MINGGU, 5 JUNI 2016
ACEH — Di Provinsi Aceh, jelang Ramadhan biasanya disambut dengan tradisi makan daging sapi atau dalam bahasa Aceh disebut tradisi Meugang atau Mak Meugang. Tradisi ini dilakukan masyarakat Aceh ketika menyambut bulan suci Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Sejak sore hari satu hari sebelum hari meugang, para pedagang daging sapi dadakan telah bersiap-siap. Berjejeran lembu atau sapi telah siap disembelih untuk dijual pada hari meugang. Biasanya, para pedagang ini bekerja menyembelih, membersihkan daging sapi tersebut hingga dini hari sebelum dibawa ke pasar pada keesokan harinya.
Saat matahari baru saja menyembul sinarnya dari ufuk timur, pasar-pasar di Aceh telah sibuk. Puluhan bahkan hingga ratusan meja berjejeran bergantungan daging-daging sapi yang telah disembelih sebelumnya.
Hari itu, pasar berubah menjadi lautan daging sapi dan manusia. Ribuan masyarakat memadati pasar-pasar untuk membeli daging sapi. Daging-daging tersebut akan dimasak dan dinikmati bersama keluarga tercinta di rumah. Itulah yang dilakukan masyarakat Aceh tiap kali hari meugang.
Jika dilihat dari sejarah, sebenarnya tradisi makan daging pada hari meugang telah ada sejak abad 17 di Aceh. Tradisi ini digagas pada masa kepemimpinan Raja Aceh, Sulthan Salathin Alaidin Ri’ayat Syah atau yang lebih dikenal Po Teumerhom, seorang Raja Aceh yang cukup terkenal pada masa itu.
Budayawan sekaligus Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, Yusdedi, kepada Cendana News, Minggu (5/6/2016), mengatakan, pada masa itu, Po Teumerhom, menginginkan rakyatnya gembira saat menyambut bulan suci ramadhan.
Sebagai Raja, Po Teumerhom, katanya tidak ingin ada rakyatnya yang bersedih saat ramdadan tiba. Karena barang siapa bahagia ketika menyambut bulan suci ramadhan maka diharamkan api neraka menyentuh tubuhnya, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad.
“Berdasarkan hadist rasul tersebut, Po Teumerhom memerintahkan perdana menterinya untuk membagi-bagikan daging sapi sehari sebelum ramadhan, agar tidak ada orang miskin dan anak yatim bersedih ketika bulan puasa,” ujar Yusdedi.
Kala itu kata Yusdedi, Po Teumerhom memberi nama Makmue Gang. Makmue berarti Makmur atau sejahtera sementara Gang adalah lorong-lorong atau gang. “Jadi Po Teumerhom ingin semua orang disetiap gang atau lorong itu gembira, semua lorong diberikan daging sapi olehnya.”
Selain memberikan daging, pada masa itu, lanjut Yusdedi, Raja Po Teumerhom, juga memerintahkan menteri-menterinya membagi-bagikan kasin sarung dan mukena. “Biar masyarakat gembira ketika beribadah, shalat tarawih,” cerita Budayawan Aceh tersebut.
Hingga saat ini, tradisi ini masih terus dijalankan oleh masyarakat Aceh. Hari ini, Minggu (5/6/2016), adalah hari Makmue Gang yang dirayakan oleh masyarakat Aceh. Hampir tidak ada warga Aceh yang tidak menikmati hidangan daging pada hari ini.
Jikapun ada warga yang terlalu miskin, menurut Yusdedi, sesuai dengan adat Po Teumerhom dulu, menjadi tanggungjawab pemerintah memberikan daging agar warganya merasakan gembira. “Pemerintah sekarang bertanggung jawab memberikan daging bagi siapa saja warganya yang tidak mampu membeli daging agar warganya gembira menyambut ramadhan,” jelas Yusdedi.
Tradisi ini juga yang kerap membuat harga daging di Aceh setiap tahunnya melambung tinggi. Pada meugang tahun ini, harga daging sapi dijual berkisar antara Rp.150.000 hingga Rp.180.000 perkilogramnya.
Harga ini jauh dari harga biasanya yang berkisaran antara Rp.120.000 hingga Rp.130.000 perkilogramnya. “Memang begitu, setiap tahun pasti naik,” ujar Nurhayati, salah seorang pedagang daging sapi di pasar tradisional Lhokseumawe, Aceh.
Meskipun begitu, tidak mengurungkan niat masyarakat Aceh dalam membeli daging sapi tersebut. Kebiasaan menikmati beraneka olahan hidangan daging sapi khas Aceh membuat masyarakat Aceh tetap ingin menyambut ramadhan dengan gembira seperti adat yang telah digagas oleh Po Teumerhom.(Zulfikar Husein)