SELASA, 14 JUNI 2016
PONTIANAK — Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, menjadi salah satu kota dari empat kabupaten/kota di Kalimantan Barat (Kalbar) yang masuk dalam penilaian untuk meraih kesempatan mendapat penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN).
Penghargaan WTN adalah penghargaan yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia kepada kota-kota yang mampu menata transportasi publik dengan baik. Penghargaan ini diberikan setiap tahun. Penilaian dilakukan oleh tim dari pusat yang berasal dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI.
Dalam surat keterangan siaran pers yang diterima, Ketua Tim Penilai, Sulistyo menyebutkan, meskipun Pontianak baru pertama kalinya mengikuti anugerah di bidang transportasi ini, namun dari aspek pembenahan infrastruktur jalan serta pelebaran jalan diakuinya sudah cukup baik.
“Yang menariknya lagi, peran serta warga yang menyerahkan sebagian lahannya untuk pelebaran jalan tanpa ganti rugi. Ini yang patut kita apresiasi,” ujar Sulistyo usai pemaparan penilaian tahap III di ruang rapat Wali Kota, Selasa (14/6/2016).
Dikatakannya, proses penilaian melalui beberapa tahapan. Tahap pertama yakni tahap administrasi, yang menilai adalah pemerintah provinsi untuk diusulkan ke tim penilai pusat. Dari usulan tersebut, tim penilai melakukan verifikasi. Sebanyak empat kabupaten/kota di Kalbar yang diusulkan, keempat-empatnya memenuhi syarat untuk dilakukan penilaian lanjutan. Penilaian tahap kedua adalah pengamatan di lapangan. Tahap ketiga, ekspose dari Pemkot Pontianak.
“Hasil dari penilaian ini akan dibawa ke Jakarta untuk dibahas oleh tim. Rencananya penyerahan penghargaan akan disampaikan pada 17 September bertepatan Hari Pehubungan Nasional,” ujar Sulistyo.
Sulistyo mengakui, sarana angkutan umum di Pontianak memang masih memprihatinkan disebabkan banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi. Namun di sisi lain, penyediaan dan pembenahan trotoar-trotoar bagi pejalan kaki, penyediaan lajur khusus sepeda dan beberapa hal lainnya sudah cukup baik.
“Apalagi Pemkot mulai tahun ini mulai membangun trotoar-trotoar yang humanis bagi pejalan kaki. Tinggal bagaimana peran masyarakat sebagai pengguna jalan,” kata Sulistyo.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, masukan-masukan dari tim penilai akan menjadi bahan bagi Pemkot untuk pembenahan serta perbaikan. Menurutnya, ikut dalam ajang ini bukan berarti harus menjadi yang terbaik, tetapi supaya pihaknya bisa mengidentifikasi kelemahan-kelemahan sehingga segera dilakukan perbaikan. Terkadang ada hal-hal yang dianggap sepele namun itu masuk dalam aspek penilaian. Misalnya, menempatkan pot bunga pada sisi area zebra cross.
“Makanya kita mesti ikut dalam ajang ini supaya kita tahu di mana kelemahan atau kekurangan kita. Dengan mengetahui kelemahan itu, kita lakukan perbaikan,” ujar Sutarmidji.
Dikatakannya, untuk angkutan umum, sebagaimana masukan dari tim penilai, rutenya harus ada dan sarana angkutan harus lebih nyaman. Sementara angkutan umum yang ada di Pontianak kini sudah tidak layak lagi. Pihaknya berencana akan memfasilitasi dengan menggandeng perbankan untuk mendorong sarana angkutan umum tumbuh kembali.
Di sisi lain, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, dirinya menggagas untuk mengkampanyekan two in one bagi pelajar yang menggunakan sepeda motor. Konsepnya, jika seorang pelajar menggunakan sepeda motor, ia bisa membonceng temannya yang memang tempat tinggalnya searah atau satu rute. Hari berikutnya, teman yang dibonceng tadi, membonceng teman yang kemarin menjemputnya.
“Jadi mereka bergiliran berboncengan sepeda motor menuju ke sekolah dan sebaliknya. Kita akan sosialisasikan itu di sekolah karena manfaatnya untuk mereka juga, selain lebih irit bensin, tempat parkir jadi lebih lega dan lalu lintas tidak macet,” Sutarmidji menjelaskan.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Pontianak, Uti Sri Lena menyatakan, WTN bertujuan untuk penyelenggaraan transportasi yang handal dan berkelanjutan, untuk memberikan rasa persamaan hak bagi pengguna jalan, kenyamanan serta kerjasama antara masyarakat dengan Pemkot secara berkelanjutan serta mengurangi angka kecelakaan lalu lintas.
“Misalnya kalau jalan rusak, itu kan tidak memberikan rasa aman dan nyaman. Makanya Pemkot gencar melakukan pembangunan infrastruktur jalan untuk memberikan rasa aman, nyaman dan keselamatan bagi pengguna jalan,” katanya.
Terkait transportasi umum, terutama oplet, sebelumnya berjumlah 700-an, kini hanya tersisa 325 opelet yang masih beroperasi di wilayah Kota Pontianak. Untuk membangkitkan transportasi umum ini, pihaknya berencana mengarahkan opelet yang ada beralih untuk melayani antar jemput anak sekolah.
“Dengan catatan, mereka harus berlabel resmi perusahaan sebab angkutan umum harus di bawah pengelolaan Perseroang Terbatas (PT) atau koperasi,” jelas Utin.
Ia berharap, kemajuan IT bisa membawa angin segar bagi pengaturan transportasi di Kota Pontianak. Pemanfaatan IT di bidang transportasi akan memberi dampak luas bagi masyarakat sebagai pengguna jalan.
“Saya berharap pemanfaatan IT sudah bisa mengatur segala transportasi di Kota Pontianak untuk memberi rasa aman dan keselamatan bagi pengguna jalan,” ujarya.
[Aceng Mukaram]