MINGGU, 5 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning di Desa Minomartani, Ngaglik, Sleman, merupakan satu dari empat Masjid Pathok Negoro yang dibangun oleh Keraton Kesultanan Yogyakarta di masa Sultan Hamengku Buwono I. Masjid tersebut dibangun sebagai benteng kerajaan. Tidak hanya benteng fisik, melainkan juga benteng spiritual.
![]() |
| Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning |
Takmir Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning, M Khamudin Purnomo, mengatakan, Masjid Ploso Kuning erat berhubungan dengan sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta di masa Sultan HB I. Namun, katanya, keberadaan Masjid Ploso Kuning itu sebenarnya lebih dahulu ada sebelum Keraton Yogyakarta berdiri pada tahun 1755 Masehi. Awalnya, kata Khamudin, Masjid Ploso Kuning hanya berupa masjid kecil yang ada di selatan Masjid Ploso Kuning yang sekarang. “Ketika Keraton Yogyakarta berdiri, masjid itu kemudian dipindah dan diperbesar dan menjadi Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning yang ada hingga sekarang ini”, jelas Khamuidn, saat ditemui Minggu (5/6/2016).
Sebagai masjid tua dan bersejarah, lanjut Khamudin, Masjid Ploso Kuning masuk dalam kategori Benda Cagar Budaya, sehingga keberadaannya dilindungi. Berbagai upaya perbaikan harus seizin Keraton Yogyakarta dan Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya DI Yogyakarta. Sejauh ini, Masjid Ploso Kuning mengalami perbaikan sebanyak lima kali. Semua perbaikan dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya.
Dijelaskan Khamudin, ada 4 buah Masjid Pathok Negoro yang keberadaannya hingga kini masih dilestarikan. Menurutnya, keempat masjid itu disebut masjid pathok negoro, karena fungsinya sebagai benteng keraton, baik benteng dalam pengertian fisik maupun spiritual. Empat Masjid Pathok Negoro berada di empat penjuru mata angin, yang dalam filosofi Jawa disebut pajupat lima pancer. Artinya, papat kiblat lima pancer, yaitu empat kiblat dan yang kelima adalah pancer atau pusat, yaitu Masjid Agung Keraton Yogyakarta.
![]() |
| Kolam Masjid Ploso Kuning |
Menurut Khamudin, Masjid Pathok Negoro menjadi benteng spiritual karena di masjid itu ada orang yang diberi tugas khusus menjaga kemakmuran masjid. Bahkan, fungsi Imam Masjid Pathok Negoro pada masa itu lebih dari sekedar Imam Masjid. Melainkan, juga sebagai penasehat negara atau fatuh negara. Karena itu, masjid tersebut dinamakan Masjid Pathok Negoro, dari kata fatuh yang berarti penasehat. “Namun, karena keberadaannya di empat penjuru keraton, pengertian pathok negoro juga sering diartikan sebagai pathok yang berarti batas”, ungkapnya.
Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning, lanjut Khamudin, berdiri di atas tanah Sultan seluas 2.500 meterpersegi, dengan bangunan masjid seluas sekitar 800-an meter persegi. Di sebelah baratnya terdapat makam tua, yang merupakan persemayaman para takmir masjid sejak zaman Sultan HB I. Masjid Ploso Kuning, katanya, dibangun oleh putra dari Kyai Nur Iman, yang merupakan saudara tua Sultan HB I. Sebagai masjid tua dan bersejarah, Masjid Ploso Kuning pun sarat dengan nilai-nilai filosofi dan keunikan masjid tua zaman dahulu. Seperti mustoko masjid yang terbuat dari tanah liat berbentuk gada bersulur yang hingga kini masih ada. Sementara itu, bagian atap yang awalnya terbuat dari sirap atau tajuk, sejak tahun 1946 telah diganti dengan genting.
Menurut Khamudin, Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning mengalami lima kali perbaikan. Empat di antaranya dilakukan oleh Dinas Kebudayan DI Yogyakarta. Tentu saja perbaikan dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya, seperti pintu masuk ke dalam masjid yang sangat rendah, dibiarkan tetap ada. Pintu masjid yang rendah itu dimaksudkan agar setiap orang membungkuk ketika masuk ke dalam masjid sebagai bentuk tata krama. Pintu tersebut dipertahankan keberadaannya, namun guna melancarkan arus masuk ke dalam masjid dibuat tiga pintu tambahan. Beberapa bagian lainnya yang masih dipertahankan adalah tiang utama penyangga dari kayu jati, mimbar dan tongkat serta beduk.
![]() |
| M Khamudin Purnomo |
Sementara itu berbagai nilai filosofi dicerminkan melalui beberapa bagian bangunan masjid. Antara lain, pada bagian gerbang masuk komplek masjid. Tiga undakan pertama berjumlah tiga undakan yang berarti Iman, Islam dan Ikhsan. Lalu, 5 undakan kedua melambangkan Rukun Islam dan 6 undakan ketiga melambangkan Rukun Iman. Keberadaan dua buah kolam di depan serambi masjid juga masih dilestarikan hingga kini. Sebagaimana masjid di zaman dahulu, kata Khamudin, keberadaan kolam di depan masjid berfungsi sebagai tempat wudhu. Bahkan, katanya, di zaman dahulu kolam tersebut harus dilintasi setiapkali hendak masuk masjid. Tujuannya untuk membersihkan kaki.
Masjid Ploso Kuning tak hanya dilestarikan bangunan fisiknya saja. Melainkan juga berbagai tradisi di masa lalu terus dikembangkan hingga kini. Pada setiap Bulan Ramadhan, beragam tradisi masa lalu digelar lebih besar. Antara lain pengajian, Solawatan Jawa, pembacaan kitab suci Al-quran dan banyak lagi. (koko)

