Produksi Nata de Coco Rumahan Meningkat Selama Ramadhan

SABTU, 11 JUNI 2016

LAMPUNG — Kebutuhan akan nata de coco sebagai bahan pembuatan campuran minuman segar menu berbuka puasa memberi dampak positif bagi produksi pembuatan olahan air kelapa yang ditekuni warga Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, Sulis Fatoni (35). 

Sulis mengaku peningkatan pesanan tersebut cukup beralasan akibat banyaknya pedagang minuman menu buka puasa (takjil) menjadikan nata de coco sebagai campuran. Sebagian pedagang bahkan memesan beberapa kilogram jauh jauh hari karena takut tak kebagian. Umumnya pedagang membeli untuk dijual bersama dengan kolang kaling, cincau serta buah segar untuk pembuatan es buah.

“Saat hari normal saya bisa memproduksi sebanyak 5 hingga 10 ton perbulan namun selama sebelum bulan suci ramadhan dan selama ramadhan ini permintaan semakin meningkat dari konsumen maupun pengusaha,”ungkap Sulis kepada Cendana News, Sabtu (11/6/2016).
Ia mengaku air kelapa saya tersebut ia beli dari pemilik usaha pembuatan kopra dengan cara membeli air kelapa yang sudah ditampung dalam derigen khusus. Air kelapa yang sudah ditampung di derigen dibelinya dengan harga sebesar Rp2.000,- perderigen dan kemudian ditampung di tempat usaha yang ada di samping rumahnya. Setelah air kelapa tersebut dikumpulkan ia mengolahnya menjadi nata de coco dengan bahan bahan yang telah disiapkan.
Fatoni yang dibantu oleh sekitar 4 orang anggota keluarganya dan menyebut usahanya sebagai usaha rumahan mengaku membuat nata de coco setelah mendapat pesanan dari produsen pembuatan makanan. Pesanan yang diperolehnya bahkan mencapai hingga sekitar 10 ton perbulan pada hari normal.
Menurutnya pembuatan nata de coco dibentuk oleh spesies bakteri asam asetat pada permukaan cairan yang mengandung gula, sari buah, atau ekstrak tanaman lain. Beberapa spesies yang termasuk bakteri asam asetat dapat membentuk selulosa yang mengikat air kelapa yang telah dimasak sehingga membentuk agar agar.
“Bakteri secara biologis digunakan untuk pengikat cairan air kelapa yang telah diolah sehingga hasilnya menjadi kenyal yang kita lihat dalam cetakan cetakan nampan berikut ini,”ungkap Fatoni.
Fatoni mengaku pemanfaatan limbah pengolahan kelapa berupa air kelapa merupakan cara mengoptimalkan pemanfaatan buah kelapa. Air kelapa cukup baik digunakan untuk substrat pembuatan Nata de Coco.
Ia mengaku perlembar nata de coco buatannya dengan ketebalan mencapai 2 centimeter di dalam nampan nampan tersebut dijual dengan harga Rp 1.100,- perlembar atau per ton 1.000 lembar. Kini dalam seminggu ia mengaku mendapat permintaan sekitar 2 ton dan pernah mendapat permintaan sebanyak 8 hingga 10 ton perbulan.
“Saat ini beruntung pabrik mau membeli dengan harga lebih seratus rupiah sehingga omzet lebih meningkat selama pembuatan bulan ini,”terangnya.
Fatoni mengaku terus memproduksi nata de coco tergantung masih banyaknya permintaan dari pengepul serta produsen pembuatan makanan berbahan air kelapa tersebut. Apalagi proses pembuatan tersebut telah dilakukan pemeriksaan oleh instansi terkait dan telah diuji laboratorium pada saat di pabrik pembuatan makanan.

Permintaan yang meningkat dari pabrik pembuatan nata de coco yang dijual dalam kemasan menurutnya akibat tingginya permintaan nata de coco sebagai bagian untuk pembuatan parcel lebaran. Permintaan akan nata de coco yang meningkat tersebut diakui Sulis menjadi berkah baginya selama bulan Ramadhan tahun ini.
[Henk Widi]
Lihat juga...