MINGGU, 12 JUNI 2016
LAMPUNG — Ratusan Kepala Keluarga di Kecamatan Bandar Negeri Suoh (BNS) Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung masih menggunakan listrik tenaga turbin yang diperoleh dari aliran air deras yang banyak terdapat di jalur pegunungan Suoh.

Menurut salah satu warga Pekon Sidomukti Tono (40) penggunaan tenaga turbin sudah dimulai sejak tahun 2008 yang berada di aliran air sungai yang banyak berada di daerah tersebut. Ketersediaan listrik di daerah tersebut sudah cukup terpenuhi sehingga warga membayar listrik tersebut dengan harga cukup murah.
“Penggunaan listrik tenaga turbin tetap kami lakukan sebab dibandingkan dengan langganan listrik pada umumnya biaya yang kami gunakan untuk kebutuhan listrik terbilang cukup murah karena sistem pembayaran yang fleksibel,”ungkap Tono saat dihubungi Cendana News, Minggu (12/6/2016).
Ia mengungkapkan, setiap kepala keluarga diwajibkan membayar sebesar Rp.50ribu per panen atau Rp.5ribu per bulan. Warga juga hanya membayar iuran ketika ada kerusakan terutama bagi petugas pemeliharaan.
Sistem penyaluran listrik tenaga turbin yang ada di Pekon Sidomukti masih terbilang sederhana karena menggunakan kabel setebal 2 centimeter sepanjang 4.000 meter yang disalurkan ke puluhan rumah warga melewati perbukitan dan perkebunan. Kendala penggunaan listrik tenaga air, saat musim kemarau daya listriknya menurun dan tidak bisa dipergunakan untuk menyalakan televisi dan alat elektronik yang membutuhkan daya tinggi.
Saat ini tenaga listrik warga masyarakat masih digunakan untuk penerangan, alat alat elektronik yang tersedia selama 24 jam dan warga mengaku tak pernah mengalami pemadaman.
Dari pantauan Cendana News di aliran Sungai Campursari terdapat sekitar 30 turbin milik perseorangan dan kelompok masyarakat. Aliran sungai yang dipergunakan sebagai penggerak turbin yang disalurkan pada pipa pipa PVC mulai ukuran 12 inchi dan beberapa diantaranya 4 inchi dan disalurkan ke rumah rumah rumah turbin berukuran 2×3 meter.
“Ukuran turbin berbeda beda tergantung kemampuan kelompok untuk membuat turbin di aliran sungai ini karena biaya pembuatannya cukup mahal” ungkap Sugianto.
Investasi yang ditanamkan dalam pembuatan instalasi turbin pada awal 2008 di kelompok milik Sugianto mencapai 40 juta. Kala itu masyarakat masih menggunakan tenaga kincir air dan mulai beralih ke tenaga turbin.
Turbin tersebut rata rata diatas 5.000 Watt dan disepanjang aliran air sungai campursari yang mengalir deras dibendung kemudian dibuat intalasi menggunakan semen, pipa pvc, mesin turbin, kabel hingga ke kawasan desa di sekitar kecamatan Bandarnegerisuoh.
Meskipun sudah memiliki energi terbarukan dari aliran air untuk kebutuhan listrik namun masyarakat sebagian besar memiliki mesin diesel tenaga bahan bakar minyak solar. Sementara di Desa Bandarrejo sebagian besar menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Warga berharap PLN bisa menyalurkan listrik ke wilayah BNS karena saat ini beberapa ratus tiang listrik sudah berdiri dari arah Kecamatan Batubrak namun kapan akan dipasang kabel dan penyaluran listrik ke masyarakat Sugianto mengaku belum tahu, namun masyarakat sebagian sudah diberi perkiraan harga sekitar 3 juta untuk pemasangan listrik hingga menyala.
“Kami yang sebagian besar bekerja sebagai petani pekebun berharap agar segera ada listrik dari PLN karena daya listrik tenaga turbin masih terbilang sederhana,” ungkap Sugianto.
Harapan itu bukan tanpa alasan sebab selama ini masyarakat masih mengalami alat elektronik yang rusak akibat daya listrik yang kurang stabil dari pasokan listrik tenaga turbin tersebut.
Sebagian besar warga bahkan menggunakan stabilizer untuk membuat stabil aliran listrik ke rumah rumah warga yang menggunakan bohlam lampu LED. Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai petani menggunakan listrik sejak sore hingga malam hari sebab sejak pagi hingga sore lebih banyak berada di kebun terutama saat musim tanam dan musim panen padi, lada dan kopi.
Selain kondisi masyarakat yang belum menikmati sarana listrik dari PLN warga mengaku jalan penghubung panjangnya 6 Km kondisinya memprihatinkan dan aktifitas warga dan ekonomipun kerap terhambat terutama harus melewati sungai tanpa jembatan besar.

Pemkab Lampung Barat Hibahkan Tanah untuk Gardu Induk
Upaya menyalurkan jaringan listrik PLN ke sejumlah kecamatan di Lampung Barat telah dilakukan oleh pemerintah setempat dengan penyerahan hibah tanah milik Pemerintah Kabupaten di Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lambar kepada pihak PLN untuk pembangunan Gardu Induk (GI) Kabupaten Lampung Barat.
Bupati Lampung Barat, Mukhlis Basri sebelumnya menegaskan kondisi yang ada saat ini terdapat sebanyak 7 kecamatan (31 pekon) di Lampung Barat yang belum dialiri oleh listrik dan rasio elektrifikasi yang ada saat ini sebesar 52,9 persen (kurang lebih 41.943 rumah tangga) yang sudah dialiri oleh listrik, hal Ini berarti 47,1 persen masyarakat Lambar belum menikmati aliran listrik.
“Selama ini untuk memenuhi defisit kebutuhan akan listrik di Lambar dengan berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah daerah seperti pemenuhan jaringan listrik untuk Suoh , BNS Dan Pagar Dewa pada tahun 2015, kemudian pemerintah juga melakukan pemetaan jaringan jaringan listrik serta penyelesaian pembangunan tapak tower sutet sebanyak 86 titik, dan yang terdapat di Lambar sebanyak 78 titik,” terangnya dalam rilis oleh humas Pemkab Lampung Barat.
Pihak pemerintah juga telah membebaskan lahan yang akan dipergunakan untuk pembangunan gardu induk oleh PT PLN untuk memenuhi kebutuhan akan energy listrik di 7 kecamatan meliputi Kecamatan Sukau, Lumbok Seminung, Gedung Surian, Kebun Tebu, Sumber Jaya, Way Tenong Dan Batu Ketulis) yang berada di 9 pekon yang belum dialiri listrik.
Dikatakanya bahwa Pemda juga telah memberikan bantuan pembangunan energi listrik berupa mikrohidro, solar cell dengan rasio elektrifikasi 4,71 persen atau sebanyak 3.734 rumah tangga non PLN.
“Artinya pemerintah telah melakukan upaya-upaya nyata dalam meemnuhi energi listrik di Lampung Barat ini khususnya untuk wilayah yang belum menerima aliran listrik dari PLN,” ungkapnya.
Upaya pemerintah Lampung Barat tersebut mendapat respon positif dari masyarakat terutama di wilayah yang sulit terjangkau jaringan listrik PLN. Keberadaan listrik dari PLN diharapkan mampu memberi solusi bagi warga yang masih menggunakan listrik tenaga surya dan mikro hidro.
[Henk Widi]