JUMAT, 6 MEI 2016
LOMBOK — Pada masyarakat moderen sekarang, terutama masyarakat perkotaan, selain pola hidup yang dijalani semakin individualis, dalam hal adat istiadat dan tradisi juga sudah hampir luntur dan dilupakan.

Sementara pada masyarakat pedesaan, kehidupan masyarakat masih sangat heterogen, penuh kebersamaan dan kekeluargaan, sementara dari sisi adat istiadat dan nilai kearifan lokal masih tetap dipegang teguh dalam kehidupan di tengah masyarakat.
Salah satu tradisi yang masih tetap dipegang teguh masyarakat pedesaan adalah tradisi begibung (makan bersama) dalam satu wadah atau nampan berisi makanan untuk dimakan beramai – ramai antara empat sampai lima orang.
Tradisi begibung pada masyarakat pedesaan biasa akan bisa dijumpai pada acara perayaan hari besar islam atau acara gawean (pesta) muda – mudi yang menikah pada masyarakat pedesaan.
“Begibung pada masyarakat pedesaan, tidak sekedar acara tradisi berkumpul dan makan bersama, tapi juga mengandung makna filosofis, bagaimana masih kuatnya ikatan kebersamaan dan persadaraan di antara masyarakat,” kata tokoh masyarakat Kabupaten Lombok Tengah, Safarudin kepada Cendana News, Jum’at (6/5/2016).
Ia menjelaskan, acara begibung paling sering dilakukan warga di acara begawe, bisanya begibung akan dilakukan setelah warga membantu mengerjakan segala sesuatu yang dibutuhkan, seperti menguliti kelapa tua untuk santan memasak seekor. Sapi yang disembelih, mengiris pohon pisang untuk dijadikan sayur dalam jumlah besar dan mengiris bawang bagi kaum ibu-ibu.
Semua warga satu kampung yang datang dan ikut membantu acara begawe mulai dari anak – anak, tua muda berbaur jadi satu berdasarkan kelompok umur, berkumpul di bawah taring (tenda) begibung menggunakan nampan besar.
Dalam satu nampan berisi nasi dan sayur menggunakan piring, bisanya akan dimakan oleh dua sampai empat orang warga, tidak ada rasa canggung atau malu, semua larut menikmati hidangan dalam kebersamaan.
“Begibung menjadi perekat sosial di antara warga, begibung mengajarkan akan indahnya kebersamaan dan persaudaraan di antara warga, tanpa membedakan,” tutupnya.[Turmuzi]