KAMIS, 7 JULI 2016
LAMPUNG — Daya pikat kota besar masih menjadi magnet bagi warga di wilayah luar kota dan pulau untuk mencoba peruntungan. Proses perpindahan warga ke kota besar diantaranya Jakarta, Jawa Barat, Banten dari wilayah Pulau Sumatera selalu terjadi saat arus balik lebaran.
Kesuksesan dan keberhasilan visual yang ditunjukkan oleh sebagian perantau ke kampung halaman diantaranya dengan kendaraan yang baru, penampilan lebih baik dan segala cerita kesuksesan di perantauan tetap menjadi pengaruh besar bagi kerabat yang ada di kampung. Faktor pendidikan yang masih rendah membuat sebagian perantau memilih pekerjaan di sektor informal sudah menunjukkan beberapa keberhasilan yang memikat kerabat untuk ikut berangkat ke kota besar.Status sosial dengan wujud penampilan fisik telihat masih menjadi acuan dalam memandang keberhasilan sehingga saat arus mudik terlihat banyak kendaraan baru yang dibawa ke kampung halaman. Praktisi pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Lampung Selatan, Andi Ahmad mengungkapkan, urbanisasi atau perpindahan masyarakat dari desa ke kota merupakan fenomena tak terhindarkan setiap tahun.
“Ketika arus mudik banyak warga yang sebelum pulang sudah dipesan untuk mencari kawan atau rekan untuk bekerja terutama di sektor informal yang tak harus mengandalkan pendidikan tinggi dan faktor ekonomi menjadi pemicunya,”ungkap Andi yang juga dosen di sekolah tinggi ilmu ekonomi di Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (7/7/2016).
Salah satu sektor pekerjaan yang tak terlalu mengandalkan kecakapan khusus dan ijazah diantaranya dalam sektor wiraswasta seperti berdagang,asisten rumah tangga dan pekerjaan lain mengakibatkan banyak pemuda melakukan proses urbanisasi. Mengadu nasib di kota Jakarta dan sekitarnya menurut Andi terlihat dengan banyaknya warga yang mengajak serta kerabat untuk kembali ke Jakarta. Pekerjaan yang layak dan masa depan yang baik telah menjadi harapan untuk melakukan urbanisasi meski dengan bekal seadanya.
Proses perpindahan warga dari pedesaan ke kota bahkan menurut Andi bakal tak terhindari dengan banyaknya tawaran akan perubahan nasib. Meski demikian ia berharap para kaum urban harus membekali diri dengan keahlian khusus dan membawa dokumen resmi agar saat tiba di tempat tujuan tidak mendapat persoalan.
“Kita tahu setelah lebaran dan arus balik beberapa kota besar melakukan operasi yustisi dan pemeriksaan dokumen dan tujuan ke kota alih-alih ingin kerja malah dapat masalah jika tanpa persiapan,”ungkapnya.
Sejumlah calon penumpang pejalan kaki di Pelabuhan Bakauheni diantaranya sudah berangkat kembali ke Pulau Jawa untuk melanjutkan hari raya Idul Fitri di sejumlah tempat di Pulau Jawa dengan mengajak serta kerabat yang akan mencari pekerjaan. Beberapa diantaranya merupakan calon pekerja yang baru menyelesaikan pendidikan tingkat SMA dan memutuskan bekerja dibanding kuliah.
Berdasarkan data angkutan lebaran tahun tahun 2015 dan tahun 2016 posko angkutan lebaran PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) cabang Bakauheni tercatat terjadi peningkatan jumlah penumpang melalui pelabuhan Bakauheni yang akan menyeberang ke Pulau Jawa melalui pelabuhan Bakauheni dengan rata rata 100 persen diantaranya jumlah penumpang pada tahun 2015 hingga hari pertama lebaran Idul Fitri mencapai 376.603 orang. Jumlah tersebut terdiri dari penumpang pejalan kaki sebanyak 29.185 orang dan penumpang dalam kendaraan 347.418 orang.
Kenaikan sebesar 105,4 persen pada tahun 2016 terjadi pada jumlah penumpang yang mencapai selisih 20.418 orang dibanding tahun 2015 dimana penumpang mencapai 397.021 orang dengan rincian sebanyak 40.022 orang penumpang pejalan kaki dan 356.999 penumpang dalam kendaraan.
Menurut general manager PT ASDP Bakauheni, Eddy Hermawan, arus puncak balik mudik lebaran akan terjadi pada H plus tiga (tiga hari sesudah lebaran) dengan jumlah pemudik yang akan kembali ke Pulau Jawa diperkirakan akan kembali secara bersamaan baik penumpang pejalan kaki, kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Berdasarkan data dari posko angkutan pelabuhan Merak penumpang yang turun ke Pelabuhan Bakauheni hingga hari H (hari pertama lebaran) mencapai 891.696 orang dengan rincian sebanyak 152.669 orang penumpang pejalan kaki dan sebanyak 708.152 penumpang dalam kendaraan.
“Jumlah tersebut merupakan manifest penumpang yang turun dari Merak dan yang dipredikisi akan kembali ke Pulau Jawa saat arus balik,belum termasuk pengguna kendaraan bermotor,”terang Eddy Hermawan.

Fenomena arus balik yang akan menunjukkan peningkatan pada akhir pekan saat arus balik lebaran 2016(1437 H) terjadi karena sebagian besar pekerja kantor, PNS, harus sudah masuk pada hari Senin (11/7) sehingga pemudik akan melakukan kegiatan pulang balik sebelum tanggal tersebut.
Langkah antisipasi dilakukan PT ASDP Bakauheni berkoordinasi dengan PT Mata Pencil Globalindo selaku pihak pengelola tiket elektronik dengan membuka buffer zone di Hotel 56 Kalianda Lampung Selatan dan menambah sejumlah loket penjualan tiket. Eddy Hermawan mengakui ASDP telah menyiagakan sebanyak 4 loket khusus di buffer zone Hotel 56 untuk pemudik arus balik pengguna kendaraan roda dua dan kendaraan pribadi.
“Tekhnisnya calon penumpang akan dicatat manifes penumpangnya dan diberi struk pembelian tiket yang akan ditukar di jalur khusus Hotel 56 di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni,”ungkapnya.
Selain loket pembelian khusus di Hotel 56 yang berjarak 20 kilometer dari Pelabuhan Bakauheni,strategi mengurai kemacetan di pintu masuk dilakukan dengan menyiapkan sebanyak 6 loket penjualan portable yang mampu dilayani 12 petugas khusus kendaraan bermotor yang belum membeli tiket di Hotel 56. Selain itu
sebanyak 7 loket pembelian tiket kendaraan pribadi akan disiapkan berikut 14 loket pembelian tiket khusus pejalan kaki.
Sebanyak 28 kapal roll on roll off dengan kapasitas besar juga sudah disiapkan mengantisipasi pemudik arus balik yang diperkirakan akan membludak. Pihak PT ASDP hingga saat ini belum menyiapkan skenario khusus untuk kapal khusus pengangkut kendaraan roda dua yang jumlahnya cukup banyak terlihat dari data yang turun dari pelabuhan Merak.
[Henk Widi]