MINGGU, 31 JULI 2016
BANDUNG — Dari banyaknya kegiatan positif, Workshop Kemandirian alias Woke adalah salah satunya. Kegiatan ini diusung oleh sekumpulan anak muda di Kota Kembang yang tergabung dalam berbagai komunitas, seperti Pemuda Peduli Kesejahteraan Sosial (PPKS), sahabat difabel, dan Gerakan Bandung Disiplin (GBD).

Sekumpulan anak muda ini getol menyelenggarakan pelatihan kepada masyarakat berkebutuhan khusus. Dalam satu bulan ada dua kegiatan yang mereka gagas, misalnya saja pelatihan membuat kerajinan tangan.
Salah satu penggagas Woke, Jana Ahmad menyampaikan, melalui kegiatan tersebut, diharapkan penyandang disabilitas akan lebih kreatif. Diantaranya dengan menciptakan produk yang nantinya bisa dijadikan ladang usaha.
“Tidak sampai bisa menciptakan produk saja, tapi ketika mereka sudah berwirausaha tetap kita akan dampingi dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Karena kan pada Woke ini siapapun boleh berpartisipasi, anak-anak maupun dewasa,” ujar Jana, di Jalan Cisitu Lama, Kota Bandung, Minggu (31/7/2016).
Dalam setiap kegiatan Woke ini selalu digelar di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Kembang. Karena memang sejauh ini gedung tersebut yang tersedia di pusat kota.
“Setiap kali kita gelar kegiatan temanya beda-beda, waktu terakhir kita gelar bertepatan dengan Hari Anak (23/7), jadi temanya juga untuk anak-anak seperti origami dan board games,” katanya.
Menurutnya, cukup banyak penyandang disabilitas yang ingin turut berpartisipasi, hanya saja aksebilitas di Kota Kembang dan sekitarnya belum menunjang sepenuhnya untuk mereka. Dikatakan untuk beberapa masyarakat berkebutuhan khusus yang berada di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi kesulitan untuk menempuh perjalanan ke GIM.
“Terkecuali yang memiliki kendaraan pribadi, tapi kan ada juga masyarakat yang memang secara ekonomi menengah ke bawah ingin ikut kegiatan kami,” bebernya.

Pihaknya tak melulu berupaya menumbuhkan kreatifitas, namun ada pula semangat ingin mensejajarkan hak penyandang disabilitas dengan masyarakat lainnya. Artinya, setelah memiliki keahlian di kegiatan Woke ini memiliki kesempatan yang sama pula dalam mendapat pekerjaan dan berwirausaha.
“Ketika sudah mampu menciptakan produk juga kita inginnya status disabilitasnya tidak di exploitasi, menjual produk tanpa embel-embel disabilitas,” pungkasnya.
[Rianto Nudiansyah]