Pisang Kualitas Ekspor Jenis Cavedish Dibudidayakan di Lampung Timur

MINGGU, 31 JULI 2016

LAMPUNG —Salah satu jenis pisang terkenal dengan kualitas bagus diantaranya pisang berwarna kuning bermerek Sunpride yang dibudidayakan di Provinsi Bandar Lampung, tepatnya di perbatasan Taman Nasional Way Kambas, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur. Butuh 3 hingga 4 jam untuk sampai ke lokasi, dari Bandar Lampung atau sekitar 3 jam perjalanan dari pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. 
Dengan akses terbatas, Cendana News berkesempatan berkeliling sentra produksi pisang dan jenis buah-buahan lainnya, seperti jambu biji, nanas, pepaya, hingga buah naga tersebut. Luas perkebunan yang dikelola PT Nusantara Tropical Farm (NTF) ini mencapai 3.757,2 hektar, dimana 1.754,6 hektar dikhususnya untuk perkebunan pisang.
HRD Manager PT NTF, Oom Aulia Amrullah, sedikit menjelaskan, sejarah dari perkebunan seluas 3.757 hektar tersebut. Di awal pembangunannya, NTF bekerjasama dengan perusahaan asal Filipina, Del Monte. NTF dibangun sejak tahun 1992 yang awalnya bernama Nusantara Tropical Fruit. Kemudian tahun 2011, seiring perkembangan terjadi proses perubahan di HGU (Hak Guna Usaha) sehingga perusahaan tersebut menjadi Nusantara Tropical Farm, karena ada pengembangan penggemukan sapi di akhir tahun 2012 hingga mencapai 7.000 ekor.
Bahkan secara mendetail, perkebunan ini memang dikhususkan untuk pisang. NTF menghasilkan dua pisang berkualitas tinggi, yaitu jenis Cavendish Jepara dan Del Monte 2 (DM2). Meskipun demikian ada sejumlah buah-buahan yang juga dikembangkan oleh NTF, seperti jambu biji, nanas, buah naga, hingga pepaya. Lalu ada sejumlah buah-buahan yang juga sedang dilakukan riset atau penelitian, seperti apel, jojobe, hingga mangga.
Dari 3.757,2 hektar, alokasi lahan yang digunakan untuk perkebunan pisang seluas 1.754,6 hektar, jambu biji 152,8 hektar, nanas jenis DM2 185,4 hektar, buah naga 5,7 hektar, pepaya 10 hektar, jagung 31,7 hektar, rumput gajah 86 hektar, wax apple citra 1,3 hektar, jojobe 0,2 hektar, mangga 1,8 hektar, dan nanas jenis smooth cayene 400,5 hektar. Kemudian ada lahan untuk bangunan, dan lebung atau tampungan air seluas 1.127,3 hektar.
“Namun NTF masih memfokuskan pada pengembangan 5 buah utama, yaitu pisang, jambu biji, nanas, buah naga dan pepaya,” ungkapnya, Minggu (31/7/2016).
Saat melihat berkeliling, terlihat perkebunan ini dipenuhi oleh banyak pohon pisang, baik yang sedang berbuah dengan tertutup kertas cokelat atau masih dalam ukuran bibit. Selain itu berdasarkan pantauan Cendana News, tata pengelolaan pertanian intensif dilakukan dengan membuat beberapa embung yang berguna sebagai pemasok sumber air bagi pertanian pisang, nanas serta berbagai jenis tanaman lainnya. Selain itu penanganan dari awal masa panen hingga paska panen terlihat menggunakan tekhnik modern dengan sistem derek sehingga buah yang selesai dipanen bisa sampai ke pabrik penyortiran dalam kondisi tidak rusak.
Di bagian selatan, setiap pengunjung yang berkunjung ke perkebunan ini dapat melihat jejeran jambu biji yang buahnya ditutupi plastik bening. Pohon buah naga yang cukup besar juga tumbuh kokoh merambat di sisi sebelah barat. Sedangkan tanaman nanas dengan buahnya berwarna hijau kuning juga tumbuh di sepanjang jalan perkebunan.
Tidak hanya itu, di tempat ini juga juga bekerja setiap harinya sebanyak 5.000 tenaga kerja yang bekerja giat baik laki laki maupun wanita. Pekerja setiap harinya masuk pukul 07.00 WIB dan pulang pada pukul 15.00 WIB. Yang tidak kalah menarik adalah, melihat bagaimana proses produksi bibit pisang unggul yang tahan penyakit dan punya produktivitas panen yang cukup tinggi.
Salah satu pekerja, Sonia (34) yang bekerja menyortir buah pisang yang akan dikemas mengaku ia berasal dari wilayah Lampung Timur tepatnya di Labuhan Ratu dan bekerja di tempat tersebut sejak lima tahun lalu. Ia mengaku senang bisa bekerja di salah satu perkebunan yang merupakan andalan Kabupaten Lampng Timur tersebut. Selain menjadi mata pencaharian bagi warga sekitar, pemanfaatan lahan tersebut ikut menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat yang sebelumnya hanya bekerja sebagai petani singkong dan jagung.
Beberapa pekerja di tempat tersebut memiliki tugas berbeda beda diantaranya ada bagian yang bertugas memotong setiap sisir pisang, melakukan pencucian buah, memasukkan dalam kotak kardus khusus. Sementara pekerja lain ada yang bertugas memanen pisang yang telah dilindungi dengan kantong kertas agar tidak mengalami kerusakan. Selain menangani lahan pertanian pisang pekerja juga menangani pertanian tanaman nanas yang banyak terdapat di tempat tersebut.
Meski menghasilkan produk pertanian berkualitas ekspor, namun sebagian warga Lampung Timur mengaku tidak akan memperoleh buah dengan kualitas bagus tersebut di wilayah tersebut. Jika pun ada sebagian buah merupakan jenis buah dengan grade 2 atau sudah merupakan sortiran.
“Memang pertaniannya ada di Lampung Timur tapi tidak mudah atau malah tidak pernah merasakan buah berkualitas tersebut di pasar pasar tradisional kalaupun ada istilahnya sudah kualitas nomor sekian yang tidak masuk kualitas ekspor,”ungkap Ramdan, warga Labuhan Ratu.
Ie berharap ke depan dengan adanya pola kemitraan, beberapa warga yang tergabung dalam kelompok tani pertanian pisang dan nanas bisa juga melakukan penanaman pisang jenis tersebut dan dapat merasakan manisnya hasil pertanian jenis pisang berkualitas tersebut. Meski tinggal di dekat areal pertanian tersebut, aturan yang ketat membuat warga hanya bisa bekerja sebagai karyawan di perusahaan pertanian tersebut.
[Henk Widi]
Lihat juga...