Berbau Separatis, Alasan Polisi Tak Izinkan Unjuk Rasa AMP di Yogyakarta

SELASA, 19 JULI 2016

YOGYAKARTA — Terkait banyaknya kabar tentang pengamanan rencana aksi unjuk rasa mahasiswa Papua di Yogyakarta pada 14-15 Juli 2016 kemarin, Kepolisian Daerah DI Yogyakarta menyatakan, jika dalam pengamanan itu tidak ada kerusuhan yang terjadi. Pihaknya hanya melakukan penjagaan agar massa Papua yang hendak unjuk rasa tidak keluar dari asrama, karena aksi tersebut disinyalir berbau separatis.

Kika: AKBP Tommy Wibisono, Kombes Pol Bambang Pristiwanto, AKBP Anny Pudjiastuti
Dalam keterangan persnya di Kantor Kepolisian Resort Kota Yogyakarta, Selasa (19/7/2016), Kepala Kepolisian Daerah DI Yogyakarta, Brigadir Jenderal Polisi Prasta Wahyu Hidayat, melalui Karo Ops Polda DIY, Komisaris Besar Polisi Bambang Pristiwanto menyatakan, pihaknya memang tidak memberikan izin kepada Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang hendak berunjuk rasa, karena disinyalir berbau gerakan separatis. Polda DIY sebagai penanggungjawab wilayah, tegas Bambang, mengamankan tujuan AMP jika dalam aksinya berbau separatis Papua Merdeka. 
“Termasuk rencana longmarch atau orasi memperlihatkan bintang kejora yang rencananya akan dilakukan di Titik Nol Kilometer”, ujarnya.
Dalam pengamanan yang dilakukan oleh Polresta Yogyakarta dan didukung oleh Polda DIY, pihaknya menahan massa Papua yang hendak memaksa keluar dari asrama sehingga sempat terjadi sedikit ketegangan. Petugas, kata Bambang, saat itu hanya membolehkan unjuk rasa dilakukan di dalam asrama. 
Bambang yang didampingi Kepala Bidang Humas Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Polisi Anny Pudjiastuti dan Kepala Kepolisian Resort Kota Yogyakarta, Ajun Komisaris Besar Polisi Tommy Wibisono, juga mengatakan jika ketegangan itu menimbulkan insiden kecil, yaitu pemukulan oleh massa terhadap salah satu petugas polisi. Namun, Bambang mengatakan, jika pelaku pemukulan yang saat kejadian langsung diamankan tidak dilakukan penahanan, melainkan hanya wajib lapor, karena ada yang menjamin.
Sementara itu, terkait beredarnya gambar-gambar di media sosial seperti seorang pendemo yang diinjak kepalanya, atau pendemo yang hidungnya ditarik, ditegaskan Kapolresta Yogyakarta, KOMBES POL Tommy Wibisono, sebagai hoax (tidak benar). 
“Pada intinya, gambaran yang menunjukkan kerusuhan atau Yogyakarta tidak aman itu semua hoax”, tegasnya.
Rencana aksi unjuk rasa mahasiswa Papua di Asrama Mahasiswa Kamasan I Yogyakarta, disinyalir berbau separatis. Namun dalam rencana aksi unjuk rasa tersebut, Bambang mengatakan, jika pihaknya belum menemukan adanya bendera atau atribut bintang kejora. Kecuali, beberapa benda berbahaya seperti beberapa anak panah dan pentungan yang menurutnya kini sudah diserahkan ke bagian Reserse Kriminal Umum Polda DIY. (koko)
Lihat juga...