SABTU, 2 JULI 2016
YOGYAKARTA — Museum Sejarah Purbakala Pleret di Dusun Kedaton, Pleret, Bantul, dibangun di atas lahan yang merupakan bekas atau petilasan Kerajaan Mataram Islam di zaman Raja Susuhunan Mangkurat I di tahun 1646-1677 Masehi. Melalui berbagai benda purbakala dan sejumlah naskah kuno seperti babad yang ada di museum itu, generasi sekarang bisa lebih mendalami perkembangan peradaban Islam sejak zaman Mataram.
![]() |
| Ganang Nur Estu, Edukator Museum Pleret |
Sebelum dibangun museum, lokasi yang kini telah dibangun Museum Sejarah Purbakala Pleret itu awalnya disebut Situs Kedaton. Pasalnya, lokasi tersebut berada di Dusun Kedaton, dan kedaton yang berarti keraton atau istana itu digunakan sebagai nama dusun karena dusun itu memang merupakan bekas Istana Kerajaan Mataram Islam. Lalu, dari beberapa kali ekskavasi yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY, ditemukan sejumlah bagian dari reruntuhan bangunan keraton, juga beberapa benda purbakala lainnya seperti guci, gerabah dan sebagainya. Beberapa penemuan itu semakin menguatkan dugaan jika Dusun Kedaton di Pleret, Bantul, itu merupakan bekas istana Kerajaan Mataram Islam di zaman Sunan Mangkurat I.
Edukator Museum Sejarah Purbakala Pleret, Ganang Nur Estu, menjelaskan, museum tersebut memiliki sejumlah koleksi peninggalan yang mayoritas berbahan batu andesit, seperti umpak atau batu alas tiang saka sebuah bangunan. Umpak tersebut merupakan bekas umpak bangunan Kerajaan Mataram di zaman Susuhunan Mangkurat I. Selain batu umpak, di museum tersebut juga menyimpan sejumlah arca kuno dan berbagai bentuk gerabah dan guci serta peralatan dapur zaman dahulu. Namun demikian, beberapa peninggalan yang tersimpan di museum itu, menurut Ganang, tidak semuanya merupakan peninggalan dari zaman Mataram Islam Mangkurat I. Namun, sebagian merupakan peninggalan dari zaman Mataram Hindu Kuno.
![]() |
| Museum Sejarah Purbakala Pleret di Bantul, Yogyakarta |
“Sejauh ini, peninggalan dari Mataram Islam Mangkurat I hanya dua buah batu umpak saja, dan beberapa bekas pondasi bangunan keraton yang dengan berbagai pertimbangan masih dibiarkan terpendam tanah. Namun, ada satu peninggalan dari zaman Mataram Islam Mangkurat I yang masih berfungsi dan paling monumental, yaitu Sumur Gemuling”, jelas Ganang, Sabtu (2/7/2016).
Ganang mengatakan, peninggalan zaman Mataram Islam Mangkurat I memang sangat minim. Menurutnya, hal itu karena situasi di zaman Mangkurat I yang banyak terjadi peristiwa besar, yang berdampak kepada hancurnya bangunan dan benda-benda fisik dari zaman itu. Seperti diketahui, kata Ganang, di lokasi itulah dahulu Mataram Islam mengalami kehancuran dengan adanya pemberontakan Raden Trunojoyo dari Madura, yang memaksa Susuhunan Mangkurat I melarikan diri dan wafat di Tegal Arum, Banyumas, Jawa Tengah.
Situs Kedaton diekskavasi sebanyak tiga kali sejak tahun 2009, 2012 dan 2013. Temuan artefaktual mayoritas berbentuk wadah berbahan gerabah dan keramik kualitas bagus. Dengan temuan itu, kata Ganang, Situs Kedaton juga diperkirakan merupakan situs pemukiman dengan masyarakat pendukungnya berstrata menengah atas, tertata dan teratur. Temuan data monumental yang ditemukan di Situs Kedaton seperti bekas bangunan Cepuri, Keben, Bangsal Suronatan dan Bangsal Srimanganti, juga semakin menguatkan dugaan jika Kedaton merupakan bekas Istana Kerajaan Mataram Islam.
![]() |
| Sumur Gemuling peninggalan zaman Mangkurat I |
Selain itu, lanjut Ganang, bukti lain yang sangat jelas adalah toponim nama-nama dusun di sekitarnya yang menggunakan nama-nama bagian dari sebuah komplek kerajaan. Di antaranya nama Dusun Kauman, Keputren, Pamutihan, Segoroyoso dan banyak lagi. Bahkan, kata Ganang, tembok asli dari zaman Mangkurat I masih ada di Komplek Masjid Kauman, Pleret. “Masjid Kauman di Pleret itu juga diyakini sebagai masjid agung di zaman Mangkurat I”, kata Ganang.
Sementara itu, peninggalan paling monumental berupa Sumur Gemuling, dijelaskan dalam sebuah peta kuna Keraton Pleret, bahwa Sumur Gemuling itu berada di utara komplek keraton dan di barat komplek Masjid Suronoto yang kini sudah tak ada bekasnya dan menjadi sebuah kawasan yang disebut Kebon Suronatan. Konon, kata Ganang, sumur itu terhubung sampai ke Laut Selatan. Pada zamannya, kata Ganang, air sumur tersebut digunakan untuk menyucikan pusaka keraton. “Karenanya, bagi masyarakat Jawa, air sumur gemuling itu dianggap keramat”, pungkasnya.
Museum Sejarah Purbakala Pleret, juga menyimpan berbagai benda temuan kuno di zaman sesudah Mangkurat I, yang keberadaannya semakin menjelaskan sebab dari minimnya peninggalan fisik Kerajaan Mataram Islam Mangkurat I. Misalnya, fragmen atau serpihan meriam kuno, yang menjadi petunjuk pernah adanya perang besar yang menghancurkan kerajaan perwaris peradaban Islam Jawa-Nusantara, Wali Songo. (koko)

