SENIN, 13 JUNI 2016
SURABAYA — Lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya saat melaksanakan Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-M), melakukan program KASIH WUS (Kader Usaha Sehat Wanita Usia Subur), hal tersebut dilakukan sebagai langkah preventif toxoplasmosis guna menekan angka keguguran dan kecacatan lahir bayi.

Kelima mahasiswa ini yakni Nurul Tri Wahyudi (Fakultas Kedokteran Hewan (FKH)/2013), Rizqi Zuoida (Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)/2013), Anjar Ani (Fakultas Keperawatan (FKp)/2013), Arya Bagaskara (FKH/2013), Romy Muhammad Dany (FKH/2013). Bertempat di Posyandu Wonokusumo Surabaya, Nurul Tri Wahyudi dan tim melakukan bentuk kegiatan berupa promosi kesehatan meliputi : 1. Promosi kegiatan tersebut, 2. Focus Grup Discussion, 3. Seminar dan coaching clinik, 4. Pembentukan kader dan volunter, 5. Medical cek up dan pengobatan gratis, 6. Adanya modul, buku saku, stiker kesehatan, video promosi kesehatan dan ruang kendali toxoplasmosis.
Pengenalan berupa bahaya yang dapat ditimbulkan pada manusia yang terjangkit, ibu yang hamil dan pada bayi. Pada ibu yang terjangkit gejalanya asimtomatis seperti virus zika yang saat ini marak diberitakan. Hanya mudah lelah, lesu, sedikit demam namun disertai pembesaran limfoglandula. Penyakit ini mirip HIV AIDS yaitu menurunkan kekebalan tubuh.
Tapi pada orang dewasa tidak menimbulkan kerugian besar dan kematian. Namun sangat berdampak pada bayi yang induknya terinfeksi yaitu dapat mengakibatkan keguguran, hidrocephalus, mikrochepalus, lahir tanpa batok kepala, gangguan penglihatan dan cacat mental.
“Protozoa ini menyerang k susunan saraf dan otot. Ditularkan dari kotoran kucing dan daging, telur, susu, sayur dan air yang terkontaminasi,” jelas Ketua Tim, Nurul Tri Wahyudi saat ditemui di Unair, Senin (13/6/2016).
Penularan toxoplasmosis masyarakat awam menyebut dari bulu kucing, sehingga masyarakat takut memelihara, namun yang benar adalah kotoran kucing. Penularan terjadi ketika tidak sengaja memakan makanan yang terkontaminasi kotoran kucing, daging, telur yang kurang masak,sayur yang tidak bersih yang terkontaminasi dan dari induk ke anak.
Ada tujuh langkah pencegahan penularan, yakni pertama sanitasi dan kebersihan lingkungan. Saat memasak daging harus yang matang benar, mencuci sayur dengan bersih, mencuci tangan setelah bersama hewan kesayangan dan sebelum makan, tidak mencampur pisau pemotong daging dengan yang lain.
Kedua, perawatan kesehatan hewan kesayangan / kucing, pemberian vaksin, menjaga kebersihan, diberikan makanan cukup, tidak dibiarkan berburu, di sediakan kadang dan bak penampungan kotoran, tidak meliarkan kucing.
Ketiga, kotoran kucing di tampung pada bak pasir, kotoran kucing di siram air panas untuk membunuh kuman dan tidak membuang sembarang tempat. Keempat, hindarkan anak dari bermain pasir yang beresiko tinggi adanya penyakit dari kotoran kucing. Kelima, batasi jumlah kucing / kucing dan liar dan tikus. Keenam, pemeriksaan dini pada calon ibu yang berencana hamil.
“Dan ketujuh, ketika hamil jauhi kucing. Selain itu jangan sampai lupa melakukan pemeriksaan toxoplasmosis dengan uji lab darah,” ujarnya.
Uji lab darah bisa dilakukan di rumah sakit dan klinik terdekat. Saat ini telah ada teskit yang bernama toxokit yang dapat mendeteksi penyakit toxoplasmosis secara cepat. (Charolin Pebrianti).