RABU, 29 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Monumen Jogja Kembali dibangun sebagai tetenger atau tonggak peristiwa penting kembalinya NKRI pada 29 Juni 1949 dari upaya penjajahan kembali oleh Belanda, pasca diproklamasikannya kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Di museum berbentuk gunung itu, masyarakat bisa mengetahui perjalanan sejarah perang di masa kemerdekaan RI.

Ada tiga peristiwa penting yang menjadi bagian inti dari isi museum yang diresmikan pembangunannya pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto tersebut. Pertama, Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Soeharto yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel. Kedua, Kembalinya NKRI dari upaya penjajahan kembali Belanda pasca proklamasi kemerdekaan RI, dan ketiga, kembalinya Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dari pengasingan ke Ibukota Negara yang saat itu berada di Gedung Agung Yogyakarta.
Namun demikian, di Komplek Monumen Jogja Kembali itu juga dilengkapi pula dengan relief yang menceritakan sejarah perang di era tahun 1945 dalam 40 episode.
“Monjali juga berisi sejarah perang kemerdekaan di tiga fase penting, yaitu perang kemerdekaan 1945, Agresi Militer Belanda tahun 1948 dan Jogja Kembali pada tahun 1949,”sebut pemandu wisata Monjali, Gunadi yang sudah bertugas sejak berdirinya monumen tersebut, Rabu (29/6/2016).

Gunadi menjelaskan, Monjali dibangun dengan bentuk gunung yang mengerucut setinggi 31,8 Meter dan terdiri dari tiga lantai. Pada lantai 1, terdapat ruang perpustakaan dan kantor pengelola serta mushola. Lantai 2 merupakan ruang relief yang dibangun memutari monumen dan berkisah tentang perang kemerdekaan 1945 dalam 40 episode, juga dinding yang bertorehkan nama-nama pejuang yang gugur sebanyak 420 orang yang dilengkapi puisi terkenal karya Chairil Anwar berjudul Kerawang-Bekasi.
Lalu, di bagian dalam lantai 2 tersebut dibuat diorama yang berkisah seputar peristiwa dimulainya agresi militer Belanda pada tahun 1948, yang menjadi awal dari adanya SO 1 Maret 1949 dan Jogja Kembali.
“Lantai 3 merupakan ruang yang disebut Garbha Graha, yang merupakan ruang kosong dengan bendera merah putih di tengahnya, dan sebuah replika besar tulisan Presiden Soeharto pada dinding di sisi barat,”sebutnya.
Gunadi mengatakan, Garbha Graha merupakan ruang hening yang diperuntukkan bagi para pengunjung yang datang untuk meluangkan waktu dengan mendoakan arwah pahlawan. Ruangan tersebut juga terdapat kata mutiara tulisan tangan Presiden Soeharto yang dipahatkan di dinding barat ruang Garbha Graha itu berbunyi: ‘Rakyat dan ABRI selalu manunggal, perjuangan dan cita-cita pantang gagal. Negara dan Pancasila tetap jaya dan kekal, berkat Ridho Tuhan Yang Maha Tunggal’.
Monumen Jogja Kembali, menurut Gunadi, mulai dibangun pada 29 Juni 1985 atas gagasan Kolonel Sugiarto yang saat itu menjabat Walikota Yogyakarta dan disetujui oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pembangunan monumen memakan waktu 4 tahun, dan pembukaannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 6 Juli 1989.

Bentuk bangunan yang menyerupai gunung, menurut Gunadi, merupakan perlambang gunungan yang bermakna pelestarian budaya dan sejarah bangsa. Monumen sengaja dibangun di Dusun Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, tepat di pinggir Jalan Raya Ringroad Utara, karena berada tepat di sumbu spiritual garis imajiner yang menghubungkan antara Laut Selatan, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, Tugu Pal Putih, Monumen Jogja Kembali dan Gunung Merapi.
Dengan dibangunnya monumen tersebut, kata Gunadi, masyarakat diharapkan mengetahui benar sejarah bangsanya, dan mampu meneladani nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi membela tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
[Koko Triarko]