Mencicipi Keperawanan Air Terjun Lianiki

MINGGU, 5 JUNI 2016
MAUMERE — Desa Gera terletak 45 kilometer arah barat kota Maumere melintasi jalan negara Trans Flores. Selepas pertigaan Wolo Dolo perjalanan masih bisa ditempuh menggunakan kendaran bermotor ke arah utara, mendaki melintasi jalan aspal dan berbatu sejauh 3 kilometer.
Kembali Sabtu (28/5/2016) Cendana News mendatangi desa ini ingin menengok keindahan air terjun Lianiki.Diantar Bernadus Paro (62) Dominikus Yos (23) putra sulungnya serta Tarsisius Lidi (24)
Keberadaan ketiganya cukup membantu saat berjalan di jalan setapak samping tebing miring yang persis bersisian dengan tebing curam di sebelahnya. Saat melewati rintangan ini, Yos demikian Dominikus Yos biasa disapa bersama Nando sapaan Tarsisius Lidi, memegang tangan Cendana News untuk menjaga tubuh ini tetap seimbang dan tidak miring.
Setelah menuruni bukit yang dikelilingi kebun kemiri dan melintasi lahan bekas kebun yang baru saja dibakar, perjalanan dilanjutkan membelah hutan bambu dengan tetap menurun tajam.Bapak Bernadus sering terlihat mengayunkankan parangnya menebas ranting bambu untuk membuka jalan.
Sesekali kaki tergelincir akibat licinnya jalan yang dipenuhi daun bambu. Sandal pun terpaksa dilepas dan sisa perjalanan ditempuh tanpa alas kaki.  
Menapaki Tiwurobi
Setengah jam berjalan rombongan kami tiba di kali Tiwukopo.Dalam bahasa daerah Lio artinya air kolam.Ada dua tempat di Tiwukopo.Tiwukopo Ria atau air kolam besar,biasa dipakai warga untuk mandi. Akibat musim kemarau panjang tahun ini ( 2014 ), debit air kali Tiwukpo menurun drastis.
“ Beberapa tahun lalu debit air kali Tiwukopo masih besar. Biasanya kalau mandi di Tiwukopo Ria masyarakat sering membuat rakit agar bisa melintas mendekati air terjun kecil ( Ae Mora Loo) di ujung batu.Anak – anak sering melompat dari atas tebing batu setinggi sepuluh meter.Air di bawahnya masih dalam sekitar tiga meter “ tutur Yos.
Sementara Tiwukopo Loo artinya air kolam kecil juga biasa dipakai untuk tempat mandi.Debit airnya kecil sehingga bisa dipakai untuk berendam. Terlihat beberapa ekor anjing sedang berlarian di atas bebatuan rata di sekelilingnya sambil menunggu sang tuan mandi.Beberapa wanitaasyik mencuci pakaian.
Sinar mentari menyengat sudah mulai terlihat menembuas celah – celah rimbunnya ranting pohon dan tertutup tebing batu. Tiwurobi  ( batu – batu besar seperti punggung kuda ) seakan menantang untuk dipanjat.Ada lima batu besar setinggi 4 hingga 5 meter dengan lebar 2 sampai 3 meter berbaris. Satu demi satu batu dilintasi. Jaraknya yang berdekatan membuat kita mudah melompat,berpindah dari satu batu ke batu lain di depannya.
Lorong Batu
Mata terpana memandang sebuah batu yang terletak di dekat Tiwurobi disisi timur. Jika dilihat batu ini mirip ikan paus.Air kali mengalir melewati celah batu ini dan tebing batu sempit yang mengapitnya. Beberapa batu kecil berjejer di depan mulut batu ini.
“ Dulu air kali banjir dan warga kampung ramai – ramai menangkap udang ada di Tiwukopo Loo. Ada seorang  wanita tua yang meningal karena didorong dan terjatuh.Tubuhnya pun terseret air dan meningal.Dua hari kemudian, mayat wanita ini ditemukan. Mereka ingin mengambil gelang gading yang banyak dikenakan di tangan wanita ini.Ini yang membuat kali Tiwukopo kadang angker “ ceritera Yos.
