RABU, 15 JUNI 2016
SURABAYA — Lima orang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berhasil menciptakan skrup tulang yang aman tanpa perlu dilepas jika patah tulang sudah sembuh. Biasanya penanganan internal tulang yang patah atau retak menggunakan sekrup dan plat berbasis logam seperti platina dan stainless steel. Kini ada sekrup tulang berbahan dasar polimer dan keramik yang aman bagi tubuh.

Meskipun logam platina memiliki sifat mekanik yang baik, tetapi harganya relative mahal. Kedua, penggunaan stainless steel dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan korosi yang membahayakan tubuh. Selain itu, metode ini dirasa kurang efektif karena skrup dan plat yang digunakan harus diambil setelah tulang tersambung kembali. Pengambilan sekrup inilah yang kemudian menyisakan lubang pada tulang dan menimbulkan permasalahan baru.
Kelima mahasiswa Teknobiomedik, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga melakukan upaya dan menawarkan alternatif solusi dalam penanganan kasus patah tulang dengan hasil penelitian eksakta yang didanai oleh DIKTI Kemenristek Dikti. Penelitian berjudul “Biodegradable Bone Screw Anti Bakteri Berbasis Komposit Nano Hidroksiapatit Poly (1,8 Octadienol-Co-Citrate)” itu dikerjakan oleh Imroatus (Teknobiomedik 2012), Andini (Teknobiomedik 2012), Nurul (Teknobiomedik 2014), Bagus (Teknobiomedik 2014), dan Rhisma (Teknobiomedik 2014) dengan dibawah bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, drg. M.Kes.
Sekrup tersebut terbuat dari nano hidroksiapatit [Ca10(PO4)6(OH)2] dan POC [Poly (1,8-octanediol-co-citrate)]. Yang kedua, material ini dipilih sebagai kandidat biodegradable bone screw karena POC memiliki sifat nontoksik, biokompatibel, biodegradable, sintesisnya relative mudah, dan meningkatkan sifat mekanik. Sedangkan nano hidroksiapatit berfungsi sebagai filler karena kompatibel terhadap jaringan tulang. Kemudian kitosan sebagai coating yang bersifat anti-bakteri melalui kelompok amino bermuatan positif yang mengikat muatan negative membran bakteri.
Hasil dari karakterisari sekrup tulang ini memiliki kekerasan 1482,68 MPa, sehingga sudah diatas kekerasan tulang manusia yakni 150-664 MPa dan kekuatan tekan sebesar 8,14 MPa sesuai dengan kuat tekan tulang cancellous antara 2-12 MPa. Sedangkan dari uji anti bakteri, telah terbukti bahwa bahan kitosan sebagai coating ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus di sekitar luka.
“Untuk proses pembuatan dari polimer hingga menjadi komposit selama sekitar 2 minggu,” jelas Imroatus saat dihubungi Cendana News, Rabu (15/6/2016).
Penelitian ini pun mengalami kesulitan seperti penggunaan alat refluks yang memerlukan bantuan laboran mbak, serta pengaturan suhu pada saat proses prepolomerisasi agak dapat terbentuk prepolime. Serta kesulitan menentukan komposisi yg pas agar polimer dan keramik bisa membentuk komposit sesuai literatur.
“Karena komposisi polimer dan keramik akan menentukan kekuatan mekanik dari sekrup tersebut agar dapat diaplikasikan dalam tubuh,” cakapnya.
Ditanya masalah dana, Imroatus menerangkan membutuhkan sekitar Rp 7,5 juta. Dengan dana sebesar itu tidak rugi jika digunakan pasalnya tidak perlu ada operasi ulang untuk pencopotan sekrup. Dan diharapkan sekrup akan meluruh dalam waktu 21 bulan sesuai dengan massa penyambungan tulang, sehingga tidak perlu dilakukan operasi pengambilan sekrup kembali.
Untuk kelebihan sendiri, Imroatus menegaskan dari hasil uji sitoktoksisitas sekrup ini bersifat tidak toksik dan bersifat anti bakteri, sehingga bisa dikatakan aman.”Iya nantinya diharapkan sekrup ini melebur bersama sistem metabolisme tubuh,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).