MINGGU, 5 JUNI 2016
MAUMERE — Berdirinya panti rehabilitasi penyandang cacat Santa Dymphna ibarat penyegar dahaga bagi masyarakat Flores.Panti rehabilitasi yang pertama dan satu – satunya di Flores ini meski hanya menampung penderita gangguan mental dari kaum hawa, kehadirannya haruslah disyukuri, Sudah banyak penderita yang sembuh setelah dijamah dengan kasih dan kembali menjalani hidup di masyarakat seperti sedia kala.Bagaimana perjalanan panti yang tertatih – tatih akibat keterbatasan dana ini ? Berikut kami sajikan liputannya.

Mentari belum menyapa bumi, para penderita gangguan mental penghuni panti sudah mulai beraktifitas bak orang kebanyakan.Tak ada perbedaan, meski belum sembuh total toh mereka bisa beraktifitas berdoa, memasak, berolahraga, membersihkan kompleks panti dan melakukan rutinitas keseharian.
Mereka bisa kembali normal hanya perlu dijamah dengan hati yang tulus, demikian komentar suster Lucia,CIJ saat berbincang dengan Cendana News di beranda panti, Jumat (27/5/2016).
Panti rehabiltasi penyandang cacat Santa Dymphna milik yayasan Bina Daya ( Yasbida ) cabang Sikka ini dibangun 26 Januari 2004.Panti seluas 2.400 meter persegi ini memilih untuk menampung orang terpinggirkan kata suter Lucia, sebab dirinya sebagai pengikut Yesus yang juga berpihak kepada orang pinggiran.
Selain itu, tambahnya, ini juga sejalan dengan visi misi kongregasi CIJ yang focus menjamah orang kecil. Atas dasar inilah sebut suster Lucia,dirinya selalu tergerak dan bergerak menolong orang – orang kecil.
“ Ketika saya ke toko saya melihat orang – orang sakit jiwa yang ada di tempat sampah dan saya tergerak oleh belas kasihan lalu memberi mereka makan di pinggir jalan “ ujarnya.
Tanggapi Rahmat
Hadirnya panti Dymphna jelas suster Lucia, berawal saat dirinya memfasilitasi 10 gadis cacat untuk diberikan pelatihan menjahit November 2003 yang didanai dinas Sosial kabupaten Sikka.
Suatu ketika tambah suster kelahiran Mataloko, kabupaten Ngada, kesepuluh gadis cacat ini memintanya agar mereka bisa ditampung di tempatnya supaya bisa belajar keterampilan lain selain menjahit.Suster Lucia menanggapi permintaan mereka dengan mengatakan bahwa dirinya tidak mempunyai dana guna membangun panti.
Awalnya permintaan itu ditanggapi dingin, namun “ the voices of voicesless “ itu tetap menggema dalam hati suster Lucia dan mendorongnya untuk mencari jalan keluar.Kedatangan 10 gadis tadi dengan permintaan yang sama di lain waktu membuat pemilik nama asli Meo Sofia ini kembali tersentak dan tergerak untuk menjawab tantangan ini.
“ Ini adalah peluang, rahmat yang harus ditanggapi dalam aksi yang nyata. Allah lah yang menghendaki semaunya ini lewat anak – anak ini “ tekadnya.
Akhirnya, bersama ke 10 gadis tersebut suster Lucia,CIJ meminta bantuan dana di beberapa toko di Maumere dan instansi pemerintah. Selama 3 hari aksi mereka mampu mengetuk hati mereka yang mempunyai kepedulian terhadap orang kecil yang ditandai dengan terkumpulnya dana sebesar 462.500 rupiah.
Modal awal ini ditambah lagi suster Lucia dengan uang pribadinya sebesar 2 juta rupiah hasil honornya saat memberi pelatihan menjahit.
![]() |
|
Suster Lucia,CIJ bersama para penderita penghuni panti Dhymphna, Maumere.
|
Selepas peletakan batu pertama, jelang tiga bulan pembangunan panti tak urung selesai.Perjalanan pembangunan mulai tertatih – tatih akibat ketiadaan dana.
Setelah mensharingkan apa yang dihadapi dengan dinas Sosial Sikka, dana 8 juta rupiah pun dikucurkan. Disaat – saat sulit, selalu ada tangan – tangan penderma yang menolong hingga terkumpul dana 13.572.500 rupiah meski dana ini pun masih belum cukup.
“ Ternyata jalan dan berkat Tuhan selalu menyertai perjuangan mereka yang berpihak kepada orang miskin dan papa, kecil dan terpinggirkan. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil, Dia selalu memberi kami jalan “ tuturnya.
Pembangunan panti pun rampung setelah 6 bulan dikerjakan. Dinas sosial pun meminta suster Lucia memberi nama panti di luar dari nama panti yang sudah ada.
Waktu itu cerita suster Lucia, suster pembina panti sedang membaca tulisan Santa Dymphna dan mengatakan agar saya memakai nama itu.Santa Dymphna dalam agama Katolik dikenal sebagai santa pelindung penderita penyakit syaraf dan ingatan.
Dana Terbatas
Selama rentang waktu 11 tahun panti Dymphna berkarya, sudah 98 orang ditangani dan 47 penderita sudah sembuh total.Penderita yang sembuh ada yang sudah kembali ke keluarga dan hidup normal di masyarakat.
Dengan 17 personil dimana terdapat perawat 10 orang,3 orang psikolog dan sisanya pegawai lainnya, panti milik Yasbida ini tetap eksis menjamah tangan – tangan orang kecil yang menderita gangguan mental dan fisik.
Panti Dymphna bukan hanya menangani penderita dari Flores dan NTT saja tapi ada yang berasal dari Jawa, Kalimantan dan Bali. Hal ini sebut suster Lucia terjadi karena pasien yang sudah sembuh memberikan informasi dan panti juga memiliki website.
Banyaknya penderita yang ditangani ucap suster Lucia, membutuhkan biaya operasional yang besar.Dalam sehari saja pihaknya harus menyiapkan 50 kilogram beras,sebulan butuh uang 35 juta rupiah menggaji pegawai dimana totalnya 168 juta rupiah dihabiskan dalam sebulan.
Besarnya pengeluaran membuat suster Lucia dan management harus memutar otak sebab panti tak memiliki donatur tetap. Tantangan terberat dalam mengelola panti ujarnya ketika makanan habis. Hal ini membuat suster Lucia malam tidak tidur sebab tuturnya beras itu kebutuhan urgent apalagi para pasien sekali makan bisa 3 – 4 piring sehari.
“ Saya tak bisa tidur dan beripikir dapat uang dari mana, apa besok mereka bisa makan, bahkan berdoa juga dengan air mata supaya Tuhan cepat tergerak hatinya dan orang bisa kirim bantuan.Tapi itu juga terwujud “ ucapnya mengenang.
Suster Lucia mengatakan dirinya mulai bergantung penuh pada penyelenggara Illahi. Banyak tangan kasih juga yang memberi, usai dirinya mengirim kata – kata rohani ke donatur. Suster kelahiran 19 September 1966 ini selalu bersyukur, sampai saat ini walaupun suka dan derita, banyak keterjepitan, dirinya masih bisa memberi makan orang kecil.
Keluarga penderita banyak yang datang mengantar dan tak kunjung kembali. Janji mengirimkan makanan hanya sekedar ucapan pemanis.
Meski begitu suster Lucia tetap bersuka saat melihat penderita yang awalnya dipasung dan dirantai keluarganya, kurus, muka lusuh, kotor, bau tapi sebulan kemudian berubah menjadi bersih dan cantik. Kalau memandang pasien yang sudah sembuh sambungnya, selalu ada kebahagiaan yang dinikmatinya setiap hari.
Suster yang akan merayakan pesta perak panggilan membiara bulan Juni tahun 2015,merasa paling sedih ketika mengunjungi pasien yang dipasung. Baginya orang – orang itu akan terbelenggu secara fisik dan jiwa.
Memasung bukan cara terbaik,imbuhnya seraya mencontohkan ternyata di panti mereka makan, berdoa, rekreasi, tertawa dan menangis bersama. Pasien hanya pakai ruangan isolasi kalau dia menangis terus dan paling satu dua jam saja dan setelah keluar dia tertawa.
“ Kita memberi dengan hati. Kasih sayang Allah ada di dalam diri mereka sebab kita berdoa kita tidak melihat Allah, Allah itu hadir dalam diri sesama kita seperti mereka ini “ ungkapnya.
Usaha Produktif
![]() |
| Dionisius Ngeta, kordinator program Yasbida bersama pengasuh dan penderita sakit jiwa di panti Dhymphna Maumere. |
Keterbatasan dana membuat Panti Dhymphna harus mengatasinya.Usaha yang dilakukan sebut Donatus Ngeta kordinator program Yasbida yakni membuka dua warung makan di pasar Alok, memelihara ternak babi dan ayam, membuat roti, lilin, keset, merenda, menyulam dan berkebun.Semuanya dikerjakan penderita yang sudah sembuh dan digaji.Suster Lucia pun menulis dua buku berjudul Makna Ilahi dan Mutiara Sampah dan sebuah buku lagi yang akan terbit selain bisa mendapatkan sedikit dana, juga dijadikan sosialisasi.
Donatus berharap agar dukungan real dari pemerintah dan kongregasi sebab untuk di Flores baru CIj yang berani membuat panti seperti ini.Masyarakat juga pesannya harus bertanggung jawab dan mendukung dengan cara apa saja.
Dijelaskan Donatus,dua tiga tahun terakhir panti bukan hanya mengutamakan pendekatan psiko spiritual tapi juga pendekatan lain yang dikolaborasikan sehinga diharapkan dari waktu ke waktu ada tenaga – tenaga spesialis yang bertugas disini.
“ Dari segi semangat, komitmen, iman, itu kuat, saya bisa katakan sudah berdiri dan berlari dari sisi itu.Bahwa lembaga ini ada itu atas penyelenggaraan Tuhan, apapun tantangan kita tetap masih berjalan sampai saat ini, berdiri teguh dalam iman. Kita tidak tinggal diam,kita beriman dan bekerja “ sebutnya.
Dalam menangani penderita terdapat 20 pasien epilepsi yang meninggal di dalam panti.Penderita ini jelas suster Lucia, tidak mempunyai siapa – siapa yang diambil olehnya dari jalan.
Pihak panti mengurus pemakaman dengan baik, membuat kubur keramik, bahkan peti jenasahnya sama dengan harga peti jenasah bupati.Sebab prinsip suster Lucia, orang kecil harus diberi yang terbaik sehingga mereka bisa menjadi berkat.
Selama di panti penderita paling hanya dibimbing dengan kegiatan rohani sebab suster Lucia dan teman – teman yakin bahwa iman penderita dan iman mereka bersama itulah yang menyembuhkan penderita. Ruang lingkup di panti paparnya, sepertinya rumah doa bukan rumah orang sakit sehingga membuat orang banyak berubah.
“ Saya bermimpi agar bisa membuka panti yang menangani penderita laki – laki. Memang ada harapan seperti itu tapi tangan ini tidak bisa menjangkau.Kemauan ada tapi terbentur dana. Kalau sekiranya pemerintah ada dana bisa bantu saya membangun panti buat laki –laki dan rumah sakit jiwa. Maunya Jokowi dengar, siapa tahu beliau bisa bantu kami “ harap Lucia.
Mimpi semirip juga diutarakan Dionitius yang berharap agar lembaga ini terus berkelanjutan dan managemen pengelolaannya bisa lebih baik dari waktu ke waktu,
Dirinya yakin karena semakin kompleks kehidupan ada banyak masyarakat yang mengalami stress sehingga selalu ada orang yg menangani itu. Lembaga ini harus terus ada untuk membantu. Yang berkesan bagi Dionitius, mereka hidup, kerja dan ada bersama penderita.
“ Apa yang engkau lakukan pada saudaraku yang paling hina ini, itu engkau lakukan untuk Aku “ demikian pesan suter Lusia mengutip kata – kata Injil yang selalu memberikan motivasi dan inspirasi baginya dalam berkarya mendampingi penderita sakit jiwa dan epilepsi. (Ebed de Rosary)

