Arus Mudik Meningkat Jasa Tambal Ban dan Parkir Menjamur di Jalinsum

JUMAT, 1 JULI 2016

LAMPUNG — Memasuki H minus lima (H-5) lebaran Idul Fitri arus penumpang pengguna kendaraan roda dua berasal dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera mulai menunjukkan peningkatan di Pelabuhan Bakauheni Lampung. Kendaraan pribadi dan roda dua mendominasi sepanjang jalur mudik seperti Jalan Lintas Tengah Sumatera (Jalinsum) dan Jalan Lintas Barat.
Tingginya volume kendaraan di Jalinsum tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk mengais rejeki di tengah eforia kearifan lokal masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halamannya. Sebagian masyarakat yang memanfaatkan arus mudik tersebut diantaranya pedagang makanan dan minuman ringan dadakan dengan membuat tenda di pinggir jalan. 
Selain pedagang dadakan, puluhan tukang tambal ban yang melihat peluang banyaknya pemudik pengguna kendaraan bermotor pun menjamur. Beberapa tempat peristirahatan (rest area) dadakan di sepanjang jalur mudik diantaranya di beberapa SPBU bahkan memunculkan jasa tukang parkir.
Salah satu pedagang dadakan di ruas Jalinsum KM 01 Bakauheni,Hutabarat (40) mengaku sang isteri dan anaknya sengaja mendirikan warung tenda untuk berdagang makanan dan minuman ringan. Meski menggunakan bangunan sederhana dari bambu dan papan, ia mempersiapkan barang dagangan sejak arus mudik mulai ramai dari H minus sembilan lebaran.
“Kesempatan arus mudik ini sangat menguntungkan bagi kami dengan bisa berjualan makanan dan minuman serta menyiapkan fasilitas jasa tambah angin dan tambal ban,”ungkap Hutabarat saat ditemui Cendana News di ruas Jalinsum KM 01, Jumat (1/7/2016)
Bermodalkan genset, kompresor serta peralatan tambal ban, Hutabarat menjadikan warung dadakan yang dibuatnya untuk berjualan sekaligus tempat menawarkan jasa tambah angin, tambal ban serta tubbles. Selama beberapa hari beroperasi ia mengaku pengguna jasanya cukup banyak terutama lokasi strategis yang dipilihnya berada di dekat stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan pertemuan antara Jalan Lintas Timur dan Jalan Lintas Tengah Sumatera.
Meningkatnya volume kendaraan yang berasal dari sejumlah kota di Lampung yang akan menyeberang ke Pulau Jawa dengan dominasi pemudik pengguna kendaraan roda dua sebagian besar memanfaatkan waktu istirahat di sekitar SPBU untuk mengisi bahan bakar umum (BBM), memeriksa kondisi kendaraan bahkan sebagian diantaranya menambah angin dan menambal ban.
“Selain jasa tambah angin dan sejenisnya kita juga siap sedia melakukan servis atau perbaikan kendaraan yang bermasalah selama arus mudik dan menyiapkan onderdil serta fasilitas lain diantaranya ban baru serta peralatan lain,”ungkap Hutabarat.
Selama beberapa hari menyediakan jasa tambah angin dan tambal ban, ia yang menjadi satu di antara penyedia jasa tambah angin dan tambal ban mampu mengumpulkan uang hingga ratusan ribu rupiah. Sekali menambah angin ia mengaku mematok harga Rp3.000 hingga Rp5.000 sementara untuk proses menambal ban akibat bocor atau ganti ban baru ia mematok harga Rp10.000 hingga Rp15.000 tergantung tingkat kesulitan.
Selain Hutabarat dan sang isteri yang berjualan makanan dan minuman ringan sekaligus jasa tambah angin dan tambal ban, beberapa pihak yang mencari peruntungan selama arus mudik diantaranya jasa parkir dadakan. Meski terbilang bukan tempat parkir namun sejumlah rest area di SPBU dan sejumlah rumah makan mulai dipenuhi dengan petugas parkir dadakan.
Soni, salah satu juru parkir di rumah makan Simpang Raya mengaku melakukan pekerjaan tersebut hanya saat arus mudik dan balik setiap tahun. Meski telah memiliki tenaga kerja securiti namun jasa juru parkir dadakan dengan meyediakan jasa mengarahkan dan mengatur kendaraan yang akan keluar dari area parkir sangat diperlukan.
“Kita tidak pernah mematok jasa kita tapi terserah kebaikan pemilik kendaraan yang memberi kepada kita saat mengatur lalu lintas sebelum masuk atau keluar melalui jalinsum,”ungkap Soni.
Jasa parkir yang disiapkan oleh Soni dilakukan oleh beberapa orang sehingga diberlakukan sistem bagi hasil olehnya bersama kawan kawan yang berjaga di area parkir. Selama arus mudik bersama empat kawannya ia mengaku masih bisa membawa pulang sebesar Rp75ribu perorang. Meski mendapat penghasilan dadakan dan tak bisa ditentukan ia mengaku jasa keamanan dan menjadi juru parkir cukup membantu dirinya yang sehari hari hanya bekerja sebagai buruh bangunan.
Pekerjaan sebagai juru parkir tersebut bahkan menjadi pekerjaan musiman pemuda pemuda di sekitar SPBU dan rumah makan serta sejumlah rest area yang tak akan dilakukan saat hari biasa.
[Henk Widi]
Lihat juga...