1 Syawal Keraton Yogyakarta Berdasar Kalender Sultan Agungan

KAMIS, 7 JULI 2016

YOGYAKARTA — Bukan kali ini saja, jika Kesultanan Yogyakarta menetapkan hari-hari besar keagamaan berdasarkan kalendernya sendiri. Yaitu, Kalender Sultan Agungan. Kendati kemudian timbul perbedaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri tahun ini, namun perbedaan itu tak pernah menjadi masalah. Semua berjalan seiring kepercayaan masing-masing dan saling menghormati.

Dalam setiap penentuan hari-hari besarnya, Keraton Yogyakarta sejak dahulu menggunakan kalender yang telah sejak lama ditetapkan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Kalender itu merupakan upaya besar Sultan Agung, dalam menggabungkan perhitungan Kalender Hijriyah, Jawa dan Masehi yang mulai digunakan sejak tahun 1547 Jawa/1625 Masehi. 
“Dengan kalenderisasi itu, setiap Bulan Ramadhan sudah ditetapkan 30 hari, berdasarkan hisaf urfi’. Karena itu, memang ada kalanya terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya”, jelas Kanjeng Raden Tumenggung Ahmad Muksin Kamaludiningrat, Kamis (7/7/2016).
Lebih jauh, Kamaludiningrat menjelaskan, dalam hisaf urfi’ itu kalenderisasi sudah ditetapkan berdasarkan lama hari dalam satu tahun, dengan 12 bulan yang terdiri dari 29 hari dan 30 hari. Sementara itu, pemerintah menggunakan hisaf imkanuriyah atau rukiyatul hillal 2 derajat, sehingga penentuan pergantian bulan berdasarkan hilal. 
Namun demikian, dengan kemungkinan terjadinya perbedaan penentuan awal bulan itu tak perlu menjadikan masalah. Bahkan pada Solat Idul Fitri yang diadakan pada Rabu 6 Juli 2016, kemarin, kata Kamaludiningrat, Sultan juga ikut menjalankan Solat Id berjamaah di Alun-alun Utara. “Namun dalam setiap pelaksanaan tradisi, Keraton selalu berpegang pada Kalender Sultan Agungan”, pungkasnya. (koko)
Lihat juga...