LAMPUNG — Warga di Kecamatan Sragi dan Kecamatan Ketapang di Kabupaten Lampung mengeluhkan kondisi jaringan atau sinyal telekomunikasi yang ada di wilayah tersebut. Kondisi tersebut menyebabkan warga kesulitan dalam mengakses komunikasi terutama internet menggunakan gawai berupa telepon atau komputer.
Salah satu warga Desa Berundung Kecamatan Ketapang, Erwinsyah (34) mengungkapkan, lemahnya kondisi sinyal milik beberapa provider terutama provider XL, M3 milik Indosat, Three, serta provider Telkomsel tidak merata. Selain tidak bisa menikmati sinyal secara berkelanjutan, pada saat terjadi listrik PLN mati sinyal pun ikut mati.
“Jika untuk komunikasi telepon dan berkirim pesan normal tapi untuk menikmati paket data internet kami harus terpaksa berpindah ke kecamatan lain”ungkap Erwin yang merupakan tekhinsi alat alat elektronik terutama laptop di Desa Berundung kepada Cendana News, Senin (9/5/2016).
Sebagai tekhnisi elektronik yang memperbaiki kerusakan komputer, menginstal program dan berbagai kerusakan komputer ia mengaku sering mengalami keluhan tersebut dari pelanggan. Ia juga mengaku mengalami kesulitan saat pelanggan meminta untuk mengunduh aplikasi tertentu yang harus diunduh sementara kondisi sinyal provider sangat terbatas.
“Istilahnya sangat lelet dan kecepatan mengunduh pun sangat lambat sehingga daerah kami seperti terisolir dibanding daerah lain yang paket datanya sudah sangat cepat,”terangnya.
Salah satu faktor kemungkinan besar keberadaan Base Transceiver Station (BTS) di wilayah tersebut kurang diperhatikan. Selain itu kurangnya perhatian untuk penambahan BTS untuk kepentingan komunikasi warga.
Selain menyulitkan warga yang akan mengakses internet, akhirnya warga salah satunya Erwin memodifikasi alat penyerap sinyal terbuat dari wajan yang dimodifikasi dengan alat alat elektronik untuk bisa menangkap sinyal yang masih lemah di wilayah tersebut.
Ia mengaku membuat wajanbolic untuk memperkuat sinyal. Menurutnya wajan bolic merupakan sebuah antena yang terbuat dari bahan dasar wajan. Wajan bolic menurutnya merupakan versi keduanya dari antena grid, bedanya wajan bolic dengan antena grid hanya terletak pada bahan dan efisiensi harganya.
Antena grid / satelit seperti yang kita tahu, harganya sangatlah mahal, mungkin bisa 2 atau 3 juta-an. Sementara Wajan Bolic hanya membutuhkan biaya kurang dari 200.000. Dengan fungsinya yang hampir sama dengan antena grid, Wajan Bolic lebih efisien. Wajan Bolic merupakan antena reciever gelombang radio dengan frekuensi 2.4Ghz.
“Banyak warga terutama anak muda yang minta dibuatkan alat ini sehingga saya mendapat banyak pesanan untuk membuat perangkat ini dengan membawa peralatan yang dibutuhkan,”ungkapnya.
Ia mengaku tak mematok harga tertentu untuk membuat perangkat tersebut dan hanya meminta pelanggan menyediakan alat pelengkap seperti pipa pvc dan wajan yang masih baru. Berkat wajanbolic tersebut sebagian warga cukup terbantu dalam mengakses internet menggunakan smartphone dan komputer jinjing.