MINGGU, 5 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Menjelang masuk Bulan Ramadhan, umat muslim di seluruh dunia akan membersihkan diri dengan mandi besar. Di Jawa dan di banyak daerah lain di tanah air, mandi besar menjadi tradisi yang di Yogyakarta disebut padusan.

Mandi besar atau bersuci guna memasuki Bulan Ramadhan dan menjalankan kewajiban puasa, di banyak tempat di Yogyakarta menjadi kewajiban yang sangat lekat di masyarakat sehingga menjadi tradisi. Namanya, padusan. Dari kata adus yang berarti mandi. Padusan tidak hanya sekedar mandi keramas di rumah. Namun, dilakukan bersama-sama di sebuah kolam. Bagi sementara orang di Jawa, padusan dirasa lebih bermakna jika dilakukan di sebuah kolam alami atau sumber air yang disebut sendang. Salah satunya Sendang Klangkapan di Dusun Klangkapan, Margodadi, Seyegan, Sleman, yang pada Minggu (5/6/2016), ramai dikunjungi puluhan warga sejak tengah siang.
Setiap tahun menjelang Bulan Puasa, Sendang Klangkapan memang menjadi salah satu sumber air alami yang banyak dikunjungi warga. Bukan saja karena beningnya air sendang dan bangunan kolamnya yang terhitung luas, namun juga karena Sendang Klangkapan dipercaya merupakan peninggalan zaman Sunan Kalijaga.
Bahkan, di sebelah utara sendang itu juga terdapat Batu Yoni peninggalan zaman Mataram Hindu Kuno. Sayangnya, Yoni di bawah pohon beringin tua yang telah dicatat keberadaannya oleh Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya DI Yogyakarta sebagai benda cagar budaya itu tampak tidak terawat, sehingga banyak ditumbuhi rumput dan lumut.
Lepas dari kondisinya sekarang, Sendang Klangkapan selalu ramai pada menjelang bulan Ramadhan. Puluhan warga datang silih berganti untuk mandi keramas dan berenang, sembari bersenda bersama teman. Selama dalam bulan puasa, dipastikan sendang itu pun ramai dikunjungi orang. Banyak warga setempat dan luar desa menghabiskan waktu di lokasi sendang menunggu waktu buka puasa.
Salah satu warga pengurus Sendang Klangkapan, Bardiono, mengatakan, semula Sendang Klangkapan hanya berupa mata air alami yang dikelilingi pepohonan besar seperti pohon bibis, beringin, dan bendo. Saat itu, juga terdapat pohon jagung yang tampaknya memang sengaja ditanam oleh warga. Tahun 1945, katanya, mata air yang cukup besar itu kemudian dibangun oleh pemerintah desa setempat. Sendang Klangkapan diplester dan dibagi menjadi dua kolam. Masyarakat kemudian menamainya Sendang Lanang dan Sendang Wadon.
Sementara itu, pepohonan besar yang dulu mengelilingi komplek sendang, bertumbangan karena usia dan terpaan angin besar. Namun, sebuah pohon beringin tua masih tersisa, dan keberadaannya seperti sengaja meneduhi yoni tua yang ada di bawahnya. Pada tahun itu pula, dibangun beberapa bilik sebagai kamar ganti dan mencuci. Sampai kemudian tahun 1960-an, semua banguan itu rusak.
Sebagai mata air alami, Sendang Klangkapan sebenarnya cukup potensial dikembangkan sebagai obyek wisata. Namun, sejauh ini pengelolaan sendang seperti hanya sebatas menjaga kebersihan. Sementara itu, lokasi parkir juga belum dibuatkan tempat khusus. Juga sarana toilet yang belum ada. (koko)