SABTU, 2 JULI 2016
YOGYAKARTA — Beragam makanan olahan berbahan jamur kuping memang sudah banyak ditemui di banyak daerah. Namun, selama ini bagian batang jamur kuping hanya dibuang begitu saja sebagai limbah. Padahal, batang jamur kuping itu ternyata mampu diolah menjadi menu makanan khas yang disebut Kamhyong dan lezat rasanya.

Selain mengkreasikan wedhang gedhang menjadi minuman khas pegunungan Merapi, Teko juga membuat beragam olahan makanan berbahan jamur tiram dan jamur kuping. Namun dari sekian ragam olahan jamur yang selama ini ada, belum pernah ada yang dibuat dengan memanfaatkan batang bagian bawah dari jamur kuping.
Teko mengatakan, kamhyong diolah dengan merebusnya bersama ramuan rempah-rempah jawa, lalu digoreng menggunakan tepung. Setelah masak, diolah kembali dengan memberinya kuah dan daun kari. Dengan proses demikian, batang jamur kuping yang selama ini dibuang sebagai limbah bisa menjadi menu makan yang lezat. “Bahkan, banyak orang tidak menyangka kalau kamhyong itu dari bahan batang jamur kuping. Mereka mengira dari daging”, kata Teko.

Selain menu kamhyong sebagai menu khas berbahan jamur, Teko juga membuat beragam menu lain berbahan jamur seperti sup kuping, cap cay, nenstum, tom yam, tongseng, sate dan sebagainya. Dengan harga terjangaku setiap porsi hanya Rp. 10.000, Teko ingin membuat berbagai masakan jamur dan wedhang gedhang sebagai kuliner khas obyek wisata Gunung Merapi. “Jadi, kalau selama ini wisatawan hanya melihat gunung dan bekas erupsi Merapi tahun 2010, dengan adanya kuliner ini wisatawan juga bisa menjadi tahu potensi yang ada di dusun-dusun lereng Gunung Merapi ini”, pungkas Teko. (koko)