LAMPUNG — Nelayan bagan di wilayah pesisir Lampung Selatan yang menghadap ke lautan Hindia akhirnya mulai melakukan perbaikan terhadap bagan apung yang rusak akibat terjangan gelombang tinggi. Meski demikian sebagian nelayan lain memilih mendaratkan bagan yang berada di perairan untuk menghindari amukan gelombang tinggi yang masih terjadi di perairan Lampung. Selain perbaikan bagan, beberapa nelayan yang memilih mengangkat keramba jaring apung hingga kini belum mengembalikan keramba jaring apung di tempat semula karena kuatir terjangan gelombang masih akan terjadi.
Kondisi gelombang tinggi di perairan Lampung sebelumnya berdampak bagi sejumlah nelayan di perairan Lampung Selatan. Beberapa nelayan di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni bahkan harus rela bagan apung miliknya terdampar dan tercerabut dari penambatnya di sekitar teluk pantai Minangruah. Dua bagan milik nelayan,Yusuf (45), Sudimin (40) bahkan terdampar di pinggir pantai akibat terkena gelombang cukup keras di perairan Selat Sunda sebagai dampak pasang tinggi. Beruntung dua bagan nelayan yang terdampar kurang lebih 500 meter dari posisi awal tidak mengalami kerusakan parah dan hanya mengalami patah beberapa bambu dan kayu penopang.
“Sudah empat hari gelombang tinggi menerjang perairan namun kami sudah meminggirkan bagan, perahu yang kami gunakan untuk mencari ikan di perairan beberapa bagian bagan terpaksa harus diganti dengan yang baru karena rusak,”ungkap Yusuf saat dikonfirmasi media Cendananews.com, Minggu (12/6/2016).
Berbeda dengan Yusuf, Sudimin salah satu nelayan di tempat yang sama mengaku dua bagan miliknya yang baru dibangun sempat mengalami kerusakan setelah diterjang gelombang setinggi 1,5 meter hingga 2 meter disertai angin kencang. Ia mengakui satu unit bagan diperlukan sebanyak 20 batang tiang terbuat dari kayu jenis tertentu dan bambu yang tahan air dengan rata rata mencapai harga Rp500ribu. Bagian lain bahkan memerlukan kayu kelapa yang cukup tua untuk pengganti bagian kayu yang rusak. Proses pembuatan bagan yang dilakukannya saat sebelum rusak memerlukan dana sekitar Rp40 juta lebih dan biaya perbaikan mencapai sekitar Rp3juta lebih.
Selain perbaikan sarana bagan apung, beberapa perbaikan dilakukan pada bagian jaring yang digunakan menyatu dengan bagan apung tersebut. Jaring yang dipasang di bagian bawah bagan digunakan untuk menangkap ikan ikan jenis teri, cumi serta jenis ikan tertentu yang merupakan sumber penghasilan bagi nelayan setempat.
Kondisi gelombang tinggi tersebut menurut Kepala Desa Kelawi, Syahroni berakibat nelayan warga di wilayahnya mengalami kerugian jutaan rupiah karena biaya pembuatan bagan dan operasional bagan jenis apung bisa mencapai puluhan juta rupiah. Selain nelayan pemilik bagan, ratusan nelayan yang berada di pesisir pantai Minangruah, pantai Blebug, Pantai Batu Alif pun bergotong royong mengangkat perahu yang ditambatkan di laut agar tidak terbawa arus. Meski demikian gelombang pasang tidak mengakibatkan kerusakan pada tempat tinggal dan sarana umum milik warga, namun volume sampah yang terdampar di pantai cukup besar berupa batang kayu serta sampah sampah plastik.
“Kami bergotong royong meminggirkan perahu setelah ada kejadian pasang selama beberapa hari ini dan diprediksi masih akan terjadi terutama di wilayah pesisir yang menghadap laut Selatan,”ungkap Syahroni.
Kepada masyarakat nelayan yang berada di wilayah pesisir pantai, ia juga menghimbau agar tidak melaut terlebih dahulu untuk menjaga keselamatan. Ia bahkan mengungkapkan agar nelayan sementara waktu melakukan aktifitas lain di darat dengan memperbaiki perahu yang rusak, jaring atau berkebun hingga cuaca membaik. Syahroni mencatat ada sekitar 120 nelayan yang tinggal di wilayah Desa Kelawi yang menggantungkan hidupnya sebagai pencari ikan di wilayah Selat Sunda dan sebagian merupakan nelayan bagan.
Selain himbauan kepada nelayan, beberapa pemilik keramba apung di wilayah pesisir pantai bahkan terpaksa mengangkat jaring serta ikan yang ada di keramba apung untuk menghindari kerugian materi cukup besar. Bahkan jaring set net milik kelompok nelayan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terpaksa diangkat selain untuk menghindari terbawa arus juga dilakukan untuk membersihkan jaring dari sampah akibat arus kencang dan gelombang tinggi.
Dampak dari gelombang tinggi juga berpengaruh terhadap petani rumput laut di Desa Legundi Kecamatan Ketapang. Beberapa pemilik ratusan meter tambang penambat rumput laut terpaksa mengangkat sementara rumput laut yang baru dibududayakan kurang lebih dua bulan dan berencana akan dikembalikan ke laut saat kondisi gelombang sudah membaik.
Salah satu pemilik usaha budidaya rumput laut, Andi (37) mengakui kerusakan terjadi pada tanaman rumput laut miliknya akibat terjangan gelombang tinggi dengan hilangnya beberapa pelampung serta tiang tiang penambat terbawa arus.
“Sementara kami angkat sambil melakukan penjemuran rumput laut dari panen sebelumnya karena jika tidak diangkat dikuatirkan kami kesulitan melakukan penanaman rumput laut di tali sepanjang 1000 meter di perairan,”ungkapnya.
Andi mengakui kondisi perairan Selat Sunda dan pantai Timur terlihat cukup tenang saat siang hari namun menjelang malam kondisi gelombang cukup tinggi dan berakibat kerusakan pada tanaman rumput laut.(Henk Widi)