Mataram Pleret Hancur Oleh Tragedi dan Pemberontakan Trunojoyo

SABTU, 2 JULI 2016

YOGYAKARTA — Bukan tanpa sebab, jika peninggalan fisik dari zaman Mataram Islam Susuhunan Mangkurat I (1646-1677 Masehi) teramat minim. Pasalnya, di zaman itulah Kerajaan Mataram Islam runtuh akibat perang, sehingga terpaksa dipindahkan ke Kartosuro, Surakarta, Jawa Tengah. Selain hancur akibat pemberontakan Raden Trunojoyo dari Madura, Kerajaan Mataram Islam di Pleret tersebut semakin hancur lagi dengan adanya serangan kompeni Belanda.

Batu bata sisa reruntuhan Kerajaan Mataram Islam di Pleret.

Edukator Museum Sejarah Purbakala Pleret, Ganang Nur Estu, mengatakan, secara pasti peninggalan dari zaman Mataram Islam Susuhunan Mangkurat I yang masih bisa dilihat hanya dua buah umpak dan Sumur Gemuling. Sementara data sejarahnya diperoleh dari sumber tertulis seperti Babad Ing Sengkala, Babad Momana, Babad Tanah Jawa dan beberapa catatan Belanda serta Kronik-kronik Mataram lainnya.

Dari berbagai sumber itu, kata Ganang, diketahui jika Kerajaan Mataram Islam di Pleret itu hancur akibat pemberontakan Raden Trunojoyo. Namun, jauh sebelum terjadi pemberontakan itu, zaman pemerintahan Mangkurat I dalam berbagai sumber tertulis disebutkan sebagai zaman penuh tragedi. Pada zaman Mangkurat I itu, pernah terjadi pembantaian terhadap ribuan ulama keraton yang dilakukan atas perintah Raja Mangkurat I.
Fragmen meriam kuno di Pleret
Sebagaimana disebutkan dalam Babad Ing Sengkala, di awal pemerintahan Raja Mangkurat I tersebut Mataram seperti berada di abad kegelapan. Tragedi berdarah terjadi silih berganti. Mangkurat I disebutkan membunuh siapa pun yang dianggap bisa mengancam tahtanya. Termasuk para kerabat kerajaan sendiri, di antaranya Tumenggung Wiroguno dan Pangeran Alit yang merupakan saudara tua Mangkurat I. Semua itu, kata Ganang, terjadi ketika Keraton Mataram masih berada di Desa Kerta, yang berjarak sekitar 1 Kilometer dari museum atau Situs Kedaton.
Setelah satu tahun bertahta, Mangkurat I baru memindahkan istana ke tempat yang sekarang ini menjadi Museum Sejarah Purbakala Pleret. Namun, pembunuhan demi pembunuhan terus saja terjadi. Pada tanggal 21 Februari 1659 Masehi, Mangkurat I disebutkan memerintahkan pembunuhan terhadap Pangeran Pekik beserta keluarganya, yang juga masih kerabat dekatnya sendiri. Pemerintahan Mangkurat I yang penuh tragedi itu, menimbulkan permusuhan di kalangan para pangeran. Kecuali itu, juga berakibat kepada lepasnya Kerajaan-kerajaan bawahan Mataram yang susah-payah dibangun oleh Raja-raja Mataram Islam sejak zaman Panembahan Senopati. Dan, pada akhirnya pemberontakan pun tak terhindarkan.
Umpak dari batu andesit peninggalan zaman Mataram Islam di Pleret
Dalam Babad Ing Sengkala disebutkan pemberontakan itu terjadi pada tahun 1675 Masehi. Raden Trunojoyo, putra pangeran Raja Cakraningrat di Madura bersengkongkol dengan orang-orang Mataram. Lalu, pada bulan April 1677 Masehi, pemberontakan Raden Trunojoyo itu semakin menghebat. Pasukan Trunojoyo bersekutu dengan Raden Kajoran, menyerbu Istana Mataram di Kedaton. Perang besar berkobar, dan Istana Mataram porak-poranda. Mangkurat I terdesak, dan melarikan diri ke ke arah barat hingga disebutkan wafat pada 10 Juli 1677 Masehi di Wanayasa, Banyumas, Jawa Tengah.
Sebelum meninggal, Mangkurat I sempat mengangkat putranya Pangeran Adipati Anom sebagai raja pengganti. Lalu, dengan dukungan Belanda, Pangeran Adipati Anom yang kemudian bergelar Susuhunan Mangkurat II berhasil menumpas para pemberontak. Lalu, Mangkurat II memindahkan pusat kerajaannya ke Kartosuro, Jawa Tengah. Praktis, dengan perpindahan itu, maka Istana Mataram di Pleret dibiarkan menjadi puing. Dan, puing-puing bangunannya dari waktu ke waktu semakin hancur dan lenyap, karena beberapa peristiwa lain yang terjadi kemudian.
Sisa bangunan Keraton Mataram di Pleret, kata Ganang, diduga lenyap akibat peperangan yang terjadi lagi di lokasi tersebut. Sebuah fragmen atau serpihan meriam kuno yang ditemukan di kawasan itu menunjukkan pernah terjadi pertempuran dahsyat. Selain itu, menurut Ganang, lenyapnya sisa bangunan Keraton Mataram di Pleret juga dimungkinkan karena pembangunan pabrik gula oleh Belanda, yang memanfaatkan batu bata bekas reruntuhan Kerajaan Mataram di Pleret tersebut. (koko)
Lihat juga...