Pute Pure, Tarian Pembuatan Kain Tenun yang Memikat

MINGGU, 31 JULI 2016

LARANTUKA  — Aula gedung OMK Keuskupan Larantuka dipenuhi sesak masyarakat dan para pelajar serta guru. Di tengah peringatan hari anak nasional, berbagai  tarian dan lagu dilantunkan para pelajar.
Suasana semakin meriah dan menarik perhatian ketika para siswa-siswi SMPN Demon Pagong unjuk kebolehan. Gerakan gemulai 13 penari remaja ini ini diiringi tepuk tangan meriah semua penonton.
Ditemui usai pementasan, Sabtu (23/7/2016) Magdalena Nogo Kabelen, guru yang menjadi pelatih para siswa menjelaskan, tarian Pute Ture merupakan tarian tradisional yang menceritakan tentang proses menenun dalam masyarakat Flores Timur atau komunitas Lamaholot.
Dijelaskan Helen, ragam gerak tarian ini menggambarkan proses memetik kapas, memintal benang hingga berakhir dengan proses menenun hingga menjadi sebuah sarung.
“Ada 10 ragam gerak dalam tarian ini dan semuanya berurutan menggambarkan proses pembuatan sarung atau kain tenun,” ujarnya.
Kapas yang dipetik dijemur dan dibersihkan lalu digulung menjadi benang dengan alat bernama Mute sementara prosesnya disebut Pute. Sedangkan Ture yakni memasang benang di alat berbentuk roda dari bambu bulat di alat yang bernama  Tenure.
Selain 13 orang penari, tarian Pute Ture juga diiringi dengan lagu Pute Ture yang dinyanyikan oleh 8 orang dan iringan musik gendang, gitar dan juk.
“Lagu Pute Ture kami ciptakan sendiri agar dalam menarikan tarian ini penari bisa menarikannya sesuai lirik lagu yang juga menceritakan proses pembuatan sarung,” ungkapnya.
Dalam tarian ini ada gerak, memetik kapas, Balok, Betu, Golot, Pute, Ladu, Kudu, Neket  Tane dan Saung atau menjahitnya menjadi sarung. Penari dan semua anggota sanggar memakai baju hitam dengan bordiran huruf S.
“Ini baju daerah bernama Labu Senui, sarungnya Triot Kinga sedangkan selendang disebut Met,” terangnya.
Tarian Pute Ture bisa dibawakan dalam waktu 20 menit dan biasanya beber Helen, ditarikan saat pentas seni budaya  dan saat ada lomba antar sekolah.
“Kami melatihnya selama sebulan penuh dimana sebelumnya dilakukan seleksi siwa-siswi dahulu terkait kemahiran dalam gerak dan kelenturan dalam menari,” ungkapnya.
Helen mengakui, minat para pelajar dalam menarikan tarian daerah sangat bagus. Selain itu, para siswi juga cepat menangkap dan mempraktekan gerak tari yang diajarkan sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengajarinya.
“Kami selalu mengembangkannya dan mewariskannya kepada para pelajar agar tarian ini tidak hilang. Anak-anak mempunyai talenta tersendiri dalam bermain musik dan menari dan kami hanya mengembangkan bakat yang ada saja,” pungkasnya.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...