonfirmasi media Cendana News, Minggu (31/7/2016)
Ia mengaku selain menunjang upaya melakukan ketahanan pangan, melestarikan tanaman pangan lokal yang sudah mulai beralih ke konsumsi pangan beras dan makanan terus akan dilakukan oleh kaum wanita di desa tersebut. Ia bahkan mengajak wanita lain yang memiliki kebun untuk membudidayakan tanaman jenis uwi atau Dioscorea alata untuk memasyarakatkan tanaman tersebut. Hasil satu tanaman uwi pun bisa bervariasi bisa mencapai sekitar 50-100kg per tanaman dan bisa diolah menjadi bahan pangan dengan direbus atau dikeringkan menjadi tepung untuk bahan kue.
Proses budidaya umbi jenis uwi diungkapkan wanita tersebut tergolong mudah dan murah karena hanya memanfaatkan umbi uwi yang ditanam pada lubang yang telah disiapkan. Lubang yang disiapkan sebaiknya di bawah pohon yang bisa digunakan sebagai rambatan sehingga perkembangan tanaman uwi akan baik dan bisa menghasilkan umbi yang bisa dipanen setelah enam bulan.
Upaya tersebut sekaligus didukung oleh sang kepala desa setempat yang juga seorang wanita bernama Kartini. Ia mengakui, menjelang ulang tahun Desa Pasuruan pada Agustus mendatang saat memasuki usia emas,desa tersebut akan menyelenggarakan pameran kreasi produk pangan berbahan baku hasil pertanian non beras. Upaya tersebut merupakan salah satu program untuk mengurangi penggunaan beras sekaligus program atau gerakan one day no rice (satu hari tanpa nasi) yang bertujuan mengurangi konsumsi beras untuk ketahanan pangan.
Salah satu hasil pangan lokal yang telah ditinggalkan diantaranya uwi, jenis umbi yang sempat melimpah hasilnya di desa Pasuruan dan kerap diolah menjadi makanan diantaranya direbus dan diolah menjadi tepung untuk pembuatan makanan lain. Selain itu produk olahan kreasi pangan dari singkong,talas dan produk pertanian lainnya akan diperlombakan saat hari ulang tahun desa untuk kembali memperkenalkan produk pangan yang masih bisa tumbuh di desa setempat.
Kartini bahkan mengakui tanaman uwi merupakan tanaman perdu memanjat yang umbinya ada di dalam tanah dan bisa dipanen dalam kurun waktu berbeda sesuai kebutuhan sehingga bisa digunakan sebagai simpanan bahan pangan saat terjadi masa krisis pangan. Meski sudah jarang dibudidayakan namun Kartini yakin tanaman tersebut masih merupakan sumber karbohidrat yang sangat berguna bagi kesehatan.
Selain merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan, Kartini mengungkapkan umbi umbian lokal yang masih bisa dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif harus ditanam bukan karena sisi ekonomis yang diperoleh. Sebab selama ini petani lebih menyukai menanam singkong dalam jumlah besar dengan tujuan ekonomis untuk dijual sebagai bahan baku pembuatan tepung tapioka dan keripik.
“Saya selalu mengajak kaum ibu terutama ibu ibu PKK dan yang tergabung dalam UPGK agar kembali membudidayakan tanaman pangan yang bisa dijadikan alternatif pangan dan kita tidak perlu malu karena itu panganan asli nenek moyang kita,”ungkapnya.
Selain berusaha mengajak warga membudidayakan berbagai jenis pangan alternatif Kartini juga mengajak masyarakat melakukan inovasi pembuatan produk pangan pangan diantaranya pembuatan keripik pisang, keripik singkong dan roti dari tepung umbi uwi. Selain itu beberapa warga lain memanfaatkan pembuatan tempw berbahan baku benguk atau jenis kara yang diolah menjadi tempe. Tempe berbahan baku benguk menjadi salah satu makanan tradisional yang sudah jarang ditemui saat ini meski merupakan produk pangan alternatif selain tempe kedelai.
[Henk Widi]
Lihat juga...