Terkait Masuknya Kembali TKA di Morosi, IPPMIK Kendari : Kita Usir Mereka !

MINGGU, 17 JULI 2016

KENDARI—Beberapa bulan lalu masyarakat dan Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Konawe (IPPMIK-KENDARI) telah melakukan aksi blokade aktivitas pembangunan smelter di kawasan mega industri Konawe. Aksi blokade ini dilakukan terkait banyaknya tenaga kerja asing yang dipekerjakan dalam proyek tersebut, alhasil sebagian tenaga kerja asing dipulangkan di negara asalnya.
 

Muhamad Ikram Pelesa saat melakukan aksi

Namun, ternyata mobilisasi tenaga kerja asing kembali dilakukan oleh pihak PT. Virtue Dragon beberapa hari pasca Lebaran Idul Fitri, sekitar 50 orang TKA asal Tiongkok menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomer penerbangan GA 604 rute Jakarta – Kendari transit di Bandara Hasanudin Makassar dan tiba di Bandar Udara Haluoleo Kendari.

Ikram menjelaskan, setibanya di Bandara Haluoleo Kendari, mereka (tenaga kerja asing asal Tiongkok) langsung dijemput oleh kendaraan perusahaan dengan logo Virtue Dragon Nikel Industri menuju lokasi pembangunan Kawasan Mega Industri Konawe di Morosi.

Kejadian tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, salah satunya dari Muhamad Ikram Pelesa selaku Ketua Umum Ikatan pemuda pelajar Indonesia Konawe (IPPMIK Kendari).
”Sejak awal investasi tersebut sudah kami ingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa soal tenaga kerja asing itu perlu dikawal secara baik-baik. Kita tidak alergi dengan kehadiran mereka di kawasan mega industri jika sifatnya sebagai teknisi, karena mempercepat pembangunan. Namun jika kehadiran mereka mengancam kesempatan kerja masyarakat lokal. Ya, kita usir mereka!” tegasnya dalam rilis yang dikirimkan ke redaksi Cendana News pada hari Minggu (17/7/2016).
Diketahui bahwa pembangunan smelter pada kawasan mega industri Konawe tersebut dikerjakan dengan mendatangkan tekhnisi dari Tiongkok dan bukan itu saja, semua peralatan untuk pembangunannya juga berasal dari China. 
Keadaan tersebut sebenarnya sangat dimaklumi oleh masyarakat karena SDM yang belum memadai, namun saat dijumpai di lapangan ternyata banyak TKA asing yang bekerja bukan saja sebagai tekhnisi bahkan ada yang jadi buruh kasar hingga koki (juru masak).

Hal tersebut yang memunculkan protes keras dari masyarakat setempat sehingga pembangunan smelter dan pabrik feronikel tersebut dihentikan selama tiga bulan karena sama sekali tidak memberi manfaat bagi masyarakat Konawe.

Lebih lanjut Muhamad Ikram mengatakan, sejak protes masyarakat dan IPPMIK terhenti, ternyata pembangunan smelter dan pabrik feronikel secara diam-diam kembali dilaksanakan dengan tidak ada perbaikan sama sekali, semua tenaga kerja dan peralatan untuk pembangunan smelter dan pabrik feronikel itu seluruhnya dari China.

“Mereka memobilisasinya melalui kapal laut dan langsung sandar di dermaga yang dibangun oleh perusahaan. Dan parahnya lagi lokasi proyek pembangunan smelter dan pabrik feronikel lebih tertutup dengan tingkat keamanan yang amat tinggi. Nah, disini kami duga ada konspirasi atau permainan yang harus diungkap bersama,” pungkasnya. (Siddiq Muharam)

Lihat juga...