LAMPUNG — Ratusan mebel terdiri dari kursi, meja, almari terlihat masih dikerjakan oleh beberapa pekerja di depan rumah sederhana milik Sarifudin (39) warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Selain beberapa pekerja yang sibuk mengerjakan peralatan mebel, sang isteri Sehani (37) dan sang mertua bahkan terlibat dalam penyelesaian pembuatan kursi yang segera akan diambil oleh pemesan.
Sarifudin mengakui permintaan pembuatan mebel dua bulan menjelang tahun ajaran baru sekolah dan menjelang lebaran Idul Fitri meningkat sekitar 50 persen dibanding hari biasa. Peningkatan tersebut terjadi karena kebutuhan mebel baru dibutuhkan dalam dua kegiatan yang cukup penting tersebut yakni hari raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru sekolah.
Sarifudin mencatat dua bulan menjelang tahun ajaran baru, sebanyak 2 sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) memesan sebanyak 180 mebel komplit berbagai jenis diantaranya meja murid, meja guru, kursi, papan tulis, lemari, serta kotak sampah kayu. Pesanan dari beberapa sekolah tersebut bahkan memaksanya menambah jumlah karyawan yang sebelumnya hanya dikerjakan bersama sang isteri kini dikerjakan oleh sebanyak 7 karyawan lain yang membantu pembuatan mebel untuk keperluan sekolah. Penambahan karyawan dilakukan untuk memenuhi target penyelesaian mebel sekolah serta pesanan dari pelanggan perseorangan untuk persiapan lebaran.
“Semua pesanan saya terima dan target harus diselesaikan diantaranya pembuatan mebel untuk ruang tamu, ruang makan milik pelanggan keluarga baru yang akan menggunakan mebel dari kayu jati berupa meja kursi,”ungkap Sarifudin saat ditemui media Cendana News di tempat pembuatan mebel miliknya, Selasa (14/7/2016).
Sebanyak 8 pesanan seperangkat mebel ruang tamu dan ruang makan bahkan sebagian telah dikerjakan hingga tahap pendempulan, pengecatan menunggu pelanggan mengambilnya. Pembuatan mebel untuk keluarga tersebut menurut Sarif rata rata oleh pelanggan dengan membawa bahan kayu jati dan dikerjakan oleh Sarifudin dengan upah sebesar Rp.6juta sepaket hingga selesai. Jenis kayu yang disukai pelanggan diantaranya kayu jati merah dan jati putih serta kayu Mindi yang harga satu kubik mencapai Rp.3juta. Permintaan yang banyak dari pelanggan rumah tangga untuk pembuatan mebel keluarga dilakukan karena konsumen lebih menyukai pembuatan mebel menggunakan kayu dibandingkan membeli dari toko untuk mempercantik dekorasi interior rumah saat lebaran tiba.
Tingginya permintaan konsumen untuk membuat mebel diantaranya dari sekolah bahkan harus dikejar selesai pada tanggal 20 Juni mendatang untuk penyelesaian ratusan kursi siswa dan kursi guru. Proses penyelesaian kursi dilakukan setelah sebelumnya ratusan meja telah dibawa oleh pihak sekolah ke lokal sekolah yang memerlukan mebel baru menghadapi tahun ajaran baru.
“Pembuatan mebel untuk sekolah biasanya merupakan proyek pihak sekolah dan harus selesai sebelum liburan dengan asumsi saat tahun ajaran baru sudah bisa digunakan, untuk memenuhi target kami kerjakan hingga lembur malam hari karena jumlahnya cukup banyak,”terang Sarifudin.
Pesanan pembuatan mebel khusus untuk keperluan sekolah tingkat SMA tersebut diakui laki laki berputri satu tersebut justru datang dari wilayah kecamatan lain yakni Kecamatan Rajabasa. Ratusan mebel sekolah tersebut menurutnya harus selesai dalam waktu enam hari ke depan. Berbagai kendala dihadapi olehnya diantaranya ketersediaan kayu jenis jati kelas menengah yang dibelinya dari panglong terdekat. Rata rata kayu jati kelas menengah dengan harga 1 kubik Rp3juta tersebut dibelinya dengan sistem mengangsur dan dibayar setelah proyek selesai karena pembayaran mebel akan dilakukan setelah semua mebel tersebut selesai dikirim.
“Modal terbatas menjadi kendala bagi kami tapi dengan masih adanya kepercayaan dari pelanggan dan juga banyak pesanan membuat pihak lain masih percaya meski bahan baku kayu kami beli dengan sistem bayar setengah terlebih dahulu,”ungkapnya.
Proyek pembuatan mebel sekolah berjumlah ratusan tersebut diakui Sarifudin diantaranya senilai Rp15juta hingga Rp20juta per paket. Saat ada rejeki bahkan proyek pembuatan mebel sekolah bisa mencapai nilai Rp20juta hingga Rp50juta. Uang sebanyak tersebut diantaranya digunakan untuk pembelian peralatan pemotongan, paku, dempul, kayu, biaya tagihan listrik dan upah karyawan. Sebagai pemilik usaha mebel dengan kegterbatasan fisik (disabilitas) akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2005 yang memaksa kaki kanannya diamputasi ia mengaku tetap optimis bisa mengerjakan berbagai pesanan mebel yang dipercayakan kepadanya.
Meski dengan keterbatasan fisik dan bekerja menggunakan dua tongkat, Sarif terus melakukan penyelesaian tugas mengerjakan pesanan mebel dari konsumen baik bersifat satuan maupun dalam jumlah banyak. Dukungan dari sang isteri membuat dirinya yang semula minder akhirnya tetap berusaha semaksimal mungkin menekuni pembuatan mebel tersebut.
Banyaknya pesanan pembuatan mebel bahkan diakui Sarif telah memberi lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dan pemuda yang ada di sekitarnya. Pengerjaan pendempulan, pengecatan serta pengangkutan bahkan dilakukan oleh tetangga yang juga memperoleh upah dari proses tersebut. Banjirnya pesanan pembuatan mebel tersebut menurutnya merupakan berkah selama bulan suci Ramadhan dan akan memberi uang tambahan untuk merayakan hari raya Idul Fitri 1437 Hijriyah.