Kuli Panggul Pelabuhan Tantang Bahaya Demi Dulang Rupiah

SELASA, 28 JUNI 2016

LAMPUNG — Ratusan petugas yang ada di Pelabuhan Bakauheni selama angkutan arus mudik mulai menunjukkan peningkatan. Puluhan anggota polisi, pramuka, petugas kesehatan serta petugas lain, menjelang angkutan mudik penambahan petugas semakin terlihat. Diantara petugas petugas tersebut puluhan diantaranya berseragam menyala orange yang terlihat mondar mandir diantara calon penumpang. 

Gesit dan lincah serta penuh perhatian memperhatikan setiap penumpang yang turun dari kendaraan bus, angkutan kota mencari penumpang yang membawa barang bawaan. Tawar menawar harga dengan penumpang untuk memperbolehkan barang bawaannya diangkut oleh mereka dengan imbalan jasa angkut sesuai kesepakatan.

Para pria berseragam orange tersebut dikenal dengan nama buruh tentengan, kuli panggul atau porter pelabuhan yang siap mengangkut barang milik calon penumpang kapal. Terkadang berlari, menunggu, bahkan berebut dengan para penyedia jasa lain diantaranya para penyengget atau pencari penumpang untuk kendaraan travel dan bus. Selain mencari penumpang yang terlihat membawa barang bawaan cukup banyak diantaranya bungkusan kardus, karung di area terminal, mereka juga harus berlarian di gangway untuk mencari penumpang yang akan turun dari kapal.
Momen momen berbahaya terlihat saat para kuli panggul tersebut harus bergelantungan, meloncat dari gangway ke dek kapal yang tengah melakukan olah gerak sandar ke dermaga. Tak jarang dalam kondisi kapal masih berjalan beberapa diantaranya meloncat tanpa menghiraukan resiko terbentur badan kapal serta terjatuh sekitar 4 meter dari gangway.
“Kalau kami tidak gesit kalah dengan yang lain karena dalam setiap kapal yang menggunakan jasa kuli panggul terkadang tidak banyak hanya sekitar 4 hingga lima orang sementara jumlah kuli panggul kadang lebih dari itu sehingga harus berebut meski harus berlompatan ke kapal,”ungkap Sobirin, salah satu buruh panggul yang sudah empat tahun bekerja di pelabuhan Bakauheni, Selasa (28/6/2016).
Sobirin juga mengaku upaya menantang bahaya tersebut bukan tak pernah memakan korban. Sudah hampir empat hingga lima kawannya sesama kuli panggul mengalami kecelakaan diantaranya terjatuh ke laut, terjatuh dari gangway diantaranya mengalami patah tangan, cedera ringan bahkan ada yang patah kaki hingga tak lagi bekerja.

Kecelakaan tersebut terjadi karena kuli panggul meloncat dari tangga penumpang sebelum kapal benar benar bersandar di dermaga. Peringatan dari operator kapal, pihak PT ASDP, kepolisian terkadang diindahkan beberapa saat kemudian meski akhirnya setelah berjalannya waktu resiko menantang bahaya tersebut tetap dilakukan demi mendulang rupiah.

Ia mengaku saat ini jumlah kuli panggul yang ada di Pelabuhan Bakauheni sebanyak 70 orang dengan sistem pembagian kerja siang dan malam menyesuaikan jadwal. Namun khusus untuk angkutan lebaran mudik dan balik, peraturan tentang shif tersebut tidak mengikat karena jumlah penumpang akan membludak lebih dari hari biasa bahkan jumlahnya mencapai ribuan orang.
Sobirin mengaku rata-rata pemakai jasanya adalah kaum perempuan yang sudah tua, wanita yang membawa serta anak anak serta penumpang yang membawa barang bawaan lebih dari satu. Soal upah, ia mengakui tergantung kesepakatan yang rata rata dipatok dari mulai Rp20ribu hingga Rp25ribu sekali angkat.

Ia pun mengaku dalam sehari tak jarang membawa pulang uang sekitar Rp300ribu-Rp400ribu terutama pada musim angkutan mudik lebaran saat jumlah penumpang sangat banyak. Bukan perkara mudah memperoleh uang sebanyak itu, sebab meski terlihat peluang banyak penumpang namun tak semua penumpang mau menggunakan jasanya.

“Terkadang ada yang tak mau menggunakan jasa kami karena memang mengangkat barangnya sendiri dan ada yang memang tak bisa membayar jasa kami, makanya kami harus pintar pintar merayu,”ungkap Sobirin terkekeh saat menunggu KMP Mutiar Persada bersandar.

Uang perolehan jasa porter tersebut menurut Sobirin disisihkan untuk membeli keperluan rumah tangga, sebagian ditabung dan meski sebagai kuli panggul ia memiliki perkumpulan yang juga tergabung dalam Pergasam (Perkumpulan pedagang dan usaha minimarket) di Pelabuhan yang mencakup anggota kuli panggul dengan kewajiban membayar iuran bulanan sebesar Rp30ribu perbulan. Sulitnya menjadi kuli panggul saat ini diakui oleh Sobirin dan rekannya, Andi, akibat penerapan sistem e-ticketing dengan sekat sekat yang mewajibkan penggunaan sistem sidik jari dan kartu pas.
Kartu pas dan sistem sidik jari tersebut membuat dirinya tak bisa sembarangan memasuki area area tertentu dan harus taat berada pada zona khusus. Meski demikian keputusan sterlisasi tersebut memberi keuntungan baginya karena bisa mencari uang sesuai dengan kekuatan fisik yang dimiliki. Saat penumpang sepi, para tukang panggul bahkan bersenda gurau dan duduk duduk di loby penumpang dan sebagian beristirahat di area terminal pelabuhan.
Kepala Binmas Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, Ipda Maulana mengungkapkan, seluruh kuli panggul atau porter yang ada di pelabuhan Bakauheni sudah terdaftar dalam organisasi khusus. Selain menghindari oknum tak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi dengan modus menjadi kuli panggul untuk mendapatkan keuntungan pribadi, organisasi khusus tersebut juga memiliki data, alamat, lama bekerja, serta nomor baju yang bisa digunakan untuk melacak nama kuli panggul yang bertugas.
“Jadi kalau ada penumpang yang kehilangan barang atau terselip barang ketika menggunakan jasa kuli panggul maka pengguna jasa harus hapal nomor yang ada di baju kuli panggul tersebut,”ungkap Maulana.
Ia juga berkoordinasi dengan pihak ASDP terutama saat menemukan kuli kuli panggul yang membandel terutama tidak mematuhi aturan diantaranya tidak membawa kartu identitas, atau mendapat laporan dari penumpang adanya kuli panggul yang memaksa dalam meminta upah.
Selama ini ia mengaku selalu memberi pengarahan kepada kuli panggul yang ada di Pelabuhan Bakauheni untuk melakukan tugasnya dengan baik. Sebab meskipun bertugas sebagai kuli panggul namun selama ini jasa kuli panggul sangat diperlukan oleh para pengguna jasa yang akan naik ke kapal atau turun dari kapal dengan jarak yang cukup jauh sekitar 500 meter dari pintu kapal melalui gangway ke terminal kedatangan atau loket pembelian tiket penumpang.
Berpeluh dan sesekali membawa handuk kecil untuk mengusap peluh, para kuli panggul akan berlarian di tengah senda gurau mereka. Melihat pembawa barang banyak sebagai pundi pundi rupiah yang akan dibawa pulang untuk keluarga. Mengabaikan bahaya, mengabaikan rasa malu, mengabaikan rasa lelah dan menawarkan jasa untuk membawa barang penumpang. Harapannya hanya satu, mendapatkan uang untuk digunakan berlebaran bersama anggota keluarga yang menunggu di rumah.
[Henk Widi]
Lihat juga...