Nilai Tukar Petani Bulan Juni 2016 Mengalami Penurunan Sebesar 0,08 %

JUMAT, 1 JULI 2016

JAKARTA — Badan Pusat Stastistik (BPS) Pusat dalam jumpa pers dengan para awak media di Kantor BPS Pusat di Jakarta  melaporkan bahwa secara nasional Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 101,47 atau mengalami penurunan sebesar 0,08 % dibandingkan NTP bulan Mei 2016.

Penurunan NTP tersebut dikarenakan indeks harga yang diterima dari petani (lt) mengalami kenaikan sebesar 0,39 %, atau lebih kecil dari kenaikan indeks harga yang dibayarkan petani (lb) yaitu sebesar 0,46 %.
Pada bulan Juni 2016, secara nasional NTP Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat mengalami kenaikan tertinggi (1,10 %) jika dibandingkan kenaikan dari provinsi lainnya. Sebaliknya Provinsi Bengkulu tercatat mengalami penurunan terbesar (2,16 %) jika dibandingkan dengan penurunan NTP provinsi lainnya.
Bulan Juni 2016 juga terjadi inflasi di pedesaan tercatat sebesar 0,59 % karena disebabkan oleh baiknya seluruh indeks kelompok penyusun IKRT terutama indeks kelompok makanan jadi.
Sementara itu Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) secara nasional pada bulan Juni 2016 tercatat sebesar 109,63 atau mengalami kenaikan sebesar 0,24 % jika dibandingkan NTUP pada bulan Mei 2016.
NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (lt) terhadap indeks harga yang dibayar petani (lb) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani di pedesaan.
NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi, semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.
Drs. Suryamin, Kepala BPS Pusat mengatakan “berdasarkan pemantauan harga-harga di pedesaan pada 33 Provinsi di Indonesia selama bulan Juni 2016, NTP secara nasional tercatat  mengalami penurunan sebesar 0,08 % jika dibandingkan dengan NTP bulan Mei 2016, yaitu dari 101,55 menjadi 101,47” katanya saat jumpa pers di kantornya, Jumat (1/7/2016).
“Penurunan NTP pada bulan Juni 2016 disebabkan karena indeks harga hasil produksi pertanian mengalami kenaikan yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian lainnya” demikian dikatakan Suryamin kepada wartawan di Jakarta.(Eko Sulestyono)
Lihat juga...