KAMIS, 14 JULI 2016
YOGYAKARTA — Meski Ramadhan telah usai, namun pedagang buah siwalan asal Tuban, Jawa Timur, masih mencoba peruntungan dengan tetap berjualan siwalan di sejumlah kawasan di Yogyakarta. Seperti yang masih terlihat di Jalan Solo Kilometer 13, Kalasan, Sleman. Pedagang buah siwalan asal Tuban, Jawa Timur, Karnoto (39), masih sabar menunggu pembeli pada Kamis (14/7/2016).

Saat ditemui di tempatnya berjualan, Karnoto mengatakan, sejak bulan puasa kemarin ia sudah berjualan buah siwalan. Sekali datang ke Yogyakarta, Karnoto membawa 300 buah siwalan dan 200 botol legen atau tuak. Dalam sepekan, buah siwalan atau lontar itu habis terjual. Lalu, Karnoto akan kembali mengambil siwalan di Tuban, untuk menjualnya lagi ke Yogyakarta. Dengan harga Rp. 4.000 perbuah dan Rp. 8.000 perbotol untuk legen atau tuak, Karnoto mengaku bisa meraup untung cukup banyak. Sementara selama berjualan, Karnoto juga hanya tidur di pinggir jalan atau di emperan warga.
Buah siwalan, menurut Karnoto, banyak disukai karena rasanya yang manis dan berkhasiat kesehatan. Buah dagingnya kenyal, sehingga sering pula dibuat kolak atau cendol sebagai pengganti kolang-kaling. Kendati sudah tak lagi bulan puasa, katanya, namun masih banyak warga datang membeli buah siwalan. “Sekarang ini, memang sedang musim buah siwalan. Di Tuban sudah terlalu banyak, sehingga banyak yang sengaja menjualnya ke luar Tuban”, ujarnya.

Buah Siwalan atau Lontar, lanjut Karnoto, biasa tumbuh di daerah pesisir pantai utara di Tuban, Gresik, Lamongan di Jawa Timur. Dalam mitosnya, Buah Siwalan dikenalkan oleh Kanjeng Sunan Bonang. Saat itu, kata Karnoto, daun pohon siwalan atau lontar digunakan sebagai kertas. “Tapi, sekarang daun lontar lebih sering dibuat mainan”, ujar Karnoto, seraya mengimbuhkan khasiat kesehatan buah siwalan itu antara lain bisa menyembuhkan panas badan, diabetes dan lainnya. (koko)