MINGGU, 31 JULI 2016
BALI — ?Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Nyoman Parta angkat bicara menyikapi pengunduran diri 65 tenaga kontrak penyuluh bahasa Bali yang sudah dinyatakan lulus seleksi beberapa bulan lalu. Parta adalah wakil rakyat yang selama ini getol memperjuangkan pengangkatan penyuluh bahasa Bali.

Di mata koleganya di DPRD Bali, Parta adalah tokoh utama di dewan yang memuluskan program pengangkatan penyuluh bahasa Bali tersebut. Perjuangannya pun disambut Gubernur Bali Made Mangku Pastika, sehingga program itu terealisasi tahun ini. Terdapat 716 penyuluh bahasa Bali yang diangkat menjadi tenaga kontrak Pemprov Bali. Mereka ditugaskan di desa di seluruh Bali mulai 1 Juli lalu.
Jika Gubernur Pastika tampak kesal dengan pengunduran diri tersebut, Parta menyikapinya dengan bijak. Politisi vokal PDIP asal Gianyar ini masih memaklumi pengunduran diri para penyuluh bahasa Bali tersebut. Sebab, program tersebut masih baru, yang masih mencari bentuk. Selain itu, banyak faktor yang melatarbelakangi pengunduran diri itu.
“Ya, karena ini program baru, memang sedang mencari bentuk. Mereka yang mundur ada yang karena faktor jauh (menolak ditugaskan di desa di kabupaten lain), ada yang karena sudah dapat bekerja (pekerjaan lain, red), tidak apa-apa,” ujar Parta saat dihubungi, Minggu (31/7/2016).
Parta mengajak semua pemangku kepentingan dan masyarakat Bali untuk tidak kecewa menyikapi pengunduran diri tersebut. Sebab itu program mulia yang harus terus didukung. Parta, yang namanya mencuat akan berpasangan dengan ketua DPD PDIP Bali I Wayan Koster sebagai calon gubernur Bali, ini juga meminta 645 penyuluh bahasa Bali yang tersisa untuk terus melanjutkan pengabdiannya.
“Jangan kecewa, ini pogram mulia. Dalam perjuangan ada yang keteter. Ada yang surut semangatnya, ada yang ragu, sudah biasa. Mari kita semangati yang 645 penyuluh yang melanjutkan perjuangan. Kepada para penyuluh bahasa Bali, kalian adalah pejuang pelestarian budaya Bali. Ketika obor sudah dinyalakan jangan dipadamkan lagi,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur Pastika menyayangkan pengunduran diri puluhan penyuluh bahasa Bali itu.
“Dulu demo minta diadakan penyuluh. Sudah mau dipenuhi, tetapi tidak mau ditempatkan di tempat lain. Di mana militansinya? Saya kesal juga sebenarnya,” kata Pastika dalam Simakrama dengan masyarakat di Wantilan DPRD Bali, Denpasar.
Pastika berpandangan, mundurnya para penyuluh tersebut menandakan bahwa anak-anak muda masih mempunyai sikap yang lembek, manja dan tidak mempunyai fighting spirit atau semangat berjuang karena dari kecil biasa dimanja.
“Dulu bolak-balik demo, ternyata setelah direkrut tidak mau,” ucapnya.
Menurut dia, kesalahan bukan pada proses seleksi, yang salah itu karena para penyuluh tidak mau ditempatkan di daerah lain.
“Apalagi kalau ditugaskan di Sulawesi, di Lampung yang di sana banyak orang Balinya. Ternyata jagonya cuma di tempat sendiri. Mereka pikir ditugaskan ke Buleleng saja merantau. Masak di Buleleng saja takut,” ucap Pastika, mempertanyakan.
Pastika melihat anak-anak muda Bali maunya enak ditugaskan di kampung sendiri. Padahal, para penyuluh itu sangat dibutuhkan di tempat lain yang lebih memerlukan pembinaan.
Sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha mengatakan sebanyak 65 penyuluh Bahasa Bali yang telah ditetapkan sebagai tenaga kontrak melalui surat keputusan gubernur, mengundurkan diri ketika harus menandatangani kontrak kerja. Dewa Beratha menyebut, penyebab mundurnya tenaga kontrak tersebut kemungkinan karena ada yang sudah terikat kontak kerja dengan instansi lain, ataupun dengan alasan tidak berani keluar “kandang”.
Dari 716 penyuluh bahasa Bali yang akan ditempatkan pada 716 desa di Bali mulai 1 Juli 2016 itu, sebanyak 65 orang tidak menandatangani kontrak. Menurut dia, lima kabupaten di Bali (Kabupaten Bangli, Klungkung, Tabanan, Buleleng, dan Jembrana) kekurangan jumlah penyuluh bahasa Bali yang lulus seleksi dibandingkan jumlah keseluruhan desa. Sehingga harus dipenuhi dari empat kabupaten/kota lainnya yaitu dari Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Karangasem yang jumlah pelamarnya berlebih.
[Bobby Andalan]