KAMIS, 16 JUNI 2016
SURABAYA — Keinginannya begitu kuat untuk belajar, meski sudah lulus dari bangku perkuliahan S1 Akutansi di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Dian Harumi sesosok perempuan berwajah ayu dan mengenakan kerudung ini malah justru datang ke Amerika untuk bekerja. Tujuannya hanya satu, keluar dari zona nyaman di Indonesia.
Awal kedatangannya di Amerika tidak semudah yang dipikirkan oleh orang lain. Mengalami diskriminasi, jadi minoritas bahkan budaya yang berbeda memaksa Yeyen sapaan akrab Dian Harumi menjadi pribadi yang tangguh dan tak putus asa.
“Saat ini saya menjabat sebagai Community Manager untuk Google+,” jelasnya saat berkunjung ke UKWMS, Kamis (16/6/2016).
Alumni Jurusan Akuntansi Angkatan 2002 Fakultas Bisnis ini memulai karir sebagai product development specialist. Jadi ada beberapa feature di Google+ yang merupakan hasil riset dan analisis Yeyen bersama tim saat itu.
“Pekerjaan saya saat ini melingkupi business strategy, product management dan marketing analysis yang dasar-dasar ilmunya memang saya dapatkan dari pengalaman berkuliah di Jurusan Akuntansi UKWMS dulu,” ujarnya.
Mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Bisnis UKWMS tersebut juga menyampaikan, dalam berusaha mencapai kesuksesan orang harus berani gagal. Harus berani mengambil resiko kehilangan apa yang sudah dibangun dengan susah payah sebelumnya, menerima hinaan dan pelecehan.
“Sebagai keturunan Tionghoa dan Jawa Muslim, dari kecil saya sudah merasakan pengalaman di-bully. Saya pernah menangis saat dibilang ‘ular’, ‘sapi’, ‘cina’ karena penampilan dan kulit yang lebih terang dari kebanyakan teman-teman saya. Bahkan ada sahabat yang tidak mau lagi berteman dengan saya setelah tahu saya keturunan Tionghoa. Apa yang saya alami itu adalah diskriminasi yang saya alami di negeri sendiri, tetapi ada hikmahnya,” ungkapnya.
Pengalaman itu membuat Dian kuat menghadapi diskriminasi di Amerika. Ia berpendapat bahwa semakin dilawan, perlakuan diskriminasi itu akan semakin menjadi. Namun jika kita bisa menunjukkan dengan sikap dan perilaku yang benar, tidak pernah menyakiti orang lain secara sengaja atau melanggar aturan yang berlaku, maka orang lain akan melihat faktanya dan lambat laun menghargai kita apa adanya.
Dian lantas berbagi pengalamannya belajar disiplin dan pentingnya sikap toleransi dari keterlibatannya selama di organisasi kemahasiswaan. Selain itu juga tak lupa ia berpesan kepada adik tingkatnya.
“Jangan buang waktumu sedetik pun, masa depanmu ditentukan dari detik ini. Semua orang ingin sukses, pertanyaannya seberapa besar kamu menginginkannya? Kesuksesan itu bisa dicapai, tapi harus melewati anak tangga yang banyak pakunya,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).