SENIN, 6 JUNI 2016
LAMPUNG — Bulan puasa menjadi berkah khusus bagi para penjuala makanan untuk berbuka puasa atau dikenal dengan takjil, tak terkecuali di wilayah Lampung Selatan. Sebagian orang yang biasanya pada siang hari berjualan di kios bahkan menggunakan beberapa lokasi strategis, diantaranya sepanjang Jalan Kusuma Bangsa Kalianda, lapangan Korpri di Kalianda, lokasi depan Menara Siger persis di samping pasar Bakauheni serta beberapa lokasi strategis lain yang dipergunakan sebagai lokasi berjualan menu berbuka puasa bagi masyarakat.

Para penjual menu buka puasa tersebut rata rata melakukan penjualan menu buka puasa pada sore hari menjelang adzan maghrib saat warga melakukan ngabuburit atau melakukan aktifitas sore hari dengan berjalan jalan menggunakan kendaraan mengisi waktu menjelang membatalkan puasa.
Masyarakat Kecamatan Bakauheni, Kecamatan Kalianda dan beberapa tempat lain di Lampung pada hari pertama bulan suci Ramadhan (6/6/2016) bahkan mulai berjualan menu buka puasa dengan menu yang beragam. Menu tersebut diantaranya es buah, kelapa muda, kolang kaling, cendol, kue kue basah, gorengan, kue kering dan beberapa makanan dan minuman yang cukup menyegarkan untuk disantap saat berbuka puasa.
Pemandangan para penjual takjil tersebut dapat terlihat di titik titik keramaian dan umumnya sudah seperti menjadi tradisi lokasi yang pada tahun sebelumnya juga digunakan sebagai lokasi berjualan takjil.
“Lokasi sekitar Menara Siger merupakan titik pertemuan jalan lintas Timur dan Lintas Tengah sehingga cukup strategis dan menjadi lokasi favorit para pedagang setiap tahunnya berjualan di sini, terutama disukai masyarakat yang menanti senja di Menara Siger,”ungkap Santi (34) salah satu pedagang takjil yang berjualan di depan Menara Siger, Lampung Selatan kepada Cendana News, Senin (6/6/2015).
Pemandangan serupa biasa terjadi di jalan protokol Kalianda tepatnya di pertigaan pasar Inpres Kalianda. Ratusan penjual takjil menjajakan berbagai jenis makanan tersebut dengan menggunakan meja dadakan dan akan diangkat jika selesai maghrib. Jalan menjadi ramai oleh pedagang dan pembeli yang akan berbuka puasa.
Memasuki puasa para pedagang tersebut mengaku bisa menjual dua kali lipat jumlahnya dari hari biasa mereka berjualan, dan keuntungan yang diperoleh pun cukup lumayan. Dengan harga yang cukup terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
“Saya biasanya sehari menjual sekitar 150 bungkus es cendol, lumayan kalau bulan puasa selalu ramai apalagi sudah menjelang sore untuk berbuka puasa,”kata salah satu pedagang di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam Kalianda.
Para pembeli ini tidak hanya masyarakat biasa, para pekerja kantoran, pulang kerja mereka langsung berburu makanan untuk persiapan berbuka puasa.
Indah Aini, salah satu pembeli mengungkapkan sebagai salah satu pegawai swasta di kota Kalianda yang bekerja dari pagi hingga sore ia memilih membeli makanan yang sudah masak karena lebih praktis.
“Saya pulang kerja sengaja langsung datang ke sini untuk beli makanan persiapan berbuka puasa nanti, karena kebetulan saya tidak sempat untuk memasak, jadi saya sengaja mampir untuk membeli di sini kan sudah lengkap, selain ada makanan juga tersedia minuman untuk berbuka puasa dan harganya terjangkau,”ungkap Aini.
Banyaknya masyarakat yang menjalankan ibadah puasa dengan membeli menu takjil di tepi jalanan membuat kaum ibu ibu dari kelompok Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) di Kecamatan Bakauheni ikut menyediakan menu takjil. Kaum ibu yang menyediakan makanan berbuka puasa tersebut sengaja menyediakan menu menu olahan yang segar dan dipastikan menyehatkan.
Salah satu wanita anggota UPGK, Sarti (30) mengungkapkan bersama kaum ibu lainnya sengaja tak menjual makanan berbuka puasa yang mengandung pewarna buatan. Ia mengungkapkan beberapa pedagang bisa saja nakal menjual makanan mengandung pewarna berbahaya yaitu pewarna tekstil untuk membuat dagangannya lebih menarik.
“Ya kita tak bisa seudzon cuma demi menjaga kesehatan dan melindungi konsumen maka kaum ibu membuat makanan yang benar benar menghindari zat pewarna,”ungkap Sarti.

Beberapa makananan potensial menggunakan pewarna diantaranya sirup yang dipakai untuk dicampur dengan es buah. Karenanya kaum ibu tersebut menyiapkan dagangan dengan menu berbahan dasar ikan serta buah segar.
“Menu yang kami siapkan diantaranya pepes ikan kembung, ikan bakar, es kelapa muda yang bisa dipesan langsung dipecah di tempat, jadi pembeli tahu proses pembuatannya,”ungkap Sarti.
Sarti dan ibu ibu lain pun mengaku masa puasa menjadi masa untuk saling berbagi dan bukan sekedar mencari keuntungan. Ia mengaku penjualan dari makanan berbuka puasa tersebut digunakan untuk kas kelompok dan juga untuk kepentingan anggota.
“Kami kaum ibu sengaja membuat makanan dan minuman yang sudah ditentukan dan dijual di lokasi yang kami pilih nanti hasilnya kita kumpulkan, sementara yang lain memasok barang dagangan serta ada yang berjualan,”ungkap Sarti.
Ia juga mengharapkan para pembeli agar benar benar berhati hati saat membeli takjil maupun kue lebaran. Kekompakan kaum ibu di Bakauheni dilakukan selain menyambut bulan puasa sebagai bentuk rasa syukur desa tersebut yang merayakan ulang tahun ke-127.
[Henk Widi]