SABTU, 25 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Bendung Kahyangan, demikian warga Dusun Watu Murah, Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo menyebut sebuah bendungan tua yang menampung aliran air dua sungai dari puncak perbukitan menoreh. Bendungan itu sudah ada sejak zaman kerajaan, dan di zaman Belanda kemudian dibangun permanen.

Jika Bendung Kahyangan masih dikenal hingga kini, tidak lain karena kegigihan warga setempat, Mulyono, yang sejak tahun 2000 mengadakan acara rutin tahunan berupa selametan. Acara tersebut dikemasnya menjadi upacara adat kembul sewu dulur dan diselenggarakan di Bendung Kahyangan, sehingga bendungan irigasi tua tersebut bisa lestari.
Mulyono yang ditemui Sabtu (25/6/2016) mengatakan, impiannya terhadap Bendung Kahyangan itu adalah menghidupkan kembali bendungan tersebut sebagai saluran irigasi, agar bisa tetap mengaliri ribuan hektar sawah di sekitar bendungan di kala musim kemarau.
“Selama ini, Bendung Kahyangan hanya difungsikan di musim penghujan. Padahal, di musim hujan itu semua sawah sudah tercukupi kebutuhan airnya. Padahal, fungsi bendungan itu sebenarnya justru sebagai sumber pengairan di musim kemarau. Namun, akibat lama tidak terurus debit air bendungan mengecil, sehingga di musim kemarau tak bisa difungsikan,”sebutnya.
Menurut sejarahnya, jelas Mulyono, Bendung Kahyangan itu dibuat oleh nenek moyang setempat sebagai sumber air di musim kemarau. Saat itu, katanya, ada kisah yang menceritakan dua pepundhen atau tokoh dusun setempat, yang membuat bendungan sederhana dengan batu-batu.
Bendungan itu dibuat untuk mengalirkan pertemuan dua sungai agar bisa digunakan di saat musim kering. Lalu di zaman Belanda pada sekitar tahun 1905, bendungan itu dibuat permanen. Pintu airnya dibuat dari kayu jati dengan sistem ulir, sehingga untuk membukanya sangat mudah. Ada petugas pintu air yang saat itu digaji untuk membuka tutup pintu air di saat terjadi luapan air.
Seiring waktu yang berjalan, bendungan itu kian tidak terawat. Apalagi ketika dibangun bendungan baru di desa Kalibawang. Bendungan Kalibawang itu dibangun untuk mengairi ribuan hektar sawah yang ada di timur Kulonprogo. Bahkan, juga sampai ke daerah Srandakan di Kabupaten Bantul.
Bendungan Kalibawang yang dibangun manual di zaman Presiden Soekarno itu sebenarnya masih dibutuhkan untuk mengairi ribuan hektar sawah di barat Kulonprogo atau yang tidak teraliri air oleh Bendungan Kalibawang. Meski pernah diperbaiki, perbaikan di Bendung Kahyangan tidak maksimal. Bahkan, pintu air dari kayu jati diganti dengan besi yang justru semakin membuat sulit untuk membukanya.

Kini, Bendung Kahyangan memang masih berfungsi. Namun fungsi awalnya sebagai cadangan air di saat musim kemarau belum bisa dipulihkan. Menurut Mulyono, Bendung Kahyangan itu pada zamannya mampu mengairi sekitar 9.000 Hektar sawah di musim kering.
“Sekarang, Bendung Kahyangan itu sama sekali tidak bisa diandalkan di saat musim kering”, ujarnya.
[Koko Triarko]