MINGGU, 12 JUNI 2016
LAMPUNG — Beberapa tempat ziarah umat Katolik di Lampung selalu ramai dikunjungi oleh ratusan umat setiap akhir pekan dan semakin ramai saat hari Minggu. Kunjungan ke sejumlah tempat ziarah terutama yang telah ditetapkan oleh Keuskupan Sufragan Tanjungkarang tersebut merupakan tradisi iman Katolik yang melakukan berbagai laku tapa dan askese, diantaranya dengan melakukan prosesi jalan salib, mendaraskan Roasario serta mengikuti perayaan Ekaristi. Lokasi ziarah yang sebagian merupakan goa Maria yang sudah diberkati diantaranya Goa Maria Padangbulan, Goa Maria Fajar Mataram.

Salah satu peziarah, Andreas (40) yang mengajak isteri dan kedua anaknya mengaku sesuai iman Katolik yang dipercayainya Gereja Katolik telah memberi kesempatan umat untuk melakukan berbagai upaya pertobatan diri dengan berbagai laku amal, puasa, serta ziarah.
Ia mengaku berziarah ke goa Maria Padangbulan, Pringsewu untuk berdoa jalan salib mengenangkan sengsara Yesus Kristus dan mendaraskan doa Rosario sepanjang jalan salib dan ditutup dengan mengikuti perayaan Ekaristi oleh seorang imam Katolik bersama ratusan umat Katolik dari berbagai daerah.
“Saya datang dari wilayah Lampung Selatan namun sengaja berziarah ke Pringsewu untuk mengikuti tradisi Gereja Katolik, salah satunya meyakini adanya indulgensi atau pengampunan dosa dengan melakukan beberapa prosesi ziarah,”ungkap Andreas kepada Cendana News, Minggu (12/6/2016).
Andreas mengaku setelah ziarah ia akan bergabung dengan umat Katolik lainnya yang akan mengikuti misa kudus yang dipersembahkan menjelang sore hari oleh umat, biarawan/biarawati. Berziarah baginya memberi kedamaian hati dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan serta mempererat hubungan antar keluarga yang secara bersama ikut berziarah bersamanya. Selain itu dirinya tekun mendaraskan novena (doa sembilan hari berturur turut tanpa putus) Kerahiman Ilahi.
Terkait banyaknya umat Katolik yang mengikuti ziarah, pastor Wolfram Pr, salah satu pastor projo Keuskupan Tanjungkarang mengakui sebagai pemeluk iman Katolik umat mengikuti ketetapan Paus Fransiskus yang mengeluarkan Bulla (surat ketetapan) yang berjudul “Misericordiae Vultus” atau Wajah Kerahiman. Bula tersebut sekaligus menetapkan sepanjang tahun sepanjang tahun 2016 sebagai tahun Yubileum Kerahiman Ilahi yang oleh Gereja Katolik diberikan kesempatan kepada umat untuk bermurah hati dan mengikuti sifat kerahiman Ilahi.
“Salah satu isi bula menegaskan agar Gereja membuka pintu selebar lebarnya untuk pintu kerahiman dan disimbolkan dengan membuka pintu pintu gereja dan juga tempat ziarah,”ujarnya.
Berbagai rangkaian kegiatan yang dilakukan Gereja Katolik sepanjang tahun kerahiman tersebut diantaranya pertemuan bagi orang sakit dan cacat, tahanan, relawan serta orang yang berkarya dalam amal kasih. Selain melakukan ziarah, umat Katolik juga diberikan kesempatan untuk banyak melakukan kegiatan amal kasih dan melakukan pertobatan, memperbarui haluan hidup dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.

Pembukaan pintu suci Basilika Santo Petrus di Vatikan, Roma juga menurut Pastor Wolfram sekaligus membuka semua pintu katedral di seluruh dunia, tempat ziarah kerahiman yang ada di setiap keuskupan sehingga umat bisa melakukan peziarahan meski tanpa harus ke Roma.
[Henk Widi]