SABTU, 30 JULI 2016
MAUMERE — Gapoktan Wa Wua desa Langir kecamatan Kangae semenjak tahun 2014 mulai melakukan terobosan dengan mengemas pangan lokal. Puluhan produk makanan dan minuman berbahan dasar pangan lokal diproduksi dan dikemas dalam kemasan plastik dan botol. Beberapa produknya mulai akrab dan dikonsumsi masyarakat Sikka bahkan turis mancanegara.

“Kita peduli dengan keadaan petani kita,selama ini kita menganggap pangan lokal kita tidak berkelas padahal pangan lokal bila dikemas dan dioalah dengan baik banyak yang akan mengkonsumsinya,”sebut Igantius Iking saat ditemui Cendana News di desa Langir, Sabtu (30/7/2016).
Dikatakan Iking sapaannya, produk pangan lokal yang dikemas sesuai harapan masyarakat dimana bergizi, berimbang, sehat dan aman dikonsumsi.
Iking menyebutka,n Gapoktan Wa Wua ingin menunjukan kepada petani bahwa apa yang dimiliki petani adalah sesuatu yang sangat berharga.
Dijelaskan penyuluh kelompok tani teladan ini, sasaran produk pangan lokal awalnya banyak yang tidak berminat tapi setelah dikemas, dilakukan sosialisasi, pelatihan serta pemahaman kepada petani pemahaman pun muncul.
“Untuk produk kemasan kami baru 2 tahun belakangan dan pemerintah melihatnya sehingga diberikan dukungan bagi Gapoktan kami,” jelasnya.
Sampai saat ini, jumlah kelompok tani yang tergabung di Gapoktan Wa Wua yakni 16 kelompok tani dengan jumlah anggotanya sekitar 300 orang. Produk gapoktan ini awalnya dipasarkan di galeri seni budaya milik Pemda Sikka namun tidak laku sehingga dititipkan di kantin bandara Frans Seda.
“Ini adalah sesuatu yang harus kita angkat dari apa yang kita punya dan kita ingin tunjukan pangan lokal bisa bersaing dengan produk makanan kemasan produksi pabrikan,” tegasnya.
Dalam mengelola pangan lokal kemasan, pihaknya unit pengolahan tiwul instan dan beras instan mengalami kendala berkaitan dengan sarana produksi. Persoalan ini sudah disampaikan ke pemerintah dan dijanjikan akan dibantu tahun 2016 jika dananaya tersedia.

Lumbung Pangan
Produk kemasan pangan lokal Gapoktan Wa Wua beragam, dari bahan baku jagung ada beras instan, mie jagung dan susu jagung. Dari ubi kayu ada tiwul, tepung ubi kayu, burger dan kue lapis lainnya. Berbahan baku Rosela ada teh Rosela, sirup dan selai. Sementara itu dari kelapa ada minuman isotonik, manisan kelapa, krupuk dan lainnya. Bahan baku pisang ada keripik pisang dan juga produk lainnya berbahan baku kacang tanah.
“Kemasannya ada plastik dan botol. Kami setiap saat melakukan produksi kecuali Rosela hanya pada saat musimnya saja,” papar Iking.
Produk pangan lokal ini juga dipasarkan di kantor-kantor dan setiap ada pertemuan selalu dipromosikan dan disampaikan kepeserta beserta manfaatnya. Dengan adanya produksi dan kemasan semua kelompok tani kata Iking berlomba-lomba mengembangkan produknya.
Tahun depan lanjutnya, pihaknya akan mendapatkan lumbung pangan dan semua hasil petani akan dimasukan ke dalamnya dan setiap hasil dari petani akan diolah. Saat masyarakat kekurangan pangan pangan lokal ini akan dikeluarkan dari limbung agar bisa dikonsumsi masyarakat.
Kurangi Konsumsi Beras
Iking dengan bersemangat menjelaskan Gapoktan Wa Wua sudah bekerja sama dengan kampus Undana menilai kandungan gizi dari produk kelompoknya serta sudah memiliki ijin industri. Selain itu, dari dinas kesehatan juga ada ijinnya sementara label halalnya masih diusahakan.
Iking berharap petani harus membangun ketahanan pangan sendiri dan tidak boleh bergantung kepada pihak luar. Petani harus konsumsi dari apa yang dimiliki. Petani bisa kembangkan, apa yang ditanam dan dikemas.
“Nilai ekonominya sangat tinggi, lebih baik kita konsumsi apa yang kita miliki,” pinta penyuluh pertanian ini.
Yohanes Jonter ketua Gapoktan Wa Wua desa Langir kecamatan Kangae kepada Cendana News mengakui, pangan lokal dikelola agar bisa menjadi pengganti beras. Dengan demikian, ketergantungan kepada beras semakin berkurang.
Dikatakan Jonter, pemerintah juga membantu pengadaan mesin pengolah produk pangan lokal. Dari semua produk kemasan, pangan lokal berbahan baku jagung paling laku. Sementara itu, teh Rosela banyak dibeli orang asing.
Masyarakat juga sudah mulai suka dengan Tiwul karena pihaknya melakukan demontrasikan besar-besaran sehingga petani sudah mulai mengkonsuminya. Setiap ada event atau kegiatan, produk pangan lokal Wa Wua selalu di promosikan.
“Pemerintah dan masyarakat kita harus mencintai pangan lokal kita dengan mengkonsumsinya sehingga ketergantungan pada beras semakin berkurang,” pungkasnya.
[Ebed De Rosary]