RABU, 27 JULI 2016
PONTIANAK — Selama 15 tahun, Hasani, bekerja sebagai petani sayuran di Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Selama belasan tahun itu, lelaki berusia 45 tahun ini mengembangkan sayuran organik atau memanfaatkan sisa kotoran ayam dan tanah bakar secara rutin di tempat yang rutin untuk dijadikan pupuk.

Lahan seluas 4 hektar ini ia kembangkan. Lahan gambut itu bukan miliknya, tetapi milik orang lain. Sistemnya adalah sewa tempat lahan alias bagi hasil.
“Keuntungan dari jual sayuran ini sebulannya Rp 30 juta. Sayuran ini saya jual ke pasar yang ada di Pontianak. Bayam, kangkung cabut, sawi keriting, sawi biasa, dan seledri, itu yang saya tanam di lahan gambut ini. modal awal 5 juta pinjam tetangga” ucapnya, ditemui Cendana News Rabu, 27 Juli 2016.
Ia menuturkan, selama bertani ia tak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah setempat. Baginya, menjadi petani mandiri sejak dahulu kecil. sebab, orang tuanya juga seorang petani.
“Waktu SD saya sudah diajarkan cara menanam sayuran di lahan gambut. Ya memang sulit awalnya menanam di lahan gambut. Karena harus dikasih pupuk NPK awalnya. Setelah itu ya tidak pakai pupuk lagi. Hanya pakai pupuk sisa kotoran ayam dan tanah bakar” jelasnya.

Ia mengatakan, tanah gambut dikelolanya selama ini selalu rutin ia gemburkan dengan cara dicangkul kedalam 20 centimeter. Setelah itu, tanah yang sudah dicangkul diaduk atau dicampur sisa kotoran ayam dan tanah bakar.
“Lahan gambut ini kita petakan sepanjang 5 meter. Berdampingan berjajar. Kalau kemarau kita siram,” ujarnya.
Ia mengakui tamatan dari sebuah universtitas negeri di Kota Pontianak. Namun, jurusan atau ilmunya ketika mengambil konsentrasi Ilmu Politik tidak dipakainya. Karena, selama ini ia menggunakan cara bagaimana menanam sayuran dengan baik dan pemupukkan secara organik.
“Terkadang lucu juga saya ini. karena apa, saya inikan dulu kuliah di Fisip jurusan Ilmu Politik. Jadi, gak dipakai. Mungkin salah jurusan. Tapi, tak apalah saya belajar lagi bagaimana menanam sayuran dengan baik dan benar,” ucapnya.
Saat ini, ia sudah memiliki rumah mewah di Pontianak dari hasil bertani organiknya. Sejumlah aset atau harta lainnya pun ia miliki. Modalnya adalah keuletan dan ketekenunan.
“Bersyukur pada Yang Maha Kuasa tentunya atas apa yang kita peroleh. Jangan mengeluh. Tapi, kerja nyata,” pungkasnya.(Aceng Mukaram)