Pedagang Kuliner Nekat Jualan di Siang Hari Saat Bulan Ramadhan

MINGGU, 12 JUNI 2016

JAKARTA — Berbagai alasan dikemukakan pedangang untuk membenarkan berjualan di siang hari di tengah umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa. Tidak hanya itu, mereka juga berdagang secara terang-terangan tanpa dibatasi tirai.
Untuk menghormati dan menghargai orang muslim yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, khususnya bagi warga masyarakat yang tinggal Ibukota Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebenarnya jauh-jauh hari sebelumnya telah menghimbau kepada para penjual makanan dan minuman agar tidak berjualan secara terang-terangan saat siang hari di muka umum, tanpa penutup atau tirai dari kain dan sebagainya.
Namun pada kenyataannya para pedagang yang berjualan makanan dan minuman tersebut malah nekat berjualan secara terang-terangan di tempat-tempat keramaian seperti hari -hari biasa diluar bulan puasa. Salah satunya di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, banyak penjual yang menjajakan minuman dan makanan meski tanda waktu masih menujukkan pukul 15:00 WIB, padahal di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, waktu berbuka sekitar pukul 17:50 WIB.
Padahal Pemprov DKI Jakarta sudah mengeluarkan surat edaran dan pengumuman melalui media massa agar para penjual makanan dan minuman hendaknya “menahan diri” tidak berjualan secara terang-terangan saat siang hari untuk menghormati dan menghargai orang yang berpuasa. Dengan berbagai alasan dan dalih mencari keuntungan, para penjual menginginkan barang dagangannya cepat laku dan habis, padahal mereka tahu, umat muslim banyak yang berpuasa di siang hari.
Pantauan Cendana News, Minggu (12/6/2016) siang menjelang sore, bisa dibilang hampir sebagian besar penjual makanan dan minuman tampak terlihat sudah menggelar barang dagangannya di sepanjang jalan masuk menuju Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mereka secara terang-terangan menjajakan aneka macam makanan dan minuman tanpa menggunakan tirai atau penutup, sehingga sangat terlihat jelas siapapun yang melintas di depannya.
“Bukannya bermaksud tidak menghormati dan tidak menghargai orang yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, tapi terus terang saya menggantungkan hidup sehari-hari dari berjualan makanan dan minuman, kalau siang hari tidak berjualan, maka omzet pendapatan jelas akan menurun, khan saya juga tidak memaksa orang yang lewat sini untuk membeli, terserah kalau mau beli silahkan, kalau enggak juga tidak masalah” demikian dikatakan Ratna, seorang penjual kuliner di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (12/6/2016).
[Eko Sulestyono]
Lihat juga...