KAMIS, 28 JULI 2016
SOLO — Detik-detik terakhir pelaksanaan eksekusi terpidana mati kasus narkoba Mery Utami di Lapas Nusakambangan, masih menjadi harapan tersendiri bagi keluarganya. Salah satunya Siswandi, ayah dari Meri Utami yang berharap ada mukjizat dan grasi dari pemerintah sehingga anaknya bisa bebas atau diperingan hukumannya menjadi seumur hidup.

“Saya berharap pemerintah mau member grasi kepada anak saya. Dengan pertimbangan selama 15 tahun di penjara tentunya ada pertimbangan khusus dari pemerintah,” ujar Siswandi saat ditemui Cendana News, Kamis sore (28/7/16).
Diungkapkan Siswandi, adanya kabar mengenai eksekusi mati putranya tersebut cukup disayangkan. Sebab, siswandi mengaku tidak diberitahu jauh-jauh hari dari pemerintah. Bahkan, dirinya hanya mengetahui kabar akan adanya eksekusi itu dari kabar media massa.

“Sebenarnya jika jauh hari kita diberi tahu bisa persiapan, minimal ada pihak keluarga yang membesuk” papar pria yang tinggal seorang diri di Rusunawa Semanggi, Pasar Kliwon, Solo.
Diakui Siswandi, jika kondisi kesehatannya saat ini tengah buruk karena mengalami sakit stroke. Meski demikian, pihaknya sangat berharap dapat berjumpa Mery sebelum dieksekusi oleh pemerintah.
“Keinginan saya ingin melihat dulu anak saya, tapi kondisi saya saat ini tidak kuat,” imbuhnya.

Adanya kabar Mery akan dieksukusi, Siswandi mengaku shok. Terlebih dari sekitar banyak saudaraanya juga tidak ada yang memberitahukan kabar tersebut dan mau membesuk di Nusakambangan. Terkahir kali, Siswandi berkomunikasi dengan Mery pada Lebaran tahun ini.
“Terakhir saya ngobrol dengan Mery lebaran kemarin. Seperti tahun –tahun sebelumnya, setiap lebaran Ia (Mery) selalu telphon dan meminta maaf kepada orang tua,” kenangnya.
Ditandaskan pria yang sudah belasan tahun menjadi Linmas di Solo ini, ia sangat berharap Presiden Joko Widodo memberikan grasi kepada anaknya. Pemerintah diminta untuk mempertimbangan hukuman penjara yang selama ini telah dijalani oleh Mery.

“15 tahun bukan waktu yang singkat, setidaknya pemerintah dapat mempertimbangkan masa hukuman anak saya, karena selama ini di penjara juga berkelakuan baik,” tambahnya.
Meski begitu masih berharap grasi dari pemerintah, Siswandi mengaku pasrah dengan apa yang terjadi dengan putra ketiganya tersebut. Pria yang sudah lebih dari 70 tahun ini juga belum tahu dimana anaknya tersebut akan dimakamkan jika benar dieksekusi.
“Apakah akan dimakamkan di sekitar Solo, atau di Madiun tempat tinggal anak Merry saya belum tahu. Yang jelas saya minta kalau bisa di makamkan di luar Nusakambangan, agar suatu saat keluarga atau saya bisa berziarah,”pungkas Siswandi. (Harun Alrosid)