SABTU, 23 JULI 2016
MALANG — Untuk kesekian kalinya Festival Kampoeng Tjelaket kembali di gelar mulai hari ini Sabtu 23 Juli hingga esok hari Minggu 24 Juli 2016. Bertempat di Sasana Kridha Budaya Jalan Tretes Selatan Kelurahan Rampal Celaket kota Malang, festival tahunan ini akan di ramaikan oleh berbagai pertunjukkan kesenian daerah.

Salah satu panitia pendamping kegiatan, Priyo Sunanto atau yang akrab disapa Mbah Priyo ini menjelaskan bahwa festival Kampoeng Tjelaket merupakan festival seni dan budaya dalam rangka memeriahkan kembali budaya-budaya yang sekarang sudah mulai di tinggalkan.
“Terus terang saja bangsa Indonesia itu kelebihannya terletak pada seni dan budayanya,”jelasnya.
Menurutnya, Festival Kampoeng Tjelaket juga merupakan hari raya kebudayaan dari masing-masing daerah dengan harapan masyarakat dapat memiliki hari kebudayaan untuk melestarikan seni dan budayanya,ungkapnya.
Lebih lanjut ia mengaatakan, karena tema yang di ambil adalah “Kampung sinau budaya dari lokal menuju global”, oleh karena itu dalam festival ini mereka menyediakan wahana serta ruang untuk sinau (belajar) bagi para pengunjung diantaranya yaitu pegenalan bahasa, budaya serta seni-seni daerah yang selama ini sudah banyak di tinggalkan oleh masyarakat kota seperti seni ketoprak yang mengangkat sejarah kampung Celaket.

Disebutkan, dalam festival Kampoeng Tjelaket kali ini menampilkan berbagai kesenian diantaranya jaranan, beskalan putra dan tari topeng, sendra tari kidung sang liswa ketoprak, wayang kulit dan fashion show udeng malangan. Selain itu di tempat ini pengunjung juga bisa belajar pembuatan wayang kulit dan Topeng Malangan.
“Kami sengaja mengangkat budaya lokal yang selama ini oleh masyarakat di anggap tidak penting. Melalui festival ini kami beri kesadaran kepada masyarakat agar mereka mengerti bahwa seni dan budaya itu penting untuk di lestarikan,” urainya.
Sementara itu menurut Mba Priyo, selain gelaran festival, di kampung ini setiap hari minggu juga diadakan pembelajaran bermain kerawitan bernama Sanggar Arem Ker yang di ikuti anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Di tempat ini juga di bentuk Taruna Laras yang berisi dalang-dalang muda dan permainan tradisional seperti egrang, dakon dan gasing juga tetap di lestarikan di kampung ini,”pungkasnya.(Agus Nurchaliq)