SABTU, 23 JULI 2016
SEKITAR KITA — Sugeng Hariyono warga Desa Pematangpasir Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan pencetus motor pustaka memiliki cara unik memperingati Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2016. Lelaki yang sehari hari bekerja sebagai tukang servis kendaraan roda dua dan menyempatkan waktu berkeliling meminjamkan buku menggunakan motor pustaka ini sengaja mendatangi beberapa sekolah untuk memperingati HAN. Berbeda dengan daerah lain aktifitas kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar (SD) dilakukan pagi hingga siang hari di sejumlah sekolah di Pematangpasir sebagian melakukan KBM siang hingga sore hari.

Sugeng Hariyono mengaku sudah merencanakan mengisi kegiatan HAN dengan berkeliling ke sejumlah sekolah tingkat SD diantaranya ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Muhajirin dan MI Ma’arif Pematangpasir dengan membawa sejumlah buku di atas kendaraan roda dua miliknya.
“Kalau hari biasa saya keliling menggunakan motor pustaka dengan membawa buku buku bacaan khusus anak siswa SD ke beberapa desa tapi khususu hari anak nasional saat istirahat siswa bisa membaca buku buku yang saya bawa” ungkap Sugeng Hariyono yang juga dikenal sebagai tukang tambal ban di Jalan Lintas Timur saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (23/7/2016)

Ia juga mengaku memiliki tema khusus selaku penggagas motor pustaka dalam peringatan HAN tahun ini dengan tema “Anak anak tidak sekedar butuh susu melainkan juga butuh buku” dengan menggambarkan bahwa peran orangtua tidak saja hanya memberi nutrisi bagi fisik tapi juga dalam hal rohani salah satunya dengan membaca buku. Gerakan motor pustaka yang memiliki slogan dengan tag #MembacaituGaul #RumahPustaka #MembacaLimabelasMenit #MotorPustaka tersebut menurut Sugeng diharapkan memberi semangat bagi anak anak terutama siswa sekolah mencintai budaya membaca.
Ia juga berharap dalam peringatan HAN tahun ini anak bisa lebih bisa mengeksplor jiwa anak anaknya dengan membaca buku buku yang sesuai dengan dunia dan masa tumbuh kembangnya. Selain itu dengan membaca mereka bisa melihat dunia dan dengan membaca menjadi kegiatan yg berkenambungan untuk pembentukan karakter anak. Karena baginya membaca sama pentingnya dengan minum susu. Selain itu ia mengaku prihatin dengan kondisi sosial masyarakat di lingkungan yang masih kurang memberi ruang untuk anak anak memiliki budaya literasi sesuai masa pertumbuhannya diantaranya bermain dan memiliki kesempatan untuk belajar.
“Gagasan saya diantaranya menyulap rumah bekas kandang merpati menjadi rumah baca sehingga bisa digunakan anak anak untuk membaca buku buku yang diluar buku pelajaran” ungkapnya.

Selain ke beberapa sekolah tingkat SD yang mendapat dukungan dari guru setiap SD yang dikunjungi ia juga mengaku masih terus berkeliling ke sejumlah desa yang menjadi rutenya setiap hari membawa buku untuk dibaca oleh anak anak yang ada di setiap desa. Langkah berkeliling membawa buku bacaan saat hari anak nasional menurut Sugeng sudah dikoordinasikan beberapa minggu sebelum pelaksanaan sehingga dua sekolah yang ia kunjungi telah mempersiapkan siswanya untuk meminjam dan membaca buku yang dibawa. Sebagian buku yang dibawa sebagian dipinjamkan ke siswa menggunakan kartu peminjaman dan bisa dikembalikan untuk meminjam buku yang lain saat motor pustaka kembali ke sekolah tersebut.
Ratusan buku buku berupa buku cerita fiksi anak, buku keagamaan, buku ilmu pengetahuan, buku bergambar anak anak sebagian besar disimpan di rumah pustaka yang merupakan bekas rumah kandang merpati. Sebagian besar buku merupakan sumbangan dari donatur dan bantuan dari seluruh wilayah di Indonesia oleh perseorangan dan organisasi yang peduli dengan literasi.
Selain menggalakan budaya literasi pada hari anak nasional, kepeduliannya pada dunia anak anak membuat Sugeng juga aktif mendirikan kursus komputer bagi anak kurang mampu. Rumah kursus komputer yang diadakan dibeberapa desa tersebut dilakukan secara gratis untuk menjadikan anak anak memahami dunia komputer dan internet dan bisa mengaplikasikan ilmu ilmu komputer yang bisa digunakan untuk dunia kerja.(Henk Widi)