SENIN, 27 JUNI 2016
SOLO — Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu malam (27/6/16), menggelar tradisi tahunan malam selikuran (malam ke dua puluh satu puasa). Tradisi menyambut turunnya wahyu lailatul qodar ini, merupakan tradisi sejak zaman Paku Buwono ke IV bertahta .

Malam selikuran Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat digelar dengan kirab yang diikuti ratusan abdi dalem. Sembari berjalan mengelilingi Keraton hingga Masjid Agung, ratusan abdi dalem membawa lampu ting atau tradisional jawa. “Ini merupakan tradisi untuk menyambut turunnya malam lailatul qodar, di sepuluh hari terakhir selama bulan Ramadhan,” ujar KPA Winarno Kusumu, salah satu Sentana Keraton Kasunan Surakarta, disela-sela kirab.
Selain membawa lampu ting, rombongan kirab juga membawa ancak cantaka atau wadah wadah, yang berisi nasi dengan lauk lauk. Seperti telur puyuh, dan kedelai hitam. Dalam kirab mala selikuran ini, turut dikirab tumpeng sewu atau tumpeng seribu, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas segala limpahan berkahnya.

“Kirab malam selikuran ini merupakan sebuah akulturasi budaya antara jawa dengan islam. Tradisi tahunan ini menghadirkan tradisi islam jawa dengan simbol simbol. Kirab ini sekaligus sebagai syiar agama islam, seperti yang dilakukan Raja-Raja Keraton sebelumnya,” terang KPA Winarno.
Bagi Keraton Kasunanan Surakarta, malam selikuran adalah malam yang istimewa. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi Keraton Dinasti Mataram ini untuk melestarikan tradisi malam selikuran. Tradisi malam selikuran ini ditutup dengan makan bersama dengan masyarakat, setelah dilakukan doa oleh Kyai di Masjid Agung Solo. jelas KPA Winarno,
”Pesan yang ingin di sampaikan melalui kirab malam selikuran adalah agar semakin meningkatkan ibadah selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Antusias masyarakat dari tahun ke tahun cukup banyak mengikuti tradisi malam selikuran, meskipun hingga larut malam,” pungkasnya. (Harun Alrosid)