Petualangan kembali dilanjutkan.Selepas Tiwurobi kaki melangkah lebih santai.Hanya sesekali kaki berpijak di batu kecil.Sejauh sekitar 20 meter kaki lebih banyak terendam di dalam air.Yang mengasyikan saat berjalan melintas di bawah air dengan dua batu besar di atasnya menempel bak kerucut.Kita seakan berjalan di dalam sebuah lorong. Di pinggirnya tebing curam dengan giratan – guratan indah memanjakan mata.
Kali Tiwukopo terlihat lebih banyak dipenuhi bebatuan besar.Air kali mengalir melewati celah – celah batu.Beberapa batang bambu dan kayu yang tumbang tergeletak di tengah jalan bahkan ada yang teronggok di atas batu besar.
Ke empat warga kampung yang ikut menghantar kadang harus memotong batang pohon dan memindahkan bilah bambu yang menghalangi jalan. Daun – daun kering berserakan di atas tumpukan batu di bagian kali yang tidak dialiri air.
Setelah ini kita bersiap menaiki tebing tutur Bernadus mengingatkan.Tebing dengan kemiringan sekitar 45 derajat.Tangan kadang menarik ranting pohon dan tali yang berada di sekitar untuk berpegangan.Sesekali mata melirik ke arah pinggir tebing ingin melihat aliran air di bawahnya. Kadang  air tidak terlihat akibat mengecilnya jarak kedua sisi tebing di bagian atasnya.
Perjalanan ke selatan pun terus dilakukan.Saat menuruni deretan batu pipih, sampailah kita di seonggok tanah rata di ujung terowongan yang jadi pintu masuk ke Lianiki. Kurang lebih satu jam perjalanan di tempuh. Badan direbahkan di tumpukan batu.Otot kaki pun dilemaskan.
“ Kita istirakat sebentar melepas penat. Kalau mau supaya baju tidak basah sebaiknya dilepas saja. Kita harus masuk air lagi dan jalan melawan arah ke utara sejauh kurang lebih tiga puluh meter lagi baru bisa lihat Lianiki “ sebut Bernadus

Batu Berbentuk Kepala Manusia
Tantangan kembali harus dilewati lagi.Tahap pertama, kita harus berjalan melewati air yang diapit bebatuan sempit sedalam 1 sampai 1, 5 meter sejauh kurang lebih 7 meter.Selepas itu,kaki pun menanjak naik ke atas batu setinggi 4 meter.Dari kejauhan, batu tersebut terlihat bagai kepala manusia. Batu besar di belakangnya pun nampak serupa.
Saat akan menuruni batu, terdapat sebuah batang pohon teronggok di atasnya.Kayu pohon yang melintang ini sangat membantu dan  dijadikan jalan alternatif menuruni batu untuk kembali masuk ke air kali.
Perjalanan melewati celah – celah batu kali ini berbelok ke kiri.Setelah itu berjalan ke kanan sejauh kurang lebih 5 meter. Terdapat sebuah batu tumpang menggantung diantara dua batu besar persis berada di atap tebing.Tak bisa dibayangkan apa yang terjadi saat kita melintas di bawahnya dan batu tersebut jatuh dari ketinggian sekitar 15 meter.
Jalan kembali ditempuh menyusuri air sedalam kurang lebih satu meter sejauh sekitar 10 meter hingga berakhir di ujung tanjakan.Tanjakan setinggi 4 meter ini merupakan pintu terakhir menuju Lianiki.Untung ada sebatang bambu yang tergeletak di sana.Bambu ini pun dijadikan pijakan menuju ujung tanjakan.
Hamparan kolam seluas enam meter persegi dengan air terjun Lianiki di ujungnya seakan memuaskan dahaga. Dari ujung tanjakan penulis berjalan ingin mendekati air terjun.Kedalaman air pun bertambah dan membuat penulis harus mengurungkan niat.Saat berada di pertengahan, ketinggian air sudah mencapai 1,5 meter. Jika sampai ke air terjun, perkiraan kedalaman air mencapai 2 meter.
Air di kolam Lianiki tidak terlalu jernih. Dedaunan dan sisa ranting pohon membuat air terlihat agak keruh.Tebing batu yang persis berada di bagian bawah air terjun terlihat berwarna coklat tua.Ada juga yang merupakan perpaduan warna merah tua, hijau lumut dan perak.T
ebing – tebing batu di sekelilingnya dipenuhi lubang – lubang kecil.Rupanya lubang ini dipegunakan kelelawar dan burung walet sebagai sarang.Suara lengkingan membuat kelelawar keluar dari sarangnya dan beterbangan di sekitar air terjun.
Lubang di Dinding Batu
Jika dilihat ketinggian air terjun Lianiki cuma sekitar 15 meter saja. Tapi yang membuat menarik, air terjun ini berada di dalam celah – celah batu. Untuk menggapainya kita harus melewati jalan berkelok naik turun batu dan berjalan atau berenang di air dengan total jarak sejauh kurang lebih 30 meter.
Sebuah misteri besar diceritakan penduduk kampung termasuk disampaikan Bernadus dan Yos putranya. Dikisahkan keduanya, ada sebuah lubang besar di dinding batu dekat bagian dasar air terjun.Lubang ini bisa tembus ke Tiwurega di Lekebai sekitar 3 kilometer ke arah selatan.Di ujung lubang Tiwurega juga ada lorong tembus ke Nangablo di sebelah timur sejauh kurang lebih 10 kilometer.
“ Hanya orang – orang tertentu saja yang bisa masuk ke lubang ini. Dulu pernah ada ketua adat buat ritual adat.Setelah itu air terjun kering dan mereka masuk di lubang ambil sarang burung walet.Tapi sekarang sudah tidak lagi.Masyarakat tidak berani masuk ke sana kecuali ketua adat dan orang – orang yang mempunyai kemampuan lebih “ papar Yos.
Sebelum memasuki lorong menuju Lianiki, kata Bernadus, kita harus meminta restu.Biasanya dengan meletakan telur ayam di jalan masuk di depannya seraya memohon izin kepada leluhur dan penjaga Lianiki.Sebelum makan pun kita harus memberi Piong ( sedikit makanan ) di atas batu dan memanggil ( bersuara kecil atau berucap dalam hati ) agar arwah dan penjaga Liniki bisa makan bersama kita.
“ Ini supaya mereka bisa menjaga kita selama berada di sini dan dalam perjalanan pulang. Kami percaya tempat ini ada penunggunya.Ritual ini wajib dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada mereka.Banyak orang mengambil foto bahkan membuat video tapi saat mau dilihat foto dan gambarnya hilang “ ucap Bernadus.
Puas berada sebentar menatap Lainiki dan tebing batu sekitarnya, penulis dan rombongar ke luar setelah tak lupa mengabadikannya.Keinginan untuk tidak menyia – nyiakan kesempatan langka ini berjalan ke selatan menyusuri kali.Hamparan batu – batu cadas berukuran besar tergeletak di tengah kali sekan menghambat perjalanan.
Tumpukan batu cekung yang dialiri air terlihat berwarna merah kehitaman. Batu dengan permukaan rata ini persis berada di samping sebuah batu bulat setinggi kurang lebih 3 meter dan lebar 2 meter.
Di atas batu ini tumbuh sebuah pohon beringin setinggi 5 meter.Akarnya memenuhi batu dan menjuntai hingga menyentuh air kali.Beberapa bebatuan ceper di bawahnya terlihat dipenuhi dedaunan kering.
Rombongan Cendana News sempat mandi di kali dan beristirahat sejenak menikmati kelapa muda di kebun milik Bernadus.Air di kampung tidak ada, jadi pas berada di kali kita sekalian mandi, ungkap Nando sembari berendam di celah batu yang dialiri air jernih.Dari kebun Bernadus, terlihat sebuah batu besar menjulang tinggi di utara persis di punggung bukit.
“ Tempat itu namanya Watu Sani. Daerah itu merupakan tempat tinggal kera. Orang – orang yang ingin berguru atau mencari ilmu katanya sering mendatangi tempat itu “ jelas Yos. (Ebed de Rosary)
KETERANGAN FOTO
Foto 1 : Menyusuri Tiwurobi batu berbentuk punggung kuda.
Foto 2 : Air terjun Lianiki yang berada di dalam  gua.
Foto 3 : Batu berbentuk kepala manusia di mulut gua.

Lihat juga...