Winfridus, Pelopor Ketahanan Pangan dengan Konsep Pertanian Berkelanjutan

JUMAT, 6 MEI 2016

MAUMERE — Nama Carolus Winfridus Keupung terpilih menjadi salah satu tokoh yang mendapat penghargaan dari pemerintah kabupaten Sikka saat peringatan Hari Pangan Sedunia di Maumere tanggal 03 Desember 2015. 
Carolus Winfridus Keupung saat menerima penghargaan sebagai Pelopor Ketahanan Pangan
Win sapaan akrab aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) kelahiran Lela, 11 Maret 1969 ini diganjar pengharaan Pelopor Ketahanan Pangan. Meski malang melintang mendampingi masyarakat, petani akhirnya menjadi fokus dampingannya.
Saat ditemui  Cendana News, Jumat (6/52016 ) di kantor WahanaTani Mandiri (WTM) dirinya banyak berceritera mengenai konsep pertanian dan apa yang harus dilakukan petani. Bagi alumni SPMA Boawae dan Politeknik Pertanian Kupang ini, usaha tani petani harus dibenahi. 
Petani sebut mantan Direktur WALHI NTT tahun 2008 sampai 2011, selama ini ada dan berkebun tapi otak dan pikiran mereka tidak berada di kebun tapi berada di tempat lain. Petani lanjut Win tidak fokus bertani dan mengejar kesuksesan.
Situasi kebun dan iklim tidak mendukung petani dalam mendapatkan hasil produksi yang baik sehingga menjadikan petani tidak bersemangat mengolah areal kebun dan sawah mereka. Apalagi banyak warga di Sikka dan Flores menenuki profesi petani karena terpaksa.
Untuk itu tegas Direktur WTM sejak tahun 1998 ini,  usaha pertama yang harus dilakukan yakni menarik pemikiran petani yang selama ini kemana-mana agar fokus untuk kembali ke kebun.Ini yang pertama sebut Win dilakukan pendamping petani.
“Semua petani harus mempunyai mimpi. Mimpi terhadap usaha tani. Perencanaan petani tidak dalam suatu perencanaan yang luar biasa. Petani cuma menggambarkan kebun awalnya sekarang seperti apa dan kebun masa depan atau kebun impiannya, “ ujar mantan Direktur YAPERA ini bersemangat.
Dicontohkan Wim, awalnya petani memiliki berapa pohon kemiri, ke depannya seperti kemiri harus berapa pohon, kakao harus ada berapa pohon atau tanaman lainnya. Itu yang harus ada dalam perencanaan petani. 
Berdasarkan perencanaan petani tersebut lanjut pendiri YLPM Bang wita tahun 2000 ini, petani kemudian digiring masuk ke perencanaan kelompok dan isu program WTM masuk ke dalam perencanaan mereka. 
 “Kawan – kawan petani ini kan jika dilihat dari apa yang kami dampingi  selama ini mereka mempunyai kemampuan yang cukup, potensi yang ada luar biasa.Tapi persoalannya mereka tidak difasilitasi secara baik, “ tegasnya.
Mengembangkan Isu Organik
Di WTM papar Wim, pihaknya setelah memfasilitasi petani baru menemukan bahwa pada kawan – kawan petani ini sebenarnya yang paling utama dilakukan pendamping adalah bagaimana memotivasi mereka untuk bisa memberi jalan keluar. 
Sehingga walau tidak ada dukungan benih, bibit dan bantuan yang dibawa petani bisa menerima dengan baik dan bersemangat. Intinya pola pikir petani harus berubah dahulu.
Memang ada kelompok petani yang memikirkan tentang bantuan dan mulai mundur teratur dan tidak mengikuti pendampingan yang dilakukan WTM. Tetapi dari sekitar 97 kelompok tani yang didampingi WTM hanya  ada dua atau tiga kelompok yang memikirkan tentang bantuan.
Meski WTM tidak memberikan bantuan sambungnya, tapi petani terus berdatangan dan minta untuk didampingi. Ini pertanda mereka haus akan informasi. Hal – hal ini sesal Win tidak diperankan oleh kawan – kawan dari petugas penyuluh lapangan  (PPL). 
“Mereka boleh beteriak seribu kali tapi petani tetap sama saja, tidak akan ada perubahan perilaku karena memang tidak memberi solusi. Ini juga yang kami sampaikan kepada teman – teman LSM lain agar kalau mendampingi petani harus bisa memberi solusi jangan sekedar datang dan bawa bantuan,“ tuturnya.
Dalam programnya Wahana Tani Mandiri urai Win menggali potensi yang dimiliki petani dan dimaksimalkan. Pertama bahwa petani punya lahan dan teknologi lokal, itu yang WTM angkat, didiskusikan dan diimplementasikan dari teknologi yang ada. Sehingga semangat yang ada dan dikembangkan di WTM sebut Win yakni semangat organik. Dengan bertani secara organik sambungnya tanah tetap terjaga kesuburannya dan hasil kebun pun bebas bahan kimia.
Ketua Alumni Politani Kupang Kabupaten Sikka sejak tahun 20011 ini mengatakan, banyak petani yang kebingungan karena WTM mengembangkan isu organik sementara pemerintah lewat dinas pertanian dan perkebunan masih dengan isu kimia.
Hal ini ungkap Win membuat petani di WTM diajarkan untuk mulai melakukan penelitian sejak tahun 1995 sampai tahun 2000 terkait apakah organik lebih baik dari kimia. Pembuktian oleh petani sendiri ini sangat penting.
Di tahun tersebut beber Win, WTM memfasilitasi petani melakukan penelitian.Semua staff juga melakukan penelitian dan secara lembaga juga melakukan penelitian. Dari semua hasil penelitian itu, beber Win didapat hasil bahwa pertanian organik lebih baik daripada pertanian kimiawi.
Makanya setelah itu WTM membuang bahan kimia dan petani didorong bertani secara organik dan semua gudang gabungan kelompok tani binaan WTM kosong dari bahan kimia.
Padahal sebelumnya, WTM merupakan salah satu distributor produk pertanian berbahan kimia terbesar di Sikka. Meski sulit namun WTM tetap konsen dengan pertanian organik.
“ Ini yang membuat kami juga sering mengalami benturan dengan kawan – kawan PPL dari dinas yang mengatakan bahwa pertanian kimiawi lebih baik atau organik itu rumit. Sebenarnya pengembangan pertanian organik sangat sederhana sekali dan sangat menguntungkan “ tegasnya.

Pertanian Berkelanjutan
Konsep pertanian berkelanjutan papar direktur WTM ini dianut karena ada sistem pertanian yang tidak berkelanjutan. Pertanian kimiawi bagi Win bukan merupakan pertanian berkelanjutan karena hampir 90 persen bergantung kepada pihak luar. 
Misalnya pupuk contohnya, petani bergantung kepada pabrik pupuk, agen pupuk, kapal pupuk dan toko penjual pupuk. Jika salah satu mengalami kendala maka petani akan mengalami kesusahan. Tanaman pertanian tidak bisa dipupuk dan disemprot pestisida pembasmi hama.
Di Wahana Tani Mandiri, petani diajarkan bahwa semua sarana produksi harus berada di dalam kebun. Pupuk dan pestisida semuanya harus berada di dalam kebun. Ada tanaman untuk penyubur tanah, ada tanaman untuk pestisida, semuanya harus disiapkan di dalam kebun itu.
Dengan demikian, petani tidak bergantung kepada pihak luar bahkan bergantung kepada kebun di sebelahnya. Pihaknya memberi semangat kepada petani agar jangan bergantung kepada siapapun, baik itu kepada pemerintah, LSM atau siapapun.
Yang jadi rumit sekarang ini, ketergantungan petani kepada pihak luar sangat tinggi sekali. Jika tidak ada ketergantungan kepada pihak luar, usaha tani akan berkelanjutan. 
“Petani harus belajar sampai mandiri. Kalau kemampuan teknis sudah bagus, semua sarana produksi susah tersedia, kemampuan berjejaringan juga sudah ada, petani tidak perlu lagi pusing dan bergantung pada pihak lain, “ pungkas Win lantang.[Ebed De Rosary]
Lihat juga